TOTON Hadirkan Koleksi KALA Penutup Mulia in Fashion Jakarta
Jakarta, 10 Juli 2026 — Denting gamelan berpadu dengan alunan elektronik kontemporer membelah keheningan Ballroom Hotel Mulia Senayan. Satu per satu model
Jakarta, 10 Juli 2026 — Denting gamelan berpadu dengan alunan elektronik kontemporer membelah keheningan Ballroom Hotel Mulia Senayan. Satu per satu model melangkah dalam balutan busana yang seolah menangkap fragmen waktu. Inilah koleksi KALA, persembahan terbaru desainer kenamaan Toton Januar yang dinobatkan sebagai penutup rangkaian Mulia in Fashion 2026. Peragaan tunggal ini bukan sekadar suguhan mode, melainkan perjalanan emosional yang merayakan masa lalu, kini, dan masa depan dalam helaian kain.
Panggung Megah di Tengah Pusaran Waktu
Hotel Mulia Senayan, yang telah menjadi ikon kemewahan dan panggung mode tanah air, kembali menjadi saksi bisu evolusi fesyen Indonesia. Malam itu, lebih dari 500 tamu undangan—mulai dari diplomat, selebritas, hingga pembeli internasional—memenuhi ballroom yang disulap menjadi ruang introspeksi. Tata cahaya bergerak dari warna emas lembut ke biru kelam, menyimbolkan siklus kehidupan yang menjadi benang merah koleksi KALA.
“Saya ingin tamu tidak hanya melihat pakaian, tapi merasakan perjalanan. Waktu adalah mewah yang tak bisa dibeli, dan itulah kemewahan sesungguhnya yang ingin saya tawarkan,” ujar Toton Januar dalam backstage interview sebelum show dimulai.
| Segmen | Inspirasi | Palet Warna |
|---|---|---|
| Masa Lalu | Batik klasik dan tenun lawas | Indigo, cokelat tua, ecru |
| Masa Kini | Arsitektur urban Jakarta | Abu-abu metalik, putih, merah bata |
| Masa Depan | Teknologi dan keberlanjutan | Perak holografis, hijau lumut, ungu digital |
Filosofi KALA: Lebih dari Sekadar Pakaian
Nama KALA diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti “waktu”. Dalam 46 looks yang diperagakan, Toton merangkai narasi tentang kefanaan dan keabadian. Ia memadukan teknik tenun tradisional dari Nusa Tenggara Timur dengan potongan modern yang tajam, menciptakan kontras yang justru harmonis. Detail beadwork manually yang memakan ratusan jam menjadi bukti dedikasi terhadap slow fashion.
“Setiap jahitan adalah doa, setiap motif adalah kenangan. KALA adalah jembatan antara warisan nenek moyang dan generasi yang akan datang,” tegas Toton saat konferensi pers usai peragaan.
Yang paling mencuri perhatian adalah gaun pengantin penutup berbahan tenun Sumba pewarna alam dengan siluet dramatis dan detachable train sepanjang 3,5 meter yang bertabur ribuan potongan cermin kecil—menggambarkan bagaimana masa lalu memantulkan harapan ke masa depan. Penonton memberikan standing ovation selama dua menit.
Dari Lokal untuk Dunia: Komitmen Keberlanjutan
Di balik kemegahan visual, TOTON menyelipkan misi keberlanjutan yang serius. 80% material koleksi ini berasal dari kain daur ulang dan serat alami yang diproduksi oleh perajin binaan Yayasan TOTON. Pewarna yang digunakan adalah indigo alami dari Kabupaten Bantul dan getah manggis dari Kalimantan. Langkah ini sejalan dengan komitmen Mulia in Fashion tahun ini yang mengusung tema “Green Luxury”.
“Kemewahan tidak harus merusak bumi. Justru kemewahan sejati adalah ketika kita bisa memberi kembali kepada alam dan manusianya,” kata Toton. Pernyataan ini disambut tepuk tangan meriah, menandai pergeseran selera pasar fesyen Indonesia yang semakin peduli pada isu lingkungan.
Mulia in Fashion: Panggung yang Melambungkan Nama
Gelaran Mulia in Fashion yang digelar selama tiga hari, dari 8 hingga 10 Juli 2026, telah menjadi barometer tren fesyen nasional. Sejak digagas pada 2018, acara ini konsisten menjembatani desainer mapan dengan konsumen high-end di Asia. Menampilkan 15 desainer terpilih, puncak acara selalu diberikan kepada satu nama besar sebagai penghormatan. Tahun ini, TOTON terpilih atas kontribusinya dalam mempopulerkan wastra nusantara di pentas global.
Kehadiran pembeli dari Singapura, Dubai, dan Tokyo di front row mempertegas posisi TOTON sebagai brand yang siap berekspansi. Beberapa looks dari koleksi KALA akan dibawa ke Paris Showroom September 2026 melalui program dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Reaksi Publik dan Pasar
Antusiasme tak hanya di atas panggung. Segera setelah show, platform e-commerce resmi TOTON mencatat lonjakan trafik lebih dari 300%. Beberapa item dari koleksi ready-to-wear KALA langsung masuk daftar tunggu, meski banderolnya berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 85 juta. Pengamat fesyen dari Universitas Indonesia, Dr. Anindita Paramastuti, menilai bahwa keberhasilan TOTON terletak pada kemampuannya menjawab kerinduan pasar akan produk yang punya jiwa.
“Koleksi ini bukan hanya cantik, tapi memiliki ‘jiwa’ yang bisa dirasakan. Itu yang membuat emotional connection antara pemakai dan karya,” ujarnya.
Dengan penutupan yang memukau ini, TOTON sekali lagi membuktikan bahwa fesyen Indonesia bukan sekadar pengikut tren global, melainkan penentu arah peradaban mode dunia yang lebih sadar dan bermakna.
[SOCIAL_TWEET]: TOTON tutup Mulia in Fashion 2026 dengan koleksi KALA yang merayakan waktu melalui wastra dan siluet modern. Dari tenun Sumba hingga gaun pengantin penuh cermin, ini adalah surat cinta untuk fesyen Indonesia. #TOTONkala #MuliainFashion #FesyenIndonesia #SlowFashion[SOCIAL_TG]: 🕰️ KALA: Saat TOTON merangkai waktu dalam benang dan kain. Peragaan terbaru Toton Januar di Mulia in Fashion 2026 sukses bikin standing ovation. Baca kisah di balik koleksi penuh makna ini! #TOTON #FashionIndonesia
Comments (0)