Teknologi

12 Menit Buat Pilih Makanan: Fenomena Baru di Aplikasi Pesan-Antar

Pernahkah Anda membuka aplikasi pesan-antar makanan, menggulir layar selama beberapa menit, lalu akhirnya memesan menu yang sama seperti minggu lalu? Ternyata Anda tidak sendirian. Data terbaru dari s...

12 Menit Buat Pilih Makanan: Fenomena Baru di Aplikasi Pesan-Antar

Pernahkah Anda membuka aplikasi pesan-antar makanan, menggulir layar selama beberapa menit, lalu akhirnya memesan menu yang sama seperti minggu lalu? Ternyata Anda tidak sendirian. Data terbaru dari salah satu platform pengantaran terbesar di Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata pengguna menghabiskan 12,4 menit hanya untuk memilih makanan sebelum menekan tombol pesan. Angka ini setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyeduh kopi, menonton dua video pendek, atau membaca beberapa halaman buku. Fenomena ini mengungkap sisi lain dari teknologi yang seharusnya mempermudah hidup: terlalu banyak pilihan justru bisa melumpuhkan keputusan.

Ibarat seperti masuk ke restoran dengan menu sepanjang poster, aplikasi pengantaran makanan kini menjelma menjadi etalase raksasa yang menampilkan ribuan hidangan dari ratusan merchant (pedagang) dalam satu layar. Algoritma (rangkaian instruksi matematis yang menentukan urutan tampilan) terus menyusun ulang daftar berdasarkan lokasi, riwayat pesanan, hingga jam sibuk. Namun semakin cerdas sistem rekomendasinya, semakin lama pula pengguna merasa perlu mempertimbangkan setiap opsi. Inilah yang oleh para peneliti perilaku digital disebut sebagai choice overload atau kelebihan pilihan.

Mengapa 12 Menit Menjadi Angka Penting

Dua belas menit bukan sekadar durasi. Dalam dunia ekonomi digital, waktu adalah mata uang. Setiap detik yang dihabiskan pengguna di dalam aplikasi berarti peluang bagi platform untuk menampilkan iklan, promosi, atau menu tambahan. Sebaliknya, bagi konsumen, waktu tersebut bisa menjadi frustrasi jika berujung pada keputusan yang tidak memuaskan. Platform pengantaran mencatat pertumbuhan pesanan sebesar 24% pada kuartal II-2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, semakin banyak orang yang membuka aplikasi, dan semakin banyak pula yang terjebak dalam labirin pilihan.

Menariknya, perilaku ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Pengguna di wilayah pinggiran dan kota satelit juga menunjukkan pola serupa. Mereka menghabiskan waktu memilih karena ingin memastikan uangnya tidak terbuang sia-sia, terutama ketika biaya pengantaran dan biaya layanan terus naik. Di sisi lain, merchant (penjual) juga merasakan dampaknya. Restoran yang tidak muncul di halaman pertama cenderung kehilangan pelanggan, meskipun kualitas makanannya bersaing.

"Teknologi seharusnya mengurangi beban kognitif, bukan menambahnya. Ketika pengguna butuh lebih dari sepuluh menit untuk memutuskan, itu tanda bahwa desain antarmuka perlu dievaluasi," ujar seorang peneliti interaksi manusia dan komputer dari sebuah universitas di Bandung.

Bagaimana Algoritma Bekerja di Balik Layar

Di balik layar, aplikasi pesan-antar menggunakan machine learning (pembelajaran mesin, yaitu kemampuan komputer belajar dari data tanpa diprogram ulang) untuk memprediksi makanan apa yang paling mungkin Anda pilih. Sistem ini menganalisis puluhan variabel: waktu makan, cuaca, jarak merchant, harga rata-rata pesanan sebelumnya, bahkan tingkat keramaian kurir di sekitar lokasi. Tujuannya mulia, yakni mempersingkat proses pengambilan keputusan.

Namun, semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin kompleks pula model yang dibangun. Akibatnya, rekomendasi bisa menjadi terlalu sempit atau justru terlalu beragam. Pengguna yang biasanya memesan ayam geprek bisa tiba-tiba disuguhi sushi, salad, dan martabak dalam satu tampilan. Ketika otak manusia dihadapkan pada pilihan yang terlampau banyak, ia cenderung menunda keputusan atau kembali ke pilihan default. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang akhirnya memesan menu yang sama berulang-ulang.

Dari sisi bisnis, kondisi ini menciptakan peluang sekaligus tantangan. Platform dapat memanfaatkan momen kebingungan pengguna dengan menawarkan promo terbatas atau bundling (paket gabungan) yang mempermudah keputusan. Sebaliknya, jika pengalaman memilih terasa melelahkan, pengguna bisa berpindah ke aplikasi lain yang antarmukanya lebih sederhana. Persaingan di ekosistem pengantaran makanan tidak lagi hanya soal kecepatan kurir, tetapi juga soal kecepatan pengguna mengambil keputusan.

Dampak pada Merchant dan Masa Depan Pesan-Antar

Bagi para merchant, data ini menjadi sinyal penting. Restoran tidak cukup hanya menyajikan makanan enak; mereka harus memastikan foto, deskripsi, dan harga tampil menarik dalam hitungan detik. Beberapa merchant mulai mengadopsi strategi menu engineering, yaitu menempatkan item paling menguntungkan di posisi yang mudah terlihat, mirip dengan tata letak rak di supermarket. Mereka juga memanfaatkan fitur iklan berbayar untuk muncul di urutan teratas, meskipun biaya tambahan ini pada akhirnya bisa dibebankan ke konsumen.

Ke depan, para pengembang platform diperkirakan akan semakin mengandalkan kecerdasan buatan generatif untuk memberikan rekomendasi yang lebih personal. Bayangkan asisten virtual yang bertanya, "Anda ingin makan pedas atau gurih? Budget di bawah Rp30 ribu?" lalu langsung menyodorkan tiga pilihan terbaik. Pendekatan ini berpotensi memangkas waktu memilih dari 12 menit menjadi kurang dari lima menit. Namun, implementasinya membutuhkan riset panjang tentang preferensi lokal, karena selera masyarakat Indonesia sangat beragam dari Sabang sampai Merauke.

Pada akhirnya, data 12,4 menit adalah cermin bahwa inovasi teknologi tidak selalu tentang kecepatan, melainkan tentang relevansi. Platform yang mampu memahami kapan harus memberi banyak pilihan dan kapan harus menyederhanakannya akan memenangkan hati pengguna. Sebab, di era disrupsi digital, efisiensi bukan hanya soal berapa lama kurir sampai, tetapi juga berapa lama Anda menghabiskan waktu hanya untuk memutuskan makan siang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User