BMKG: Bediding Jatim Berlanjut Hingga Agustus, Suhu 15°C

Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur belakangan ini merasakan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, yaitu...

Jul 12, 2026 - 06:45
0 0
BMKG: Bediding Jatim Berlanjut Hingga Agustus, Suhu 15°C

Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur belakangan ini merasakan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, yaitu kondisi udara yang terasa lebih dingin dari biasanya ketika memasuki puncak musim kemarau. Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di beberapa daerah tercatat menyentuh angka 15 derajat Celsius, membuat warga harus menambah lapisan pakaian atau menghangatkan diri dengan selimut tebal.

BMKG memastikan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar terjadi saat periode kemarau berlangsung. Penurunan suhu ini tidak hanya dialami oleh Jawa Timur, tetapi juga sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: sampai kapan fenomena bediding ini akan berlangsung? BMKG memberikan penjelasan bahwa pendinginan udara ini diperkirakan masih akan terjadi setidaknya hingga bulan Agustus mendatang.

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding merupakan istilah lokal yang digunakan untuk menggambarkan kondisi suhu udara yang lebih dingin dari biasanya di tengah musim kemarau. Secara meteorologis, fenomena ini terjadi akibat kombinasi dari minimnya tutupan awan dan rendahnya kandungan uap air di atmosfer. Saat langit cerah tanpa awan, panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari akan terlepas kembali ke angkasa dengan cepat pada malam hari. Proses ini dikenal sebagai pendinginan radiatif, yang menyebabkan suhu udara turun drastis setelah matahari terbenam.

Ibarat seperti rumah tanpa atap pada malam hari, panas yang tersimpan di dalam akan hilang begitu saja ke luar. Begitu pula bumi yang kehilangan panasnya tanpa penghalang awan. Kondisi ini semakin terasa di dataran tinggi atau wilayah pegunungan, di mana suhu bisa turun lebih rendah lagi. Di beberapa titik di Jawa Timur, terutama di kawasan seperti Batu, Malang, dan lereng Bromo, suhu pagi hari bisa menyentuh di bawah 15 derajat Celsius.

BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini juga diperkuat oleh aliran massa udara kering dari belahan bumi selatan atau yang sering disebut monsun Australia. Angin timuran yang bertiup membawa udara dingin dan kering dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin. Kombinasi antara langit cerah, kelembapan rendah, dan angin kering inilah yang membuat udara terasa begitu menusuk saat dini hari.

Durasi dan Prediksi BMKG Hingga Agustus

Melalui pemantauan dinamika atmosfer terkini, BMKG menyatakan bahwa puncak musim kemarau di Pulau Jawa umumnya terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Pada periode inilah intensitas pendinginan radiatif mencapai titik maksimal, sehingga suhu minimum harian seringkali mencapai angka terendah. Berdasarkan analisis cuaca, bediding di Jawa Timur diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga akhir Agustus, bahkan bisa sedikit bergeser memasuki awal September jika kondisi atmosfer tetap kering.

Meskipun suhu siang hari di musim kemarau tetap tinggi—seringkali di atas 30 derajat Celsius—rentang suhu harian (diurnal) yang lebar menjadi ciri khas bediding. Perbedaan suhu siang dan malam bisa mencapai 15 derajat, menciptakan kontras yang cukup mencolok. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir, karena fenomena ini adalah bagian dari siklus iklim tahunan yang normal. Namun, informasi durasi ini tetap penting bagi sektor pertanian dan kesehatan agar dapat melakukan antisipasi.

Menariknya, meski disebut sebagai fenormalan, catatan historis BMKG menunjukkan bahwa suhu minimum pada musim kemarau di beberapa stasiun pengamatan di Jawa Timur bisa sangat bervariasi. Tahun ini, suhu minimum 15 derajat yang tercatat masih tergolong dalam batas kewajaran, belum menyentuh rekor terendah yang pernah terjadi beberapa dekade lalu.

Dampak dan Imbauan bagi Masyarakat

Penurunan suhu yang mendadak, khususnya pada malam dan pagi hari, menimbulkan sejumlah dampak bagi kehidupan sehari-hari. Bagi warga yang tidak terbiasa dengan udara dingin, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, seperti flu, batuk, atau bahkan hipotermia ringan pada kelompok rentan seperti balita dan lansia. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur turut mengeluarkan imbauan agar warga menjaga kehangatan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, dan tetap terhidrasi.

Di sektor pertanian, bediding juga menjadi perhatian tersendiri. Suhu rendah pada malam hari berpotensi menyebabkan embun beku (frost) di dataran tinggi yang dapat merusak tanaman sayuran dan hortikultura. Beberapa petani di kawasan Batu dan Pujon telah menerapkan teknik penyiraman malam atau menutup tanaman dengan plastik untuk mengurangi dampak dingin berlebih. BMKG bekerja sama dengan penyuluh pertanian memberikan informasi suhu harian agar petani bisa merencanakan langkah mitigasi.

Warga yang beraktivitas di luar ruangan pada dini hari, seperti pedagang pasar, pengemudi ojek, dan pekerja kebersihan, juga disarankan untuk menggunakan jaket tebal, sarung tangan, dan penutup kepala. Berbeda dengan cuaca dingin pada musim hujan, bediding cenderung kering dan berangin, sehingga efek dingin terasa lebih menusuk pada kulit yang terbuka.

BMKG terus memantau pergerakan suhu dan akan memberikan pembaruan jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diimbau untuk mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG dan tidak terpengaruh isu yang tidak berdasar terkait fenomena cuaca. Dengan pemahaman yang baik, warga dapat menjalani musim kemarau ini secara lebih nyaman dan aman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User