Warga Albania Kembali Protes Resor Wisata Terafiliasi Trump
Ribuan warga Albania turun ke jalan di pusat Ibu Kota Tirana pada Sabtu (11/7) dalam unjuk rasa besar yang menolak pembangunan kawasan resor mewah. Proyek ini terafiliasi dengan keluarga mantan Presid...
Ribuan warga Albania turun ke jalan di pusat Ibu Kota Tirana pada Sabtu (11/7) dalam unjuk rasa besar yang menolak pembangunan kawasan resor mewah. Proyek ini terafiliasi dengan keluarga mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Demonstrasi yang berlangsung damai namun penuh semangat ini menandai gelombang protes kedua dalam beberapa bulan terakhir, mempertegas resistensi publik terhadap investasi yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Protes Kembali Pecah: Eskalasi Penolakan Publik
Massa aksi berkumpul sejak pagi hari, memenuhi Bulevardi Dëshmorët e Kombit sambil membawa spanduk bertuliskan “Bukan Untuk Dijual” dan “Lindungi Pantai Kami, Hentikan Trump”. Mereka menyuarakan kemarahan terhadap rencana pembangunan resor di kawasan pesisir selatan negara itu, yang dikhawatirkan akan merusak lingkungan, menggerus akses publik ke pantai, dan hanya menguntungkan segelintir elit. Beberapa demonstran juga membakar kertas bergambar logo perusahaan properti yang dikaitkan dengan Trump Organization, meniru aksi serupa pada protes bulan Maret lalu.
Pihak kepolisian mengerahkan ratusan personel untuk mengamankan jalannya aksi. Meski demikian, tidak ada bentrokan berarti yang dilaporkan. Koordinator aksi dari Aliansi Lindungi Pantai Albania, Elvira Marku, mengatakan, “Kami tidak akan diam melihat negeri ini dijadikan panggung bisnis keluarga Trump. Ini bukan soal politik luar negeri, tapi soal kedaulatan rakyat atas tanah dan lautnya sendiri.” Pernyataan tersebut disambut riuh tepuk tangan oleh peserta aksi.
Rute Trump ke Balkan: Bisnis Properti yang Kontroversial
Proyek yang memicu gelombang protes ini adalah Dhërmi Residences & Resort, sebuah kompleks hunian dan wisata super-mewah yang direncanakan berdiri di atas lahan seluas 12 hektare di dekat desa Dhërmi, salah satu kawasan pesisir paling indah di Riviera Albania. Lahan tersebut diduga diperoleh melalui perusahaan cangkang yang terhubung dengan menantu Trump, Jared Kushner, yang sebelumnya juga menjajaki investasi serupa di Serbia. Nilai investasi proyek ini ditaksir mencapai 300 juta dolar AS, menjadikannya salah satu proyek properti asing terbesar di Albania dalam satu dekade.
Pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama memberikan lampu hijau untuk proyek tersebut dengan dalih penciptaan lapangan kerja dan percepatan pertumbuhan sektor pariwisata. Menteri Pariwisata Mirela Kumbaro dalam pernyataan resmi menyebut resor ini akan “membawa standar baru bagi industri hospitaliti Albania”. Namun, kelompok masyarakat sipil dan aktivis lingkungan justru mempertanyakan transparansi proses perizinan, terutama karena dokumen analisis dampak lingkungan (AMDAL) tidak dipublikasikan secara penuh kepada publik.
Kecurigaan bertambah ketika sejumlah lahan di sekitar Dhërmi terindikasi beralih kepemilikan dari penduduk lokal ke investor asing tanpa melalui musyawarah adat yang lazim. “Tanah ini milik leluhur kami. Tiba-tiba muncul sertifikat baru dan kami diminta pindah,” ujar Besnik Hoxha, nelayan yang keluarganya telah tinggal di Dhërmi selama empat generasi.
Lingkungan dan Warisan Budaya Terancam
Kekhawatiran utama para penentang proyek terpusat pada kerusakan ekologis di pesisir Ionia yang masih relatif alami. Dhërmi dikenal dengan perairan biru kehijauan dan bukit-bukit zaitun yang menjadi habitat bagi sejumlah spesies endemik Mediterania. Aktivis lingkungan memperingatkan bahwa pembangunan resor skala besar akan memicu erosi pantai, pencemaran dari limbah konstruksi, dan tekanan pada sumber daya air lokal yang sudah terbatas. Organisasi EcoAlbania merilis studi yang memperkirakan bahwa proyek ini berpotensi mengurangi tutupan vegetasi pesisir hingga 27% dalam lima tahun pertama operasi.
Di sisi lain, pegiat budaya menilai resor ini akan mengubah wajah desa tradisional Dhërmi yang memiliki gereja-gereja Bizantium dan menara batu warisan UNESCO. Konsep arsitektur resor yang modern-minimalis dinilai tidak selaras dengan karakter lokal dan justru akan menciptakan “kantong eksklusif” yang memutus hubungan organik antara masyarakat dan lanskapnya.
Dukungan Pemerintah dan Prospek ke Depan
Menanggapi protes, juru bicara pemerintah menegaskan bahwa proyek tetap akan berjalan sesuai rencana. Mereka merujuk pada studi kelayakan yang menunjukkan potensi penyerapan 1.200 tenaga kerja saat konstruksi dan 800 pekerjaan permanen setelah operasional. “Kami ingin Albania menjadi destinasi kelas dunia. Untuk itu, kami perlu investasi berani,” ujar juru bicara tersebut dalam konferensi pers Jumat sore.
Namun, tekanan dari Uni Eropa, yang tengah memonitor proses aksesi Albania, bisa menjadi faktor penentu. Parlemen Eropa beberapa waktu lalu mempertanyakan komitmen Albania terhadap prinsip tata kelola lingkungan dan hak atas tanah dalam sejumlah proyek besar, termasuk yang terkait dengan keluarga Trump. Observasi dari lembaga transparansi internasional memperkirakan bahwa jika gelombang protes terus membesar dan potensi gugatan hukum dari komunitas lokal terwujud, pemerintah mungkin terpaksa meninjau ulang izin proyek tersebut.
Yang jelas, ribuan warga yang turun ke jalan hari Sabtu kemarin telah mengirim pesan tegas: pembangunan ekonomi dengan mengorbankan lingkungan dan hak-hak rakyat tidak akan mereka terima begitu saja. Cerita tentang resor ini, bagi banyak demonstran, adalah cerita tentang siapa yang sesungguhnya memiliki Albania – warganya atau para pemodal asing.
Baca juga:
Comments (0)