Saat AI Mengambil Alih Peran, Aktor China Banting Setir Jual Sayur
Di tengah pesatnya transformasi digital, lanskap industri hiburan global tengah menghadapi disrupsi yang tak terelakkan. Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar alat bantu produksi, melainkan tengah...
Di tengah pesatnya transformasi digital, lanskap industri hiburan global tengah menghadapi disrupsi yang tak terelakkan. Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar alat bantu produksi, melainkan tengah mengambil alih peran-peran yang sebelumnya hanya bisa dijalankan oleh manusia. Salah satu sektor yang paling terpukul adalah industri drama televisi di China, di mana teknologi generative AI mulai digunakan untuk menulis naskah, menciptakan pengisi suara sintetis, hingga membangun karakter digital yang nyaris sempurna. Fenomena ini telah memicu gelombang kekhawatiran di kalangan para aktor, khususnya mereka yang berada di level menengah ke bawah, karena peluang pekerjaan kian menyusut. Di sinilah kisah Xu Peng, seorang aktor yang pernah membintangi sejumlah drama populer, menjadi potret nyata dari dampak dingin otomatisasi.
Xu Peng, yang dikenal sebagai salah satu wajah familiar di layar kaca melalui peran-peran pendukung di berbagai drama kolosal, harus menerima kenyataan pahit: tawaran pekerjaan menghilang seiring maraknya penggunaan AI. Alih-alih menggunakan aktor manusia untuk adegan kerumunan atau peran minor, rumah produksi kini beralih ke solusi yang lebih murah dan cepat, yakni memanfaatkan AI untuk menghasilkan ekstra digital atau bahkan mengganti dialog dengan suara buatan. Kondisi ini membuat pendapatan Xu menurun drastis hingga tak mampu lagi menopang biaya hidup di kota besar.
Gelombang Otomatisasi di Dunia Dracin
Istilah "dracin"—singkatan dari drama China—telah menjadi budaya pop yang mendunia. Di balik popularitasnya, terjadi revolusi di balik layar yang mengubah proses produksi secara fundamental. Sejak tahun lalu, beberapa platform streaming besar di China mulai mengadopsi model AI untuk mempercepat proses pra-produksi. AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) kini mampu menghasilkan skenario dalam hitungan menit, lengkap dengan dialog dan arahan emosi yang cukup kompleks. Tak berhenti di situ, teknologi deep learning untuk pengolahan suara mampu mereplikasi intonasi dan dialek tertentu, sehingga menghilangkan kebutuhan akan puluhan pengisi suara latar yang sebelumnya dipekerjakan dalam setiap proyek.
Yang lebih mengkhawatirkan bagi para aktor adalah penerapan teknologi deepfake dan rekonstruksi wajah 3D. Rumah produksi kini bisa menciptakan ratusan karakter kerumunan digital yang bergerak dan bereaksi secara alami tanpa perlu merekrut figuran. Biaya produksi bisa ditekan hingga 40%, namun di sisi lain, ribuan pekerjaan aktor figuran dan pemeran pendukung perlahan lenyap. Praktik ini menciptakan jurang lebar antara efisiensi ekonomi dan keberlanjutan sumber daya manusia kreatif.
Dari Set Lokasi ke Meja Pedagang Sayur
Kisah Xu Peng menjadi cermin dari pergeseran besar tersebut. Setelah lebih dari lima tahun berkarier, ia memutuskan untuk meninggalkan Beijing dan pulang ke kampung halamannya di pedesaan. Keputusan ini bukan sekadar perubahan profesi, melainkan sebuah langkah bertahan hidup. Kini, ia menghabiskan hari-harinya dengan memikul keranjang sayur segar di pasar tradisional, menjajakan hasil bumi dari ladang milik keluarganya. Meski pendapatannya jauh dari gemerlap dunia hiburan, Xu mengaku mendapatkan kedamaian yang tak ditemukannya selama bertahun-tahun di kota.
“Dulu saya menunggu panggilan casting, sekarang saya menunggu pembeli datang,” ujar Xu dalam sebuah wawancara. Ia menolak menyebut dirinya sebagai korban, namun mengakui bahwa perkembangan teknologi yang tak terkendali telah menutup pintu bagi aktor sekelasnya. Transisinya ke dunia perdagangan sayur berjalan lebih alami dari yang dibayangkan, mengingat ia besar di lingkungan agraris sebelum merantau ke ibu kota.
Dampak Berantai yang Membayangi
Fenomena yang dialami Xu Peng bukanlah kasus terisolasi. Asosiasi Aktor China memperkirakan bahwa lebih dari 23% aktor non-utama kehilangan pekerjaan tetap mereka pada tahun lalu akibat penerapan AI dalam produksi drama. Angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan semakin murahnya akses terhadap teknologi generatif. Para aktor yang sebelumnya mengandalkan peran kecil sebagai batu loncatan kini harus mencari sumber penghidupan alternatif—mulai dari menjadi pengemudi daring, pekerja restoran, hingga kembali ke pertanian seperti Xu.
Industri hiburan China saat ini tengah berada di persimpangan: di satu sisi, inovasi teknologi menawarkan efisiensi dan kemungkinan kreatif tanpa batas; di sisi lain, ia mengorbankan tenaga kerja yang selama ini menjadi fondasi ekosistem seni peran. Tanpa regulasi yang jelas, para pekerja kreatif di level bawah akan terus tergerus oleh algoritma, persis seperti yang terjadi pada Xu Peng, aktor yang kini menemukan panggung barunya di antara labu dan daun bawang.
Baca juga:
Comments (0)