Trump-Netanyahu Retak, Israel Berpotensi Hadapi Iran Sendirian

Geopolitik Timur Tengah kembali memasuki fase menegangkan. Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan merenggang, dan kondisi i...

Trump-Netanyahu Retak, Israel Berpotensi Hadapi Iran Sendirian

Geopolitik Timur Tengah kembali memasuki fase menegangkan. Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan merenggang, dan kondisi ini memicu pertanyaan besar: apakah Israel akan berani menghadapi Iran seorang diri tanpa dukungan penuh sekutu terdekatnya? Pertanyaan ini bukan sekadar isu diplomatik di meja perundingan. Jika konflik terbuka benar-benar pecah, dampaknya akan terasa hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat dunia, mulai dari lonjakan harga minyak mentah, terganggunya jalur pelayaran global, hingga kenaikan harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai keretakan ini bukan isapan jempol. Ada beberapa sinyal yang dianggap menunjukkan bahwa Washington dan Tel Aviv tidak lagi sejalan seperti sebelumnya, padahal selama ini Israel kerap disebut sebagai sekutu paling istimewa bagi Amerika di kawasan tersebut.

Sinyal-Sinyal Keretakan Hubungan

Sinyal pertama terlihat dari langkah Trump yang melakukan lawatan ke Timur Tengah tanpa menjadwalkan kunjungan ke Israel. Bagi banyak analis, ini ibarat seorang sahabat lama yang datang ke kampung halaman tetapi sengaja tidak mampir ke rumah teman terdekatnya. Pesan politiknya sulit diabaikan.

Sinyal kedua, pemerintahan Trump membuka jalur negosiasi langsung dengan Iran mengenai program nuklir Teheran. Padahal, Netanyahu selama bertahun-tahun membangun reputasi politiknya di atas satu sikap tegas: menolak segala bentuk kesepakatan yang memungkinkan Iran mempertahankan kemampuan pengayaan uranium. Ketika Washington memilih berbicara langsung dengan Teheran, posisi Israel otomatis terpinggirkan.

Sinyal ketiga adalah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan kelompok Houthi di Yaman yang tidak mencakup perlindungan bagi Israel. Artinya, serangan Houthi terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Israel berpotensi tetap berlangsung, sementara kapal Amerika sudah aman. Bagi Tel Aviv, ini terasa seperti ditinggal di tengah pertarungan.

Seberapa Kuat Israel Tanpa Amerika?

Secara militer, Israel bukanlah negara lemah. Negara itu memiliki angkatan udara yang sangat modern dengan jet tempur siluman F-35 Adir, armada F-15 dan F-16, serta badan intelijen Mossad yang dikenal sangat mumpuni dalam operasi rahasia. Sistem pertahanan udaranya juga berlapis, mulai dari Iron Dome untuk roket jarak pendek, David's Sling untuk rudal jarak menengah, hingga Arrow untuk rudal balistik.

Namun ada satu persoalan besar: fasilitas nuklir Iran yang paling penting, yakni Fordow, terkubur puluhan meter di bawah gunung. Untuk menembusnya, dibutuhkan bom penembus bunker GBU-57 Massive Ordnance Penetrator seberat sekitar 13,6 ton, yang hanya bisa dijatuhkan oleh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit. Keduanya hanya dimiliki Amerika Serikat. Ibarat mencoba membuka brankas baja raksasa, Israel punya kunci cadangan, tetapi hanya Amerika yang memegang linggis terbesarnya.

Dukungan pertahanan udara Amerika juga krusial. Sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan kapal perang berkemampuan Aegis milik AS terbukti membantu Israel menahan gelombang ratusan rudal balistik dan drone yang diluncurkan Iran dalam konfrontasi sebelumnya. Tanpa payung perlindungan itu, cadangan rudal pencegat Israel bisa terkuras dalam perang berkepanjangan.

Apa Kata Para Pengamat?

Para pengamat terbagi dalam dua kubu analisis. Kubu pertama menilai keretakan Trump dan Netanyahu lebih bersifat taktis, bukan perpisahan total. Menurut pandangan ini, Trump sedang menekan Netanyahu agar lebih fleksibel, baik soal perang di Gaza maupun soal Iran, demi kepentingan politik dalam negeri Amerika yang ingin menghindari perang baru yang mahal.

Kubu kedua justru memperingatkan skenario yang lebih berbahaya. Jika Israel merasa ditinggalkan dan menilai kesepakatan nuklir versi Trump terlalu lunak terhadap Teheran, Tel Aviv bisa saja melancarkan serangan sepihak terhadap fasilitas nuklir Iran. Langkah semacam ini pernah menjadi perdebatan serius di kabinet Israel pada awal dekade 2010-an. Serangan sepihak berisiko memicu balasan besar dari Iran, baik berupa hujan rudal balistik maupun aktivasi jaringan sekutunya di Lebanon, Yaman, dan Irak.

Dampak bagi Dunia dan Indonesia

Eskalasi konflik Israel-Iran bukan peristiwa yang bisa ditonton dari kejauhan tanpa konsekuensi. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit di dekat Iran. Gangguan sekecil apa pun di sana bisa mengerek harga minyak mentah dunia secara signifikan. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berarti tekanan pada anggaran subsidi energi, potensi kenaikan harga bahan bakar minyak, dan lonjakan biaya logistik yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Pasar keuangan global juga cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakpastian kawasan penghasil energi. Nilai tukar rupiah, harga emas, dan arus investasi ke negara berkembang bisa ikut bergejolak.

Pada akhirnya, sebagian besar pengamat sepakat bahwa diplomasi masih menjadi jalan keluar paling rasional. Namun selama hubungan Trump dan Netanyahu belum menemukan titik temu, kemungkinan Israel mengambil langkah militer sendirian terhadap Iran akan tetap membayangi kawasan. Dunia kini menanti apakah keretakan ini hanya gertakan politik sesaat, atau awal dari babak baru ketegangan yang jauh lebih besar di Timur Tengah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User