Ilham Azikin Pimpin Transformasi Bantaeng Lewat Revolusi Pendidikan dan Kesehatan
<h2>Ilham Azikin Pimpin Transformasi Bantaeng Lewat Revolusi Pendidikan dan Kesehatan</h2> <p>Ilham Azikin resmi menjabat sebagai Bupati Bantaeng periode 2018–2023 setelah memenangkan Pilkada dan dilantik pada 26 September 2018. Ia kembali terpilih u
Ilham Azikin Pimpin Transformasi Bantaeng Lewat Revolusi Pendidikan dan Kesehatan
Ilham Azikin resmi menjabat sebagai Bupati Bantaeng periode 2018–2023 setelah memenangkan Pilkada dan dilantik pada 26 September 2018. Ia kembali terpilih untuk periode kedua pada Pilkada Serentak 2024, memperkuat mandatnya untuk melanjutkan pembangunan di kabupaten yang terletak di pesisir selatan Sulawesi Selatan ini. Berlatar belakang birokrat profesional, Ilham membangun reputasi sebagai pemimpin teknokratis yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Profil dan Latar Belakang
Ilham Azikin menamatkan pendidikan Sarjana di Universitas Hasanuddin Makassar sebelum melanjutkan studi Magister Administrasi Publik di universitas yang sama. Sebagian besar kariernya dihabiskan sebagai birokrat di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, di mana ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Kepala Biro Organisasi. Pengalaman panjang di birokrasi memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola pemerintahan dan perencanaan pembangunan daerah. Secara politik, Ilham berafiliasi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai yang mengusungnya dalam kontestasi politik di Bantaeng. Dukungan koalisi partai yang solid memberinya stabilitas politik selama menjalankan roda pemerintahan.
Program Unggulan dan Kinerja
Revolusi Pendidikan "Smart and Green Bantaeng" menjadi program paling menonjol selama kepemimpinan Ilham Azikin. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan fisik sekolah, tetapi juga transformasi kualitas pembelajaran berbasis digital. Salah satu hasil konkret yang dicatat adalah peningkatan signifikan angka partisipasi sekolah menengah yang melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Untuk memastikan akses pendidikan merata, Ilham meluncurkan program Mobil Belajar (Mole) yang menjangkau desa-desa pelosok dengan konektivitas internet dan perangkat belajar. Data Dinas Pendidikan Bantaeng menunjukkan capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA sedehana tembus di kisaran 92 persen pada tahun 2023, naik signifikan dari periode sebelumnya.
Program Jaminan Kesehatan Universal (UHC) Berbasis Lumbung Sosial menjadi pilar kedua yang membanggakan. Pemerintahan Ilham Azikin mencapai predikat Universal Health Coverage (UHC) dari BPJS Kesehatan dengan cakupan lebih dari 96 persen penduduk Bantaeng memiliki jaminan kesehatan. Ini bukan sekadar pencapaian administratif, karena biaya iuran puluhan ribu warga ditanggung penuh melalui kebijakan subsidi silang yang melibatkan APBD, dana desa, dan pendapatan BUMDes. Di sektor pencegahan stunting, Ilham menerapkan pendekatan gotong royong "Balla Kipara" (Rumah Angkat Gizi Anak) yang berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 32,5 persen turun signifikan mendekati angka 19 persen dalam kurun lima tahun pertama pemerintahannya. Model ini kemudian direplikasi oleh kabupaten lain di Sulawesi Selatan.
Di bidang pelayanan publik, Ilham juga menggulirkan program Mall Pelayanan Publik (MPP) yang meraih penghargaan dari Kemenpan-RB. Inovasi unggulan lainnya adalah Bantuan Hukum Gratis bagi masyarakat miskin dan Penyederhanaan Birokrasi melalui digitalisasi perizinan. Ilham mengklaim waktu pengurusan perizinan dasar terpangkas dari hitungan hari menjadi hanya beberapa jam melalui aplikasi "Sipakatau".
Kontroversi dan Tantangan
Meski menuai banyak pujian di bidang pengembangan manusia, pemerintahan Ilham Azikin tidak sepi dari kritik. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah lambatnya pembangunan infrastruktur jalan poros desa dan konektivitas antarkecamatan di wilayah pegunungan. Sejumlah LSM lokal mengkritisi bahwa ketimpangan antara wilayah kota Bantaeng yang tertata rapi dengan desa-desa di kaki Gunung Lompobattang masih sangat kontras. Isu lain yang mencuat adalah pengelolaan tambak udang Vaname skala besar di pesisir. Pemerintahan Ilham dikritik karena dianggap terlalu memberikan kemudahan bagi investor besar, sementara petambak tradisional kecil mulai terpinggirkan akibat alih fungsi lahan dan limbah. Pada periode jabatan pertamanya, ia juga sempat diterpa isu politik terkait kedekatan dinasti politik lokal yang membayangi independensi pengambilan keputusan di internal birokrasi, meskipun tidak pernah terbukti secara hukum. Dalam konteks penanganan pengangguran, meski IPM naik, lapangan kerja berkualitas dari sektor formal masih menjadi pekerjaan rumah yang berat karena Bantaeng belum memiliki industri padat karya yang masif.
Penilaian dan Prospek
Secara objektif, Bupati Ilham Azikin adalah tipikal pemimpin daerah dengan orientasi birokratis yang kuat dan sangat metodis dalam mengeksekusi program prioritas. Model kepemimpinannya tidak populis, namun dampaknya terukur secara statistik—terutama dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bantaeng yang mencapai 72,01 pada tahun 2024 (BPS), naik konsisten setiap tahunnya dan menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan selatan Sulawesi. Kekuatan Ilham terletak pada kemampuannya mengkapitalisasi jaringan birokrasi provinsi untuk mengalirkan bantuan stimulan ke Bantaeng, serta kepiawaiannya mengintegrasikan dana pusat, provinsi, dan desa dalam satu skema pembangunan kolaboratif. Prospek pada periode keduanya akan diuji oleh kemampuannya membangun kemandirian ekonomi pascatransformasi SDM. Jika Ilham mampu mendorong hilirisasi pertanian dan perikanan serta memperbaiki distribusi infrastruktur, ia memiliki potensi untuk meninggalkan warisan yang lebih seimbang antara pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Suksesi birokrasi dan regenerasi kader partai juga menjadi pekerjaan rumah politis yang akan menentukan seberapa berkelanjutan program-programnya setelah masa jabatannya berakhir pada 2029 mendatang.
Comments (0)