Teknologi

Bank Sampah Putri Nyale Jaga Kebersihan Kawasan Wisata Mandalika

Ketika gelaran balap kelas dunia digelar di Lombok, sorotan publik hampir selalu jatuh pada adu cepat di lintasan. Padahal, ada persoalan yang jauh lebih membumi dan dampaknya langsung dirasakan warga...

Bank Sampah Putri Nyale Jaga Kebersihan Kawasan Wisata Mandalika

Ketika gelaran balap kelas dunia digelar di Lombok, sorotan publik hampir selalu jatuh pada adu cepat di lintasan. Padahal, ada persoalan yang jauh lebih membumi dan dampaknya langsung dirasakan warga sekitar, yaitu lonjakan sampah yang datang dalam hitungan hari. Inilah alasan kehadiran sebuah bank sampah di Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi penting. Lewat program yang dijalankan bersama PT Pertamina melalui Bank Sampah Putri Nyale, pengelolaan sampah di kawasan wisata Mandalika tidak lagi berhenti pada urusan kebersihan sesaat, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang menopang pariwisata berkelanjutan.

Mengapa Persoalan Sampah Menjadi Krusial di Mandalika

Mandalika adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dirancang sebagai mesin pertumbuhan baru bagi NTB. Di dalamnya berdiri sirkuit jalan raya sepanjang sekitar 4,3 kilometer dengan 17 tikungan, yang sejak 2022 rutin menjadi tuan rumah ajang internasional seperti MotoGP dan World Superbike. Setiap kali event digelar, jumlah manusia di kawasan ini bisa berlipat berkali-kali dibanding hari biasa. Ibarat seperti sebuah desa kecil yang tiba-tiba berubah menjadi kota selama sepekan, sistem kebersihannya pun harus siap menerima beban yang jauh di atas kapasitas normal.

Tanpa pengelolaan yang rapi, sampah dari area penonton, tenant kuliner, hingga jalan lingkungan bisa berakhir menumpuk, tersapu ke pesisir, atau dibakar sembarangan. Dampaknya bukan hanya soal estetika. Citra destinasi wisata, kesehatan warga, dan kualitas lingkungan pesisir yang menjadi andalan Lombok semuanya ikut dipertaruhkan.

Bagaimana Bank Sampah Putri Nyale Bekerja

Konsep bank sampah sebenarnya mudah dipahami. Ambil analogi bank pada umumnya, tetapi mata uang yang disimpan bukan rupiah, melainkan sampah yang sudah dipilah. Warga mendatangi lokasi, menyerahkan material seperti botol plastik, kardus, kaleng, atau gelas air mineral, lalu menerima catatan saldo dalam buku tabungan. Saldo itu bisa dicairkan menjadi uang tunai atau ditukar kebutuhan sehari-hari pada periode tertentu.

Alurnya kurang lebih seperti ini: sampah dipilah di rumah tangga, ditimbang di bank sampah, dicatat secara administratif, lalu dikelompokkan untuk dijual ke pengepul atau diolah kembali menjadi produk bernilai tambah. Untuk sampah organik, pendekatan yang dipakai adalah pengomposan, sehingga tidak semua material harus berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Peran Pendampingan dan Dukungan Korporasi

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan Pertamina di Desa Kuta memberi peran lebih dari sekadar bantuan alat. Pendampingan mencakup pelatihan pemilahan, penguatan manajemen organisasi, hingga penyediaan sarana operasional. Pola ini penting karena banyak bank sampah di daerah lain berhenti beroperasi setelah bantuan awal habis, bukan karena kurang alat, tetapi karena lemah dalam tata kelola.

Kehadiran bank sampah di desa penyangga kawasan wisata juga membuka ruang ekonomi baru. Ibu-ibu rumah tangga dan pemuda setempat bisa memperoleh tambahan penghasilan dari aktivitas yang sebelumnya dianggap remeh. Sebagian kelompok bahkan mulai mengolah material daur ulang menjadi produk kriya bernilai jual, dari tas anyaman hingga pernak-pernik suvenir.

Menghubungkan Kebersihan dengan Reputasi Destinasi

Ada logika sederhana yang sering luput dibahas: wisatawan datang untuk pengalaman, dan pengalaman itu sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di sekitar lintasan, penginapan, dan pantai. Kawasan yang bersih memperkuat reputasi, sementara kawasan yang kotor dengan cepat menyebar lewat unggahan media sosial. Karena itu, investasi pada sistem pengelolaan sampah sejatinya adalah investasi pada daya saing destinasi, bukan sekadar biaya operasional.

Pendekatan yang dipakai di Desa Kuta juga sejalan dengan prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (memakai ulang), dan Recycle (mendaur ulang). Prinsip ini menempatkan warga sebagai pelaku utama, sementara pemerintah daerah dan mitra korporasi berperan sebagai fasilitator.

Tantangan yang Masih Menghadapi

Meski menjanjikan, jalan menuju sistem pengelolaan sampah yang mapan tidak mulus. Harga jual plastik daur ulang cenderung berfluktuasi, sehingga pendapatan bank sampah bisa naik-turun tajam. Partisipasi warga juga perlu dijaga agar tidak surut setelah semangat awal mereda. Belum lagi kebutuhan pencatatan yang lebih rapi, misalnya pemakaian aplikasi sederhana berbasis ponsel untuk memantau volume setoran dan stok gudang.

Di sisi lain, lonjakan sampah saat event besar menuntut koordinasi lintas pihak: pengelola sirkuit, pemerintah desa, dinas lingkungan hidup, hingga pelaku usaha kuliner. Tanpa pembagian peran yang jelas, bank sampah bisa kewalahan menerima volume yang datang serentak.

Yang jelas, langkah di Desa Kuta menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti teknologi mahal. Kadang, disrupsi paling berdampak justru lahir dari gagasan sederhana yang dikelola konsisten: menimbang, memilah, dan menghargai sampah sebagai sumber daya. Jika model ini berhasil bertahan melampaui musim event, bukan tidak mungkin ia menjadi rujukan bagi desa-desa penyangga destinasi wisata lain di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User