Ada yang menarik dari sebuah kampus ternama di Belanda. Sebuah salinan ijazah milik Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, dipajang sebagai penghormatan atas dedikasi dan kecerdasannya. Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar dokumen lama. Namun bagi Indonesia, ini adalah potongan sejarah yang menjelaskan mengapa salah satu pendiri bangsa ini begitu dihormati hingga di negeri seberang.
Mengapa ini penting? Karena pendidikan adalah fondasi perjuangan. Ijazah itu bukan hanya kertas, melainkan bukti bagaimana seorang anak dari Sumatera Barat menembus salah satu sistem pendidikan terbaik dunia pada awal abad ke-20. Ibarat sebuah peta, ijazah ini menunjukkan rute panjang yang ditempuh Hatta: dari sekolah dasar di tanah kelahiran hingga ruang kuliah di Eropa.
Jejak Pendidikan Sebelum ke Belanda
Sebelum melangkah ke Belanda, Hatta menempuh pendidikan dasar di sekolah bumiputera. Ia kemudian melanjutkan ke sekolah dagang (Handelsschool) di Batavia, kini Jakarta. Di sana, ia belajar ilmu ekonomi, akuntansi, dan administrasi niaga. Ini adalah fondasi awal yang membentuk cara berpikirnya tentang ekonomi kerakyatan dan koperasi.
Pada 1921, Hatta berangkat ke Belanda. Ia menempuh studi di Universitas Erasmus Rotterdam, yang saat itu dikenal sebagai Sekolah Tinggi Ekonomi (Nederlandsche Handels-Hoogeschool). Di sana, ia mendalami ilmu ekonomi dan meraih gelar doktor pada 1932 dengan disertasi berjudul “De Crisis in de Wereldeconomie” atau Krisis Ekonomi Dunia. Ini menjadikannya salah satu tokoh Indonesia paling awal yang meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Eropa.
“Hatta bukan hanya belajar, ia menyerap dan mengkritisi. Disertasinya menjadi cermin bahwa ia memahami ekonomi global dan dampaknya bagi negeri jajahan,” ujar seorang akademisi yang meneliti sejarah pendidikan Indonesia.
Salinan ijazah yang dipajang di kampus Belanda itu menegaskan pengakuan internasional terhadap pencapaian akademik Hatta. Kampus tersebut, yang memiliki arsip sejarah pendidikan, memilih memamerkan dokumen ini sebagai bagian dari narasi tentang mahasiswa internasional yang berpengaruh.
Dari SMA Mana Hatta Lulus?
Pertanyaan ini sering muncul di ruang kelas sejarah. Jawabannya tidak tunggal, karena Hatta menempuh beberapa jenjang. Ia menamatkan pendidikan menengahnya di Handelsschool Batavia pada 1921. Sebelumnya, ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Bukittinggi, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang. Jadi, jika merujuk pada pendidikan setara SMA, jawabannya adalah Handelsschool Batavia.
Yang menarik, Handelsschool bukanlah sekolah sembarangan. Ia adalah institusi pendidikan menengah khusus yang mempersiapkan siswa untuk karier di dunia perdagangan dan administrasi. Hanya sedikit pribumi yang bisa masuk. Ijazah Hatta dari sekolah ini menjadi tiketnya ke Eropa.
Dampak bagi Indonesia dan Dunia Pendidikan
Pemajangan ijazah Hatta di Belanda bukan sekadar nostalgia. Ini adalah bentuk soft diplomacy dan pengakuan atas kontribusi intelektual Indonesia. Bagi generasi muda, kisah ini adalah pengingat bahwa pendidikan adalah alat perubahan. Hatta membuktikan bahwa kecerdasan dan ketekunan bisa menembus batas geografis, budaya, dan kolonialisme.
Selain itu, ini juga menyoroti pentingnya arsip sejarah. Tanpa dokumen seperti ijazah ini, jejak pendidikan tokoh bangsa bisa hilang. Kampus-kampus di Belanda dan Indonesia kini semakin aktif mendigitalkan arsip sejarah untuk penelitian dan pendidikan.
Data menunjukkan bahwa pada awal abad ke-20, hanya sekitar 2-3 persen penduduk pribumi yang mengenyam pendidikan menengah. Hatta adalah bagian kecil dari elite terdidik itu. Namun, ia menggunakan pendidikannya bukan untuk kekayaan pribadi, melainkan untuk kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat.
Relevansi Hari Ini
Di era digital, akses pendidikan memang lebih luas. Namun, ketimpangan masih ada. Kisah Hatta mengingatkan bahwa kualitas pendidikan dan integritas adalah kunci. Ijazah bisa dipajang di dinding, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ilmu itu digunakan.
Bagi pelajar Indonesia, pertanyaan “dari SMA mana Hatta lulus?” seharusnya tidak berhenti pada nama sekolah. Pertanyaan lanjutannya: apa yang ia lakukan setelah lulus? Jawabannya adalah perjuangan seumur hidup untuk Indonesia. Itulah warisan yang sebenarnya, jauh lebih berharga dari selembar ijazah di balik kaca museum.
Comments (0)