Bisnis

TEL AVIV — Panglima Militer Israel Deklarasikan Hamas Telah Kalah

Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, secara resmi menyampaikan laporan strategis kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu

TEL AVIV — Panglima Militer Israel Deklarasikan Hamas Telah Kalah

Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, secara resmi menyampaikan laporan strategis kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz. Dalam pertemuan tertutup tersebut, militer Israel menyimpulkan bahwa struktur militer Hamas telah mengalami kekalahan total dan pertempuran berskala besar di Jalur Gaza secara efektif telah berakhir.

Pernyataan ini menandai titik balik penting setelah pertikaian sengit yang berlangsung berbulan-bulan. Menurut laporan intelijen militer, kapabilitas komando dan kontrol milisi Palestina tersebut telah lumpuh hingga ke tingkat taktis terendah. "Hamas secara militer telah hancur dan tidak lagi berfungsi sebagai organisasi paramiliter yang terorganisir di Jalur Gaza," ujar seorang pejabat senior militer yang mengutip penilaian Eyal Zamir.

Analisis Strategis dan Rekapitulasi Operasi Militer

Penilaian bahwa Hamas telah kalah didasarkan pada kehancuran masif pada infrastruktur vital kelompok tersebut. Militer Israel mencatat telah melumpuhkan lebih dari 80 persen jaringan terowongan bawah tanah yang sebelumnya menjadi benteng pertahanan utama Hamas, serta mengeliminasi mayoritas kepemimpinan tingkat atas dan menengah.

Berikut adalah garis waktu kronologis penurunan kapabilitas militer Hamas selama jalannya operasi militer:

  1. Oktober 2023: Pembukaan operasi darat berskala besar yang berfokus pada isolasi Gaza Utara dan penghancuran pusat komando utama.
  2. Awal 2024: Perluasan operasi ke wilayah tengah dan selatan, termasuk Khan Younis, yang mengakibatkan hilangnya sebagian besar persenjataan berat Hamas.
  3. Pertengahan 2024: Pengambilalihan Koridor Philadelphi di perbatasan Mesir, yang memutus jalur suplai logistik dan penyelundupan senjata utama.
  4. Akhir 2024 hingga 2026: Netralisasi tokoh-tokoh kunci kepemimpinan Hamas dan pembongkaran batalyon-batalyon tersisa di Rafah.
"Fase pertempuran intensif telah usai. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa struktur kekuasaan politik dan militer Hamas tidak dapat bangkit kembali di kawasan ini," tegas pernyataan resmi dari lingkar dalam Kementerian Pertahanan Israel.

Perbandingan Kapabilitas Hamas Sebelum dan Sesudah Konflik

Data analitis menunjukkan penurunan drastis pada seluruh indikator kekuatan militer Hamas jika dibandingkan antara sebelum konflik meletus dan kondisi terkini:

Parameter Militer Sebelum Konflik (2023) Kondisi Terkini (2026)
Jumlah Personel Aktif ~30.000 milisi < 3.000 terisolasi
Peluncuran Roket Harian Ratusan unit/hari Hampir Nol
Infrastruktur Terowongan ~500 km beroperasi Dinetralisasi >80%
Struktur Komando Tersentralisasi & Solid Terfragmentasi Total

Implikasi Politik dan Masa Depan Gaza

Meskipun Panglima Militer Eyal Zamir mengumumkan berakhirnya perang secara militer, tantangan politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru semakin kompleks. Publik Israel kini mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan proses pemulangan seluruh sandera yang tersisa serta menetapkan skenario tata kelola Gaza pasca-perang (The Day After).

Para pengamat internasional menilai bahwa pernyataan kemenangan militer ini harus diikuti dengan solusi politik yang komprehensif. Tanpa adanya pemerintahan sipil yang stabil dan diakui secara internasional di Gaza, ketidakstabilan keamanan dikhawatirkan akan tetap membayangi kawasan perbatasan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User