8 Negara Tanpa Perayaan Hari Kemerdekaan, Ini Alasannya
Setiap 17 Agustus, Indonesia larut dalam euforia kemerdekaan. Upacara bendera digelar di Istana Merdeka, lomba panjat pinang memeriahkan kampung-kampung, dan berbagai tradisi lokal ikut merayakan mome...
Setiap 17 Agustus, Indonesia larut dalam euforia kemerdekaan. Upacara bendera digelar di Istana Merdeka, lomba panjat pinang memeriahkan kampung-kampung, dan berbagai tradisi lokal ikut merayakan momen bersejarah tersebut. Namun, ada fakta yang jarang disadari masyarakat luas: tidak semua negara di dunia memiliki perayaan hari kemerdekaan. Sejumlah negara justru tidak menetapkan tanggal khusus untuk memperingati kemerdekaan, bukan karena mereka tidak merdeka, melainkan karena sejarah terbentuknya negara-negara tersebut berjalan dengan cara yang berbeda.
Mengapa Sebuah Negara Bisa Tidak Punya Hari Kemerdekaan?
Hari kemerdekaan dapat diibaratkan seperti hari ulang tahun sebuah negara. Tanggal tersebut menandai momen ketika sebuah bangsa secara resmi lepas dari kekuasaan asing dan berdiri sebagai negara yang berdaulat. Konsep ini lahir dari pengalaman kolonialisme, sehingga negara-negara yang pernah dijajah, seperti Indonesia, umumnya menetapkan tanggal proklamasi atau pengakuan kedaulatan sebagai hari kemerdekaan mereka.
Sebaliknya, negara-negara yang tidak pernah mengalami penjajahan dalam pengertian modern, atau yang terbentuk melalui unifikasi, revolusi internal, atau perubahan sistem politik, biasanya memilih perayaan nasional lain. Alih-alih merayakan kemerdekaan dari penjajah, mereka merayakan hari konstitusi, hari revolusi, atau hari lahir kepala negara. Inilah akar alasan mengapa delapan negara berikut tidak memiliki perayaan hari kemerdekaan.
Delapan Negara yang Tidak Merayakan Hari Kemerdekaan
1. Inggris. Sebagai bekas kekuatan kolonial terbesar dalam sejarah, Inggris tidak pernah dijajah, sehingga tidak ada tanggal yang dimaknai sebagai hari kemerdekaan. Negara ini bahkan tidak memiliki hari nasional resmi, meskipun perayaan seperti ulang tahun Raja Charles III menjadi momen kebangsaan yang dirayakan masyarakat.
2. Denmark. Negara Nordik ini merayakan Hari Konstitusi pada 5 Juni, mengenang disahkannya konstitusi pertama pada 1849. Perayaan tersebut tidak berkaitan dengan kemerdekaan dari penjajah, melainkan dengan lahirnya sistem demokrasi.
3. Norwegia. Setiap 17 Mei, Norwegia merayakan Hari Konstitusi yang menandai disahkannya konstitusi negara pada 1814. Meski sempat berada dalam uni dengan Swedia hingga 1905, perayaan nasional Norwegia tetap berfokus pada konstitusi, bukan hari kemerdekaan.
4. Prancis. Perayaan terbesar Prancis jatuh pada 14 Juli, dikenal sebagai Hari Bastille. Tanggal tersebut memperingati penyerbuan penjara Bastille pada 1789, yang menjadi pemicu Revolusi Prancis. Dengan kata lain, Prancis merayakan hari revolusi, bukan hari kemerdekaan dari negara lain.
5. Belanda. Belanda merayakan Hari Raja pada 27 April, bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem-Alexander. Selain itu, ada Hari Pembebasan pada 5 Mei yang memperingati berakhirnya pendudukan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Keduanya tidak disebut sebagai hari kemerdekaan.
6. Thailand. Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah ini menjadikan hari ulang tahun raja sebagai hari nasional. Saat ini, perayaan tersebut berlangsung pada 28 Juli, bertepatan dengan ulang tahun Raja Maha Vajiralongkorn.
7. Nepal. Nepal juga tidak pernah dijajah oleh kekuatan Eropa. Sebagai gantinya, negara ini merayakan Hari Republik pada 28 Mei, memperingati penghapusan sistem monarki dan lahirnya republik pada 2008.
8. Tiongkok. Tiongkok merayakan Hari Nasional pada 1 Oktober, memperingati berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Perayaan ini menandai lahirnya sistem pemerintahan baru, bukan kemerdekaan dari penjajahan asing.
Pelajaran dari Perbedaan Cara Merayakan Kemerdekaan
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan satu-satunya jalan sejarah bagi sebuah bangsa. Ibarat keluarga yang merayakan momen berbeda, setiap negara memiliki titik tolaknya sendiri dalam membentuk identitas nasional. Ada yang lahir dari perjuangan fisik melawan penjajah, ada pula yang terbentuk melalui revolusi politik atau perubahan sistem pemerintahan.
Bagi Indonesia, 17 Agustus 1945 adalah tonggak yang tidak tergantikan. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, menandai berakhirnya lebih dari tiga abad penjajahan. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah hasil kerja keras para pendiri bangsa yang patut dijaga generasi penerus.
Namun, memahami bahwa tidak semua negara merayakan hari kemerdekaan juga memperluas wawasan kita. Ketika melihat berita tentang perayaan nasional di negara lain, penting untuk tidak berasumsi bahwa mereka merayakan hal yang sama dengan kita. Setiap tanggal perayaan menyimpan cerita sejarah, perjuangan, dan nilai-nilai yang berbeda.
Pada akhirnya, hari kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah simbol bagaimana sebuah bangsa memaknai perjalanan panjangnya menuju kebebasan. Bagi Indonesia, 17 Agustus tetap menjadi hari yang paling dinantikan. Bagi negara lain, tanggal perayaan mereka sama sakralnya, hanya saja dengan narasi sejarah yang berbeda.
Comments (0)