Bisnis

Warga Cilandak Timur Antre Air Bersih Hadapi Kekeringan Ekstrem

Jakarta Selatan — Kekeringan panjang yang melanda sebagian wilayah DKI Jakarta memaksa ratusan warga Kecamatan Cilandak Timur, Jakarta Selatan, mengantre p

Warga Cilandak Timur Antre Air Bersih Hadapi Kekeringan Ekstrem

Jakarta Selatan — Kekeringan panjang yang melanda sebagian wilayah DKI Jakarta memaksa ratusan warga Kecamatan Cilandak Timur, Jakarta Selatan, mengantre panjang untuk mendapatkan air bersih dari mobil tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta pada Senin (21/9/2026). Kebutuhan dasar air bersih yang tak terpenuhi akibat musim kemarau berkepanjongan menjadi persoalan serius bagi ribuan kepala keluarga di kawasan padat penduduk tersebut.

Antrean Panjang Sejak Subuh

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, warga Gang H Soleh, Cilandak Timur, sudah mulai berdatangan ke lokasi distribusi sejak pukul 06.00 WIB. Mereka membawa berbagai wadah mulai dari jerigen, ember, hingga drum bekas untuk menampung air bersih yang didistribusikan oleh tim BPBD DKI Jakarta. Sebanyak 5.000 liter air bersih disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga di kawasan tersebut.

Camat Cilandak Timur, Heri Purnomo, saat ditemui di lokasi menjelaskan bahwa kondisi kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung sejak awal bulan September ini. Beberapa sumur warga mulai mengering dan pasokan air dari PDAM juga tidak stabil, sehingga distribusi air bersih dari BPBD menjadi solusi sementara bagi masyarakat.

"Kami sudah koordinasi dengan BPBD DKI Jakarta sejak minggu lalu. Kekeringan tahun ini cukup parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beberapa RT di Gang H Soleh dan sekitarnya sudah tidak mendapat air dari sumur sama sekali," ujar Heri.

5.000 Liter Air untuk Ratusan KK

Distribusi air bersih ini ditujukan untuk melayani sekitar 300 keluarga yang terdampak kekeringan di sekitar Gang H Soleh dan wilayah Cilandak Timur lainnya. Setiap keluarga diperbolehkan mengambil maksimal 20 liter air bersih per kartu keluarga untuk memastikan penyaluran merata kepada seluruh warga yang membutuhkan.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD DKI Jakarta, Satrio Yudho, mengatakan bahwa pihah BPBD menurunkan dua unit mobil tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter untuk kecamatan tersebut. Distribusi ini merupakan bagian dari program rutin yang diperluas mengingat kondisi kekeringan yang semakin meluas di beberapa wilayah Jakarta Selatan.

"Kami menargetkan distribusi ini bisa selesai dalam satu hari. Jika kebutuhan masih tinggi, kami siap menambah pasokan di hari-hari berikutnya. Prioritas kami adalah daerah yang memang sudah tidak memiliki akses air bersih sama sekali," kata Satrio.

Dampak Kekeringan di Jakarta Selatan

Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, setidaknya 12 kecamatan di Jakarta Selatan terdampak kekeringan musim ini. Kekeringan dipicu oleh curah hujan yang jauh di bawah normal selama dua bulan terakhir akibat fenomena El Niño yang masih berlangsung. Beberapa wilayah yang paling terdampak antara lain Cilandak, Tebet, Jagakarsa, dan Pancoran.

Kondisi ini diperparah dengan menyusutnya permukaan air tanah di wilayah selatan Jakarta yang secara geografis berada di area resapan.许多 warga yang selama ini bergantung pada air sumur harus rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan pasokan air bersih dari pemerintah.

Respons Cepat Pemerintah DKI

Gubernur DKI Jakarta, dalam keterangan resminya, menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah mengalokasikan anggaran darurat untuk penanganan kekeringan di Jakarta Selatan. Distribusi air bersih ke warga terdampak menjadi prioritas utama dalam beberapa pekan ke depan.

Selain distribusi air bersih melalui mobil tangki, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan 20 titik penampungan air di beberapa lokasi strategis di Jakarta Selatan. Masyarakat juga diimbau untuk menghemat penggunaan air dan segera melapor ke kelurahan setempat jika kebutuhan air bersih sudah mendesak.

Sementara itu, warga berharap distribusi air bersih ini bisa berlanjut hingga kondisi kekeringan benar-benar berakhir. Banyak di antara mereka yang mengaku sudah tiga hari terakhir tidak bisa mandi atau mencuci pakaian karena ketiadaan air bersih di rumah masing-masing.

"Anak-anak sekolah juga jadi terganggu karena tidak ada air untuk mandi pagi. Kami berterima kasih kepada BPBD yang sudah membantu, tapi kami berharap ini bisa lebih sering dilakukan selama kekeringan masih berlangsung," ungkap Siti Aminah, salah satu warga Gang H Soleh.

Upaya Pencegahan Jangka Panjang

Ahli hidrologi dari Universitas Indonesia, Dr. Budi Santoso, menilai bahwa kekeringan yang terjadi di Jakarta Selatan merupakan dampak dari perubahan iklim yang semakin ekstrem. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan revitalisasi sumur resapan dan memperbanyak ruang terbuka hijau untuk meningkatkan cadangan air tanah di wilayah selatan Jakarta.

Saat ini, warga Cilandak Timur masih menunggu distribusi air bersih tahap selanjutnya dari BPBD DKI Jakarta. Dengan kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan dalam waktu dekat, kebutuhan air bersih dipastikan akan terus menjadi perhatian utama di tengah masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User