Anjuran Kontroversial Korea Utara: Sup Daging Anjing Lawan Gelombang Panas

Gelombang panas ekstrem yang melanda Semenanjung Korea dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar persoalan cuaca biasa. Fenomena ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari jutaan orang, mulai...

Anjuran Kontroversial Korea Utara: Sup Daging Anjing Lawan Gelombang Panas

Gelombang panas ekstrem yang melanda Semenanjung Korea dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar persoalan cuaca biasa. Fenomena ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari jutaan orang, mulai dari lonjakan kasus sengatan panas atau heatstroke, tekanan pada pasokan listrik, hingga ancaman terhadap hasil panen. Di tengah situasi tersebut, pemerintah Korea Utara mengeluarkan anjuran yang mengundang perhatian internasional: warga diminta menyantap sup daging anjing untuk menjaga stamina selama suhu udara terus melonjak.

Anjuran itu disiarkan melalui media-media resmi negara tersebut, yang mempromosikan hidangan daging anjing—secara lokal dikenal dengan sebutan dangogi—sebagai makanan bernutrisi tinggi yang dinilai cocok dikonsumsi saat cuaca panas. Hidangan berkuah ini disebut mampu memulihkan energi tubuh yang terkuras oleh terik matahari.

Tradisi 'Melawan Panas dengan Panas'

Dalam budaya Korea, terdapat konsep iyeol chiyeol yang secara harfiah berarti melawan panas dengan panas. Ibarat menyalakan api kecil untuk mengendalikan kebakaran besar, masyarakat Korea secara turun-temurun percaya bahwa menyantap makanan panas dan berkuah justru membantu tubuh beradaptasi dengan suhu lingkungan. Konsep ini diterapkan pada tiga hari terpanas dalam kalender tradisional yang disebut sambok atau boknal, yang biasanya jatuh antara Juli dan Agustus.

Pada periode tersebut, hidangan berkuah panas menjadi santapan populer. Di Korea Selatan, pilihan umumnya jatuh pada samgyetang, yakni sup ayam ginseng. Sementara di Korea Utara, sup daging anjing atau bosintang tetap dipromosikan sebagai hidangan utama musim panas, bahkan mendapat dukungan penuh dari media pemerintah.

Apa Kata Sains?

Dari sisi ilmiah, klaim melawan panas dengan panas sebenarnya memiliki dasar fisiologis yang menarik. Ketika seseorang menyantap makanan panas atau pedas, tubuh merespons dengan memproduksi keringat lebih banyak. Proses penguapan keringat dari permukaan kulit inilah yang kemudian menurunkan suhu tubuh. Ibarat sistem pendingin pada mesin kendaraan, keringat bekerja layaknya cairan pendingin yang membawa panas keluar dari dalam tubuh.

Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa mekanisme ini hanya efektif jika kelembapan udara rendah dan kebutuhan cairan tubuh tercukupi. Pada kondisi gelombang panas yang disertai kelembapan tinggi—seperti yang kerap terjadi di Semenanjung Korea—penguapan keringat menjadi terhambat. Akibatnya, risiko dehidrasi dan sengatan panas justru meningkat. Karena itu, anjuran utama dari sisi medis tetap berpijak pada hidrasi yang cukup, bukan semata-mata pada jenis makanan tertentu.

Belum ada pula penelitian klinis yang membuktikan bahwa daging anjing memiliki khasiat khusus dibandingkan sumber protein hewani lain seperti ayam atau sapi dalam membantu tubuh menghadapi cuaca panas.

Kontroversi dan Perbedaan Arah Kebijakan

Anjuran ini tidak bisa dilepaskan dari kontroversi yang lebih besar. Praktik konsumsi daging anjing telah lama menuai kecaman dari pegiat kesejahteraan hewan di berbagai negara. Menariknya, arah kebijakan dua negara di Semenanjung Korea justru saling berlawanan. Pada Januari 2024, parlemen Korea Selatan mengesahkan undang-undang yang melarang peternakan, penjualan, dan konsumsi daging anjing. Aturan itu akan berlaku penuh mulai 2027, dengan masa transisi bagi para pelaku usaha untuk beralih profesi.

Sementara itu, Korea Utara justru gencar mempromosikan hidangan tersebut. Bagi Pyongyang, promosi ini juga berkaitan erat dengan persoalan ketahanan pangan. Di tengah sanksi internasional dan keterbatasan pasokan daging sapi serta babi, daging anjing diposisikan sebagai alternatif sumber protein yang lebih mudah dijangkau sebagian warga.

Gelombang Panas dan Ancaman Perubahan Iklim

Terlepas dari perdebatan soal menu makanan, gelombang panas itu sendiri merupakan persoalan serius. Lembaga meteorologi di kawasan Asia Timur mencatat tren kenaikan suhu musim panas dalam satu dekade terakhir, sejalan dengan pola perubahan iklim global. Gelombang panas yang lebih lama dan lebih intens meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama bagi lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.

Bagi Korea Utara, tantangannya berlipat ganda. Infrastruktur pendingin udara dan pasokan listrik yang terbatas membuat warganya lebih rentan dibandingkan tetangganya di selatan. Dalam konteks ini, anjuran kuliner tradisional dapat dibaca sebagai upaya pemerintah menawarkan solusi yang terjangkau, meskipun efektivitas ilmiahnya masih dipertanyakan.

Para pakar sepakat bahwa strategi menghadapi gelombang panas seharusnya berpijak pada hal-hal mendasar: konsumsi air yang cukup, menghindari aktivitas berat di siang hari, serta memberikan perlindungan bagi kelompok rentan. Soal sup apa yang disantap, itu kini bukan hanya perkara budaya, melainkan juga cerminan kondisi geopolitik di Semenanjung Korea.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User