112 Jenazah Baru Ditemukan dari Reruntuhan Gaza Dimakamkan

Gaza City kembali diselimuti duka. Warga Palestina menggelar prosesi pemakaman massal terhadap 112 jenazah yang baru berhasil ditemukan dari balik reruntuhan bangunan di kota tersebut. Prosesi ini men...

112 Jenazah Baru Ditemukan dari Reruntuhan Gaza Dimakamkan

Gaza City kembali diselimuti duka. Warga Palestina menggelar prosesi pemakaman massal terhadap 112 jenazah yang baru berhasil ditemukan dari balik reruntuhan bangunan di kota tersebut. Prosesi ini menjadi pengingat bahwa meski sorotan dunia kerap berpindah, penderitaan di Gaza masih jauh dari kata usai. Bagi ratusan keluarga, penemuan ini adalah jawaban pahit: kepastian kehilangan setelah berbulan-bulan menanti dalam ketidakjelasan.

Mengapa peristiwa ini penting bagi pembaca di mana pun berada? Karena setiap jenazah yang berhasil diangkat dari puing bukan sekadar angka statistik. Ia adalah ayah, ibu, anak, atau saudara yang selama ini tercatat sebagai orang hilang. Pemakaman yang layak memberi ruang bagi keluarga untuk berduka secara manusiawi, sesuatu yang justru menjadi kemewahan di tengah krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Reruntuhan Seluas Kota, Pencarian Bak Mencari Jarum

Membayangkan pencarian korban di Gaza ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, hanya saja tumpukan jeraminya berupa beton, besi, dan puing setinggi beberapa lantai. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan puing kehancuran di Gaza mencapai puluhan juta ton, tersebar hampir merata dari wilayah utara hingga selatan. Volume sebesar itu menjadikan pencarian jenazah sebagai pekerjaan raksasa yang berpotensi memakan waktu bertahun-tahun, bahkan setelah konflik benar-benar berhenti.

Dalam operasi pencarian dan penyelamatan atau search and rescue (SAR) standar internasional, tim biasanya dibekali beragam teknologi: kamera termal untuk mendeteksi panas tubuh, sensor akustik untuk menangkap suara dari balik beton, anjing pelacak terlatih, hingga drone pemetaan udara. Namun di Gaza, hampir seluruh perangkat tersebut tidak tersedia atau jumlahnya sangat terbatas.

Minim Teknologi, Andalkan Tangan dan Alat Sederhana

Tim pertahanan sipil dan warga setempat terpaksa bekerja nyaris manual. Mereka mengandalkan sekop, linggis, martil, bahkan tangan kosong untuk memindahkan bongkahan beton. Alat berat seperti eksavator dan derek sangat langka akibat keterbatasan bahan bakar serta hancurnya infrastruktur. Akibatnya, penemuan jenazah kerap terjadi secara tidak sengaja, misalnya ketika warga membersihkan puing rumah mereka sendiri.

Kondisi ini menjelaskan mengapa jenazah dalam jumlah besar baru ditemukan berbulan-bulan setelah sebuah serangan terjadi. Begitu akses ke suatu area akhirnya terbuka, entah karena situasi keamanan membaik sesaat atau peralatan sederhana berhasil didatangkan, tim langsung bekerja cepat sebelum keadaan berubah lagi.

Identifikasi Menjadi Tantangan Berikutnya

Setelah jenazah diangkat, persoalan belum selesai. Proses identifikasi di Gaza menghadapi kendala besar. Uji DNA (asam deoksiribonukleat), standar identifikasi forensik modern, praktis sulit dilakukan karena laboratorium rusak dan pasokan peralatan terputus. Identifikasi akhirnya bergantung pada pengenalan fisik oleh keluarga, pakaian yang masih melekat, atau barang pribadi seperti cincin dan telepon genggam.

Petugas medis dan relawan mendokumentasikan setiap temuan lewat foto serta catatan manual, lalu mencocokkannya dengan daftar orang hilang yang dikumpulkan dari laporan warga. Proses yang lambat ini menyisakan banyak jenazah tanpa identitas, yang tetap dimakamkan dengan penanda khusus agar kelak dapat dikenali kembali.

Angka di Balik Duka

Penemuan 112 jenazah ini menambah panjang daftar korban konflik yang berkecamuk sejak Oktober 2023. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat puluhan ribu warga tewas, sementara ribuan lainnya dilaporkan hilang dan diduga masih tertimbun reruntuhan. Sejumlah peneliti memperkirakan jumlah korban sesungguhnya bisa lebih tinggi dari angka resmi, justru karena banyaknya jenazah yang belum ditemukan dan tercatat.

Bagi warga Gaza City, pemakaman massal semacam ini bukanlah akhir sebuah babak, melainkan satu halaman kecil dari proses pemulihan yang sangat panjang. Selama puing masih bertebaran dan alat berat belum bisa masuk secara leluasa, penemuan serupa kemungkinan besar akan terus terjadi. Dan setiap kali itu terjadi, sebuah keluarga akhirnya bisa menguburkan orang yang mereka cintai, sekaligus menambah catatan dunia tentang besarnya harga kemanusiaan yang harus dibayar di Gaza.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User