Bantah Mundur dari Kabinet, Pratikno Pimpin Percepatan Pemadaman Karhutla Bromo

Ketika api menjalar di kawasan konservasi, dampaknya tidak berhenti di pagar taman nasional. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan kualitas udara hingga ratusan kilometer, menggan...

Bantah Mundur dari Kabinet, Pratikno Pimpin Percepatan Pemadaman Karhutla Bromo

Ketika api menjalar di kawasan konservasi, dampaknya tidak berhenti di pagar taman nasional. Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan kualitas udara hingga ratusan kilometer, mengganggu kesehatan masyarakat, memaksa penutupan destinasi wisata, dan merusak ekosistem yang terbentuk selama ribuan tahun. Karena itu, kepastian mengenai siapa yang memimpin penanganan bencana menjadi hal penting — dan kabar bohong tentang pejabat yang menanganinya berpotensi mengikis kepercayaan publik.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno membantah kabar yang menyebut dirinya jatuh sakit hingga mundur dari Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan sedang berada di lapangan untuk menjalankan tugas percepatan pemadaman karhutla yang melanda Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Alih-alih beristirahat karena sakit, sang menteri justru turun langsung mengoordinasikan respons darurat di salah satu kawasan konservasi paling ikonik di Indonesia.

Teknologi di Garis Depan Pemadaman Kebakaran

Pemadaman karhutla modern tidak lagi sekadar mengandalkan tenaga manusia dan cangkul. Ibarat seperti perang melawan musuh yang sulit diprediksi, petugas kini dibantu mata-mata di langit. Satelit pemantau titik panas (hotspot) — termasuk data dari satelit Terra dan Aqua milik NASA (National Aeronautics and Space Administration/badan antariksa Amerika Serikat) serta satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration/badan riset kelautan dan atmosfer Amerika Serikat) — memindai suhu permukaan bumi dan menandai lokasi yang berpotensi terbakar. Data tersebut kemudian diolah melalui platform pemantauan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sehingga brigade pemadam seperti Manggala Agni dapat bergerak sebelum api membesar.

Di lapangan, implementasi teknologi berlanjut melalui helikopter pengebom air (water bombing), drone pengintai berkamera termal untuk memetakan sebaran api di medan berat, hingga Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) — upaya menaburkan bahan semai ke awan agar hujan turun lebih cepat di lokasi kebakaran. Pendekatan deep tech semacam ini memangkas waktu respons dari hitungan hari menjadi jam, sebuah lompatan efisiensi yang krusial mengingat api di lahan kering dapat menyebar lebih cepat dari kecepatan lari manusia.

Mengapa Bromo Tengger Semeru Begitu Penting

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru membentang seluas sekitar 50.276 hektare melintasi empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Di dalamnya berdiri Gunung Semeru, atap Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, serta kaldera lautan pasir dan padang savana yang menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ketika karhutla melanda kawasan ini — seperti insiden besar yang membakar padang savana Bukit Teletubbies pada September 2023 — kerugiannya berlapis. Dari sisi ekologi, habitat flora dan fauna endemik rusak dan pemulihannya memakan waktu bertahun-tahun. Dari sisi ekonomi, penutupan jalur wisata mematikan mata pencarian warga lokal, mulai dari penyedia jasa jip, ojek, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Inilah alasan percepatan pemadaman yang dikoordinasikan langsung dari level kementerian menjadi sinyal bahwa pemerintah menaruh perhatian serius pada perlindungan ekosistem sekaligus ekonomi rakyat.

Disinformasi Pejabat di Era Digital

Kabar bohong mengenai kondisi kesehatan dan pengunduran diri pejabat publik bukan fenomena baru, tetapi penyebarannya kian cepat berkat media sosial. Ibarat api karhutla itu sendiri, disinformasi menjalar pesat di lahan kering berupa ruang digital yang minim verifikasi. Disrupsi informasi semacam ini diperparah oleh pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) yang memungkinkan pembuatan konten palsu semakin sulit dibedakan dari aslinya.

Sejumlah penelitian menunjukkan berita palsu menyebar lebih jauh dan lebih cepat daripada klarifikasinya. Karena itu, respons cepat berupa penegasan langsung dari pejabat bersangkutan — disertai bukti kehadiran nyata di lapangan — menjadi cara paling efektif memadamkan hoaks sebelum membesar. Publik pun diimbau memeriksa ulang setiap informasi melalui kanal resmi pemerintah sebelum membagikannya kepada orang lain.

Arah Kebijakan: Dari Respons Menuju Pencegahan

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya memadamkan api, tetapi mencegahnya menyala sama sekali. Pendekatan machine learning — cabang AI yang memungkinkan komputer belajar dari data historis — mulai diterapkan untuk memprediksi wilayah rawan kebakaran berdasarkan pola cuaca, kelembapan tanah, dan aktivitas manusia. Algoritma semacam ini memungkinkan aparat menempatkan sumber daya di titik paling rawan jauh sebelum puncak musim kemarau tiba.

Kolaborasi lintas lembaga — kementerian, pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga masyarakat peduli api — menjadi fondasi ekosistem penanggulangan bencana yang tangguh. Inovasi teknologi hanya akan efektif bila ditopang koordinasi manusia yang solid. Penegasan Pratikno bahwa ia aktif bertugas di lapangan mengirim pesan ganda kepada publik: kabinet tetap bekerja penuh, dan pemerintah terus mengerahkan sumber daya terbaik untuk menjaga salah satu paru-paru Jawa Timur itu tetap hijau.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User