Asap Karhutla Mencekik Pontianak, Kualitas Udara Terparah di Indonesia

Hidup di Pontianak, Kalimantan Barat, dalam beberapa pekan terakhir terasa seperti berada di dalam ruangan tanpa ventilasi. Setiap pagi, langit kota diselimuti kabut tebal yang bukan berasal dari awan...

Asap Karhutla Mencekik Pontianak, Kualitas Udara Terparah di Indonesia

Hidup di Pontianak, Kalimantan Barat, dalam beberapa pekan terakhir terasa seperti berada di dalam ruangan tanpa ventilasi. Setiap pagi, langit kota diselimuti kabut tebal yang bukan berasal dari awan, melainkan asap kebakaran hutan dan lahan yang terus membara. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, indeks pencemaran ibu kota provinsi itu menyentuh skor 191, menjadikannya kota dengan udara paling kotor di seluruh Indonesia pada periode yang sama. Angka ini bukan sekadar statistik; ia berarti jutaan warga terpaksa menghirup partikel halus yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru setiap kali bernapas.

Fenomena ini bukan kebetulan. Musim kemarau panjang yang diperparah fenomena iklim global membuat ratusan titik api atau hotspot bermunculan di wilayah Kalimantan Barat. Api yang awalnya kecil, kerap berasal dari pembukaan lahan secara tradisional, dengan cepat meluas karena lahan gambut yang kering justru menjadi bahan bakar alami. Ibarat seperti tumpukan kertas yang sudah lama mengering, sekali tersulut, api sulit dipadamkan dari permukaan karena bara justru merambat di bawah tanah.

Membaca angka 191: apa artinya bagi tubuh kita

Skor kualitas udara diukur dengan Indeks Standar Pencemaran Udara atau ISPU, tolok ukur yang dipakai Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengukur kadar polutan seperti PM2.5 — partikel udara berdiameter 2,5 mikrometer, jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia — serta karbon monoksida dan sulfur dioksida. Skalanya berjalan dari 0 hingga 500. Rentang 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–199 tidak sehat, dan di atas 200 tergolong sangat tidak sehat.

Dengan skor 191, Pontianak berada tepat di ambang kategori sangat tidak sehat. Pada level ini, kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan. Bahkan orang dewasa yang sehat pun dapat merasakan dampaknya: mata perih, tenggorokan gatal, dan batuk berkepanjangan. Sebagai perbandingan, kota-kota besar lain di Indonesia pada waktu bersamaan umumnya berada di kisaran 50–100, atau hanya sekitar setengah dari angka Pontianak. Artinya, warga kota ini menghirup polutan dua kali lebih pekat dibandingkan rata-rata warga kota besar lainnya.

Gambut, El Niño, dan siklus karhutla yang berulang

Kebakaran hutan dan lahan, yang akrab disebut karhutla, adalah persoalan tahunan di Kalimantan. Polanya hampir selalu sama: kemarau tiba, lahan gambut mengering, sebagian warga atau perusahaan membuka lahan dengan cara membakar, lalu angin membawa asap ke kota-kota seperti Pontianak. Tahun ini kondisinya diperburuk oleh fenomena iklim El Niño yang membuat musim kemarau lebih kering dan lebih panjang dari normal. Pantauan satelit mencatat ratusan titik panas tersebar di Kalimantan Barat, dengan konsentrasi tertinggi di kabupaten-kabupaten penyangga ibu kota provinsi.

Yang membuat karhutla di gambut begitu rumit adalah sifat lahannya. Gambut adalah tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa tanaman yang membusuk selama ribuan tahun, menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Ketika terbakar, api tidak hanya menjilat permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan dalam tanah. Di sinilah teknologi berperan penting: pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan air dari atas, melainkan membutuhkan pompa bertekanan tinggi, pembasahan tanah secara menyeluruh, serta pemantauan suhu bawah permukaan agar bara tidak menyala kembali beberapa hari kemudian.

Dampak berlapis: kesehatan, pendidikan, dan ekonomi

Dampak udara buruk tidak berhenti pada batuk dan mata perih. Sekolah-sekolah di Pontianak terpaksa membatasi kegiatan di luar ruangan, bahkan sejumlah kantor meminta pegawainya bekerja dari rumah. Sektor penerbangan ikut terganggu: jarak pandang yang menurun drastis membuat jadwal pesawat di bandara setempat mengalami penundaan. Bagi nelayan dan pekerja informal yang menggantungkan hidup pada aktivitas di luar ruangan, asap tebal berarti pendapatan yang hilang setiap harinya.

Ekonom memperkirakan kerugian karhutla tahun ini bisa menembus triliunan rupiah bila dihitung dari biaya kesehatan, hilangnya produktivitas, hingga rusaknya ekosistem. Belum lagi kerugian jangka panjang: karbon yang terlepas dari gambut terbakar menambah beban emisi gas rumah kaca nasional, sesuatu yang berpotensi menguji komitmen Indonesia dalam menekan emisi karbon di tingkat internasional. Karena itu, karhutla bukan lagi sekadar bencana lingkungan musiman, melainkan persoalan ekonomi dan iklim sekaligus.

Penanganan kini dan kunci pencegahan masa depan

Pemerintah pusat dan daerah telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk memadamkan api, termasuk operasi modifikasi cuaca berupa penyemaian awan agar hujan turun lebih cepat, serta patroli darat dan udara untuk memantau titik api. Teknologi machine learning (pembelajaran mesin) kini juga mulai dipakai untuk memprediksi wilayah rawan kebakaran dengan menganalisis data cuaca, kelembaban tanah, dan riwayat titik panas, sehingga petugas dapat bergerak sebelum api membesar.

Kendati demikian, para peneliti lingkungan menilai solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman saat kebakaran terjadi. Pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan — menjaga lahan tetap basah lewat pembangunan sekat kanal, misalnya — terbukti jauh lebih efektif daripada memadamkan api yang sudah membara. Penegakan hukum terhadap pembakaran lahan juga menjadi kunci, karena data menunjukkan sebagian besar titik api berawal dari aktivitas manusia, bukan faktor alam.

Bagi warga Pontianak, yang bisa dilakukan saat ini adalah melindungi diri: memakai masker saat keluar rumah, menutup ventilasi pada jam-jam puncak polusi, dan memperbanyak minum air putih. Namun, perlindungan diri hanyalah lapisan terakhir. Perbaikan kualitas udara yang sesungguhnya baru akan terasa ketika kebakaran berhasil dicegah sejak awal, dan itu membutuhkan kerja sama semua pihak: pemerintah, swasta, dan masyarakat. Selama musim kemarau masih berlangsung, langit Pontianak akan terus menjadi cermin seberapa serius kita mengelola lingkungan. Skor 191 adalah alarm — pertanyaannya, seberapa cepat kita meresponsnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User