Trump dan AI Roosevelt Berdialog di Perpustakaan, Warganet Heboh
Pada awal pekan ini, publik dikejutkan oleh sebuah tayangan video yang menampilkan Donald Trump sedang berbincang santai dengan mendiang Presiden Theodore Roosevelt—sosok yang telah meninggal lebih ...
Pada awal pekan ini, publik dikejutkan oleh sebuah tayangan video yang menampilkan Donald Trump sedang berbincang santai dengan mendiang Presiden Theodore Roosevelt—sosok yang telah meninggal lebih dari satu abad lalu. Bukan sulap atau rekonstruksi menggunakan aktor, melainkan hasil dari sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang canggih. Acara ini digelar di Perpustakaan Kepresidenan Theodore Roosevelt di Medora, Dakota Utara, sebagai bagian dari pameran interaktif bertajuk “Menghidupkan Sejarah”. Video tersebut langsung viral di Twitter, TikTok, dan Instagram, memicu beragam reaksi dari kekaguman hingga olok-olok.
Teknologi yang digunakan bukan sekadar chatbot biasa. Para pengembang dari perusahaan rintisan “Historical Voices Inc.” mengandalkan arsitektur transformer generasi terbaru yang telah dilatih dengan lebih dari 20.000 dokumen asli milik Roosevelt, termasuk surat pribadi, pidato kenegaraan, dan buku harian. Model bahasa besar (large language model/LLM) ini mampu meniru gaya bicara, pilihan kata, dan bahkan gurauan khas Roosevelt yang terkenal blak-blakan. Untuk suara, tim menggunakan teknologi sintesis ucapan neural (neural text-to-speech) yang merekonstruksi warna vokal dari rekaman-rekaman pidato asli yang tersimpan di arsip nasional.
Perpaduan Sejarah dan Deep Learning
Ibarat seorang aktor yang mempelajari naskah selama bertahun-tahun, sistem AI ini tidak sekadar menghafal kalimat-kalimat baku Roosevelt. Algoritma deep learning menangkap pola pikir dan respons emosional tokoh tersebut. Dalam demo yang ditampilkan, Trump mengajukan pertanyaan tentang kebijakan antimonopoli dan Perang Spanyol-Amerika. AI Roosevelt menjawab dengan lantang, lengkap dengan metafora “big stick” yang legendaris, sembari sesekali menyelipkan candaan tentang kondisi politik terkini—sebuah improvisasi yang dihasilkan secara real-time oleh model generatif.
Proses pelatihan memakan waktu tiga bulan menggunakan kluster GPU berperforma tinggi. Data histori diproses melalui teknik retrieval-augmented generation (RAG) agar respons tetap faktual dan sesuai konteks sejarah. Tim insinyur juga memasang filter etika ketat untuk mencegah AI menghasilkan pernyataan yang dapat menimbulkan kontroversi, meskipun pada kenyataannya, percakapan Trump yang spontan tetap menghasilkan momen-momen tak terduga.
Warganet Terbelah, Komedian Melontar Sindiran
Begitu video berdurasi dua menit itu diunggah, warganet langsung terbelah. Di Twitter, tagar #RooseveltAI menempati trending topic dengan lebih dari 150.000 cuitan dalam waktu empat jam. Banyak pengguna yang terpukau oleh realisme interaksi tersebut. “Seperti menyaksikan sejarah berbicara kembali,” tulis seorang sejarawan digital. Namun tidak sedikit pula yang melontarkan kritik tajam dan humor gelap. Seorang komedian kenamaan di acara tengah malam berkelakar, “Roosevelt versi AI mungkin satu-satunya tokoh yang bisa mengalahkan Trump dalam debat soal ego.” Parodi-parodi pun bermunculan, mulai dari video deepfake Roosevelt sedang bermain golf dengan Trump hingga meme klasik “Teddy vs. Donald: Dawn of AI”.
Platform TikTok dibanjiri konten reaksi, dengan salah satu kreator meraih 2,5 juta tayangan hanya dengan memperlihatkan ekspresi terkejutnya. Sementara itu, di Reddit, forum r/artificial melontarkan diskusi serius tentang keakuratan historis dan potensi penyalahgunaan teknologi semacam ini.
Antara Inovasi dan Bayang-Bayang Disinformasi
Fenomena ini membuka kembali perdebatan tentang penggunaan AI untuk “menghidupkan” figur publik yang telah meninggal. Para pakar etika teknologi mengingatkan bahwa tanpa pengawasan ketat, teknologi ini dapat dengan mudah disalahgunakan untuk membuat propaganda politik atau konten palsu yang meyakinkan. “Kita sedang memasuki era di mana batas antara rekaman sejarah dan buatan semakin kabur,” ujar Dr. Anita Kusuma, peneliti deepfake dari Lembaga Studi Digital Indonesia. “Regulasi harus segera dikejar agar inovasi tidak berubah menjadi alat destruksi kebenaran.”
Di sisi lain, para pendukungnya menekankan potensi positif di bidang pendidikan. Bayangkan, siswa dapat “berdialog” langsung dengan tokoh-tokoh sejarah untuk memahami sudut pandang mereka secara lebih intim. Museum dan perpustakaan di seluruh dunia mulai melirik konsep serupa untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Pihak Perpustakaan Kepresidenan Roosevelt mengklaim bahwa kunjungan daring mereka melonjak 300 persen dalam 48 jam pasca-video viral tersebut.
Meski kontroversial, satu hal yang pasti: perbincangan antara Trump dan AI Roosevelt telah menjadi tonggak yang memperlihatkan sejauh mana kecerdasan buatan dapat merekonstruksi sejarah. Apakah ini awal dari era baru komunikasi lintas waktu, atau sekadar sensasi sesaat yang akan pudar? Waktu—dan mungkin AI berikutnya—yang akan menjawab.
Yang jelas, video itu berhasil membuat banyak orang tersenyum, merenung, dan tidak sedikit yang bergumam, “Apa yang akan dikatakan Lincoln jika dia bisa ‘hadir’ di tahun 2026?”
Baca juga:
Comments (0)