8 Serangan Udara Israel Hantam Pangkalan Suriah di Tengah Diplomasi AS

Ketika sebagian besar warga Suriah masih terlelap, Selasa dini hari (18/8) berubah menjadi malam yang mencekam. Delapan gelombang serangan udara menggelegar di langit negara itu, menyasar sebuah pangk...

8 Serangan Udara Israel Hantam Pangkalan Suriah di Tengah Diplomasi AS

Ketika sebagian besar warga Suriah masih terlelap, Selasa dini hari (18/8) berubah menjadi malam yang mencekam. Delapan gelombang serangan udara menggelegar di langit negara itu, menyasar sebuah pangkalan udara militer yang diyakini menjadi titik transit logistik militer. Namun yang membuat peristiwa ini berbeda dari operasi-operasi Israel sebelumnya di Suriah adalah momennya: serangan itu dilancarkan justru di tengah upaya Amerika Serikat (AS) untuk mencairkan kembali hubungan diplomatik dengan Damaskus.

Serangan di Tengah Proses Normalisasi

Belum ada konfirmasi resmi dari Tel Aviv soal target dan motif serangan, tetapi pola yang terlihat konsisten dengan operasi tahun-tahun terakhir: menghambat pengiriman senjata yang diduga mengalir dari Iran ke kelompok Hizbullah di Lebanon melalui wilayah Suriah. Ibarat seperti dua orang yang sedang berjabat tangan untuk berdamai, lalu tiba-tiba pihak ketiga melempar batu ke meja perundingan — itulah kira-kira situasi yang dialami Washington pagi itu.

Kabar jumlah korban dan tingkat kerusakan masih simpang siur, dan beberapa laporan menyebut pangkalan itu sempat terbakar hebat setelah gelombang kedua. Yang jelas, eskalasi ini terjadi bukan di tengah kebuntuan politik, melainkan justru ketika pintu-pintu diplomasi mulai terbuka.

Mengapa Washington Meradang

Selama lebih dari satu dekade, AS dan Suriah berada di kutub yang berlawanan. Washington menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis terhadap Damaskus dan menolak mengakui legitimasi pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Namun belakangan, angin perubahan mulai bertiup: sejumlah sinyal menunjukkan AS membuka ruang dialog, antara lain didorong kebutuhan menekan pengaruh Iran di kawasan, meredakan krisis pengungsi, dan menjaga stabilitas harga energi global.

Di tengah proses yang masih sangat rapuh itu, serangan Israel dianggap Washington sebagai tamparan langsung. Ketika diplomasi sedang berjalan, aksi militer sepihak dari sekutu lama justru membuat posisi tawar AS di meja perundingan ikut melemah. Setiap korban sipil atau kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan serangan akan dipakai Damaskus untuk membantah narasi rekonsiliasi — dan itu menyulitkan siapa pun yang mencoba mendekatkan kedua pihak.

Turki Ikut Terseret dalam Pusaran

Efek domino serangan ini rupanya ikut menyeret Ankara. Sejak beberapa tahun terakhir, Turki dan Suriah terlibat dalam proses normalisasi yang difasilitasi Moskow dan Baghdad — sebuah langkah historis mengingat keduanya nyaris berperang sejak konflik bersenjata Suriah pecah pada 2011. Turki punya kepentingan besar agar Suriah stabil: kekacauan di perbatasan selatan Ankara selama ini menjadi ladang subur bagi kelompok bersenjata Kurdi dan jaringan teroris yang mengancam keamanan dalam negeri.

Serangan Israel membuat peta yang sedang disusun itu kembali diacak. Ankara yang tengah membangun kepercayaan dengan Damaskus mendadak harus menghadapi kawasan yang memanas lagi. Faktor Iran pun ikut berperan: setiap eskalasi Israel–Suriah biasanya memicu peningkatan aktivitas militer Teheran, dan itu menempatkan Turki di posisi terjepit antara dua kepentingan besar yang sama-sama tidak bisa diabaikan.

Pesan di Balik Rudal

Pertanyaan besarnya kini: apakah delapan serangan ini murni operasi militer, atau pesan politik yang sengaja dikirim? Pengamat membagi analisisnya menjadi dua kemungkinan. Pertama, Israel ingin memastikan bahwa normalisasi Suriah tidak mengorbankan keamanan perbatasan utaranya — dengan kata lain, Damaskus boleh berdamai dengan siapa pun, tetapi jangan sampai memperkuat Iran. Kedua, ini adalah sinyal kepada AS bahwa kepentingan keamanan Israel tidak boleh ditunda demi agenda diplomasi yang lebih besar.

Apa pun motif di baliknya, korban nyata dari permainan ini adalah rakyat Suriah, yang kembali menjadi penonton pertarungan kekuatan asing di langit negara mereka. Serangan dini hari memang berlangsung singkat, tetapi dampak politiknya bisa terasa berbulan-bulan. Upaya AS memperbaiki relasi dengan Damaskus kini sedang diuji: apakah Washington akan menekan Israel, membiarkan eskalasi berlanjut, atau justru memanfaatkan momen ini untuk mempercepat kesepakatan yang lebih luas.

Yang pasti, Selasa (18/8) menjadi pengingat bahwa di Timur Tengah, diplomasi dan rudal sering berjalan di jalur yang sama — dan tidak pernah ada yang bisa memprediksi mana yang akan tiba lebih dulu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User