Reaktivasi Bandara Husein Bandung Dipercepat, Ini Jadwal Operasionalnya
Mobilitas warga Jawa Barat dan denyut ekonomi Kota Kembang akan segera mendapatkan tambahan energi. Setelah sekian lama bergantung pada moda transportasi darat dan kereta cepat, titik simpul penerbang...
Mobilitas warga Jawa Barat dan denyut ekonomi Kota Kembang akan segera mendapatkan tambahan energi. Setelah sekian lama bergantung pada moda transportasi darat dan kereta cepat, titik simpul penerbangan yang sempat kehilangan geliatnya kini bersiap kembali. Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, tengah menggenjot proses reaktivasi Bandar Udara Husein Sastranegara di Kota Bandung. Langkah ini bukan sekadar urusan menghidupkan kembali landasan pacu, melainkan strategi besar untuk mendongkrak konektivitas wilayah yang selama ini mengalami defisit akses udara langsung.
Mengapa Bandara Ikonik Ini Harus Kembali
Ibarat mesin yang sempat dimatikan, Bandara Husein Sastranegara sejatinya tidak pernah benar-benar mati. Hanya saja, perannya sebagai gerbang utama penerbangan komersial meredup signifikan setelah pengalihan operasional ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Kebijakan tersebut memang berdampak positif bagi pemerataan pembangunan di sisi timur Jawa Barat, namun di sisi lain menimbulkan persoalan baru. Jarak tempuh Kertajati yang mencapai lebih dari 2 jam perjalanan darat dari pusat Kota Bandung—dengan kondisi lalu lintas yang tidak selalu bersahabat—membuat banyak pelaku bisnis dan wisatawan domestik berpikir ulang untuk terbang ke wilayah Priangan. Akibatnya, potensi ekonomi dan pariwisata yang dimiliki Bandung Raya tidak terserap maksimal. Data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menunjukkan penurunan tingkat kunjungan moda udara langsung ke pusat kota sejak pengalihan tersebut, sementara okupansi hotel di pusat kota sempat terpengaruh karena segmen pebisnis akhir pekan dari luar pulau mencari alternatif destinasi yang lebih praktis.
Cetak Biru Reaktivasi dan Percepatan Infrastruktur
Agar kebangkitannya tidak sekadar wacana, sejumlah pekerjaan rumah teknis dikebut. Fokus utamanya adalah optimalisasi fasilitas agar sesuai dengan standar keselamatan penerbangan sipil terkini, tanpa mengganggu fungsi utamanya sebagai Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU. Landasan pacu sepanjang 2.244 meter dengan lebar 45 meter dipastikan akan kembali menerima pesawat berbadan sempit (narrow-body aircraft) seperti Boeing 737 series atau Airbus A320. Kemampuan ini krusial mengingat karakteristik pasar yang menginginkan efisiensi dari dan ke pusat kota. Selain perkerasan landasan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub mendorong penyesuaian terhadap apron atau tempat parkir pesawat agar mampu menampung lebih banyak rotasi penerbangan secara simultan. Terminal penumpang juga masuk dalam daftar revitalisasi—bukan untuk memperluas secara masif mengingat keterbatasan lahan, melainkan untuk menata ulang alur sirkulasi penumpang. Implementasi teknologi berbasis biometrik dan sistem bagasi otomatis tengah dipertimbangkan guna memangkas waktu antrean di tengah ruang yang relatif kompak. Dari sisi navigasi, kalibrasi ulang peralatan seperti Instrument Landing System (ILS) dan Very High Frequency Omnidirectional Range (VOR) menjadi prioritas sebelum izin rute komersial diterbitkan kembali.
Kapan Tiket Penerbangan Bisa Dipesan?
Pertanyaan yang paling dinantikan publik adalah tentang kepastian jadwal. Berdasarkan hasil koordinasi antara Kementerian Perhubungan, PT Angkasa Pura Indonesia, dan Pemerintah Kota Bandung, target operasional komersial pertama ditetapkan pada minggu ketiga bulan September 2025. Tanggal ini bukan sekadar tenggat administratif, melainkan mempertimbangkan rampungnya sertifikasi ulang bandara oleh otoritas keselamatan penerbangan. Sebelum tanggal tersebut, akan dilakukan serangkaian uji coba terbatas yang melibatkan maskapai nasional. Rencananya, batch awal penerbangan akan mencakup rute-rute domestik dengan permintaan tinggi seperti Bandung–Denpasar, Bandung–Surabaya, dan Bandung–Medan. Untuk rute internasional, pembahasan masih berlangsung dengan maskapai asal Malaysia dan Singapura, mengingat permintaan historis yang kuat untuk koneksi langsung Bandung–Kuala Lumpur dan Bandung–Singapura. Operator bandara menargetkan kapasitas awal sebanyak 18 hingga 24 pergerakan pesawat per hari, atau setara dengan rotasi satu jam sekali pada jam sibuk pagi dan sore. Ini akan dikelola dengan memanfaatkan slot time secara ketat agar tidak berbenturan dengan jadwal operasional penerbangan militer yang tetap menjadi fungsi utama pangkalan.
Kebangkitan Bandara Husein bukan sekadar tentang penerbangan. Ini adalah sirkuit ekonomi yang akan mengaliri kembali hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan ekosistem kreatif di Bandung Raya. Bagi mereka yang selama ini harus memutar waktu dan tenaga ke Majalengka, hadirnya kembali roda di landasan Husein adalah efisiensi yang telah lama dinanti. Sosialisasi ke publik akan dimulai dua bulan sebelum operasional perdana, dan penjualan tiket oleh maskapai mitra direncanakan dibuka secara bertahap mulai awal Agustus 2025. Bagi warga Bandung dan sekitarnya, suara deru mesin pesawat yang kembali menggema di langit kota bukanlah polusi, melainkan musik penanda denyut nadi kota yang kembali kencang.
Baca juga:
Comments (0)