Api Bawah Permukaan Jadi Penyebab Utama Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Padam
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang telah memasuki hari ke-12, namun upaya pemadaman masih menghadapi jalan buntu. Badan Riset dan Inovasi Nasional...
Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang telah memasuki hari ke-12, namun upaya pemadaman masih menghadapi jalan buntu. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) angkat bicara: fenomena api bawah permukaan menjadi biang keladi mengapa titik api tidak kunjung bisa dilumpuhkan secara total. Kondisi ini bukan sekadar kobaran api di tumpukan sampah, melainkan fenomena underground fire yang membutuhkan strategi berbeda.
Fenomena Api Bawah Permukaan: Musuh Tak Kasat Mata
Ibarat bara yang tersembunyi di tumpukan jerami, api bawah permukaan di TPA bekerja dengan prinsip smoldering combustion—pembakaran lambat tanpa nyala yang terjadi di lapisan dalam sampah. Pakar BRIN menjelaskan bahwa timbunan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana dan meningkatkan suhu internal hingga lebih dari 80 derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, suhu ini bisa memicu self-ignition tanpa pemicu api dari luar.
Lebih rumit lagi, lapisan sampah yang padat menciptakan kantong-kantong udara terisolasi. Api menjalar melalui jalur retakan atau material yang lebih porous, membuat titik api tersebar tak beraturan di kedalaman bervariasi—mulai 2 hingga 10 meter di bawah permukaan. "Ini seperti menyusuri labirin yang tidak terlihat," ujar peneliti dari Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN. Pemetaan api konvensional dengan drone termal sekalipun seringkali hanya menangkap panas permukaan, bukan sumber api sebenarnya.
Mengapa Air dan Foam Justru Kurang Efektif?
Logika awam: semakin banyak air, semakin cepat api padam. Namun di TPA Jatiwaringin, penyemprotan air dari helikopter maupun water cannon darat hanya meredam bara permukaan sesaat. Alasannya, air sulit meresap hingga kedalaman sumber api karena material sampah yang plastik dan limbah lain bersifat hidrofobik—menolak air. Alhasil, air hanya mengalir di permukaan, bahkan terkadang memicu reaksi eksotermik dengan logam panas atau bahan kimia yang justru menghasilkan uap beracun dan menyebarkan api.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkonfirmasi bahwa solusi yang dibutuhkan adalah injeksi langsung material pemadam ke titik api melalui pengeboran, atau penggunaan chemical suppressant yang dapat memutus rantai reaksi pembakaran tanpa oksigen. Namun teknik ini memerlukan peralatan khusus dan biaya tinggi, serta risiko amblesan tanah yang membahayakan petugas di lapangan. TPA Jatiwaringin yang memiliki ketinggian tumpukan sampah hingga 25 meter menjadi medan yang sangat menantang.
Dampak Lingkungan dan Ancaman Kesehatan
Asap tebal yang terus mengepul bukan hanya mengganggu jarak pandang lalu lintas di sekitar Jalan Raya Tangerang-Merak, tetapi juga mengandung senyawa berbahaya seperti dioksin, furan, dan partikel halus PM2.5. Data dari Dinas Lingkungan Hidup setempat menunjukkan peningkatan konsentrasi karbon monoksida (CO) hingga tiga kali lipat di permukiman radius 1 km dari TPA. Warga mulai melaporkan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia.
BRIN mengingatkan bahwa api bawah permukaan dapat berlangsung berbulan-bulan jika tidak ditangani secara menyeluruh. Contoh kasus di TPA Bantar Gebang pada 2015 lalu membutuhkan waktu 6 bulan untuk dinyatakan padam total. Selain polusi udara, kebocoran gas metana yang tidak terbakar sempurna turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang berdampak jangka panjang pada perubahan iklim mikro di kawasan tersebut.
Pelajaran dan Rekomendasi ke Depan
Kejadian di TPA Jatiwaringin bukan yang pertama dan dipastikan bukan yang terakhir. BRIN mendorong agar seluruh TPA di Indonesia menerapkan sistem active landfill management: pemadatan sampah menggunakan bulldozer setiap hari, penutupan dengan lapisan tanah (daily cover) untuk mencegah oksigen masuk, pemasangan pipa ventilasi gas (gas venting) yang dilengkapi flare untuk membakar metana secara terkontrol, serta pemantauan suhu internal dengan sensor terdistribusi.
Pemerintah daerah juga diminta segera merancang deteksi dini berbasis teknologi, seperti fiber optic distributed temperature sensing (DTS) yang mampu membaca perubahan suhu di sepanjang kabel optik yang ditanam di dalam tumpukan sampah. Investasi ini mungkin mahal, namun lebih kecil dibandingkan kerugian ekonomi dan kesehatan akibat kebakaran berkepanjangan. BRIN menawarkan kolaborasi riset dengan universitas untuk mengembangkan model prediktif berbasis machine learning yang mengkombinasikan data cuaca, komposisi sampah, dan sensor termal untuk memprediksi potensi titik api sebelum kebakaran benar-benar pecah.
Masyarakat pun bisa berkontribusi dengan mengurangi sampah organik yang masuk ke TPA. Komposting mandiri atau pemilahan sampah dapur dapat menekan produksi gas metana di hilir. Langkah sederhana ini bila dilakukan masif akan mengurangi risiko kebakaran sekaligus memperpanjang umur TPA. Pada akhirnya, api bawah permukaan di Jatiwaringin menjadi pengingat pahit bahwa pengelolaan sampah yang buruk adalah bom waktu lingkungan yang bisa meledak kapan saja.
Comments (0)