Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima orang jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda kini resmi memasuki hari ketiga. Guna memperkuat armada penyisiran di perairan terbuka yang memiliki dinamika arus kuat tersebut, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mengerahkan kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR), yakni KRI Kerambit-627, untuk menyisir area sekitar Pulau Sertung yang berdekatan langsung dengan kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pengerahan armada tempur ini dilakukan menyusul belum ditemukannya tanda-tanda keberadaan perahu motor yang ditumpangi rombongan jurnalis tersebut sejak dinyatakan hilang pada awal pekan. Tim SAR gabungan membagi sektor pencarian ke dalam beberapa zona prioritas dengan mempertimbangkan pemodelan arus laut dan arah angin terkini.
Kronologi dan Rangkaian Operasi Hari Ketiga
Penyisiran intensif dilakukan sejak fajar menyingsing dengan melibatkan koordinasi lintas instansi antara Basarnas, TNI AL, Polairud, serta potensi relawan maritim setempat. Berikut adalah urutan tahapan operasi yang berlangsung pada hari ketiga pencarian:
- Pukul 05.30 WIB: KRI Kerambit-627 bertolak dari dermaga logistik menuju titik koordinat terakhir terpantau (last known position) di sekitar perairan gugusan Kepulauan Krakatau.
- Pukul 07.15 WIB: Tim SAR gabungan memulai penyisiran visual dan menggunakan perangkat radar maritim di radius 15 mil laut dari Pulau Sertung dan Pulau Rakata.
- Pukul 10.00 WIB: Dua unit perahu karet bermesin (RIB) diturunkan dari kapal utama untuk melakukan manuver mendekati garis pantai Pulau Sertung yang berbatu dan dangkal.
- Pukul 13.30 WIB: Pemantauan udara diperbantukan guna memetakan anomali visual atau serpihan material di permukaan laut yang terbawa arus ke arah barat daya.
"Fokus penyisiran hari ini kami konsentrasikan di sekitar Pulau Sertung dan perairan selatan Anak Krakatau. Karakteristik perairan di sini sangat dinamis, sehingga KRI Kerambit-627 difungsikan sebagai pangkalan komando taktis sekaligus penyisir utama," tegas perwira koordinator SAR di lokasi operasi.
Tantangan Arus dan Gelombang di Sekitar Anak Krakatau
Operasi kemanusiaan ini menghadapi rintangan geografis dan meteorologis yang cukup kompleks. Perairan di sekitar Kompleks Vulkanik Krakatau dikenal memiliki batimetri curam dengan turbulensi arus bawah laut yang sulit diprediksi. Selain itu, kondisi cuaca di Selat Sunda dalam beberapa hari terakhir dilaporkan fluktuatif.
Untuk mengoptimalkan efektivitas pencarian, tim menerapkan sejumlah langkah teknis di lapangan:
- Pemanfaatan Sonar dan Radar: Penggunaan teknologi deteksi bawah air guna mendeteksi objek logam atau lambung kapal karam di kedalaman dangkal hingga menengah.
- Penyisiran Pesisir Pulau Tak Berpenghuni: Pemeriksaan celah-celah tebing dan teluk kecil di Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata untuk mengantisipasi kemungkinan korban terdampar.
- Komunikasi Radio Maritim: Menginstruksikan seluruh kapal niaga dan kapal nelayan yang melintasi Selat Sunda pada frekuensi darurat (VHF Channel 16) untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan korban.
Komitmen Pencarian Maksimal
Keluarga korban dan komunitas pers nasional terus menanti kabar perkembangan pencarian kelima jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan lingkungan maritim tersebut. Pihak otoritas SAR memastikan bahwa operasi akan terus dilanjutkan dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia hingga batas waktu standar operasi SAR, dengan evaluasi harian berbasis temuan data faktual di perairan.
Comments (0)