Studi Baru: Terlalu Lama Online Picu Bad Mood dan Stres
Pernahkah Anda merasa lelah, kesal, atau cemas setelah berjam-jam menggulir linimasa media sosial? Jika ya, Anda tidak sendirian. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa penggunaan internet secara b...
Pernahkah Anda merasa lelah, kesal, atau cemas setelah berjam-jam menggulir linimasa media sosial? Jika ya, Anda tidak sendirian. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa penggunaan internet secara berlebihan berkaitan erat dengan memburuknya suasana hati dan meningkatnya tingkat stres. Temuan ini penting karena hampir seluruh aktivitas harian kita — dari bekerja, belanja, hingga bersosialisasi — kini bergantung pada platform digital. Ketika teknologi yang seharusnya mempermudah hidup justru menggerogoti kesehatan mental, pertanyaannya bukan lagi apakah kita online, melainkan seberapa lama dan untuk apa kita online.
Apa yang Ditemukan Para Peneliti?
Dalam studi tersebut, tim peneliti mengamati pola penggunaan internet para partisipan dan membandingkannya dengan kondisi psikologis mereka. Hasilnya konsisten: semakin lama seseorang menghabiskan waktu di dunia maya tanpa tujuan yang jelas, semakin tinggi kecenderungan mereka mengalami suasana hati negatif, kelelahan mental, dan gejala stres. Menariknya, dampak ini paling terasa pada penggunaan pasif, yaitu aktivitas menggulir konten tanpa berinteraksi. Salah satu bentuknya yang populer disebut doomscrolling, yakni kebiasaan menelan informasi negatif secara terus-menerus tanpa berhenti.
Ibarat seperti mesin yang dipaksa menyala 24 jam tanpa pendinginan, otak manusia juga membutuhkan jeda dari banjir informasi digital. Tanpa jeda tersebut, sistem kognitif kita kelebihan beban dan emosi menjadi lebih mudah goyah.
Mengapa Internet Berlebihan Mengganggu Emosi?
Secara biologis, ada penjelasan di balik fenomena ini. Platform media sosial dirancang dengan algoritma yang memanfaatkan sistem dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Setiap notifikasi, tanda suka, atau video baru memberikan suntikan dopamin kecil yang membuat kita terus kembali membuka aplikasi. Ibarat seperti permen: nikmat sesaat, tetapi menimbulkan kecanduan dan berdampak buruk jika dikonsumsi tanpa batas.
Selain itu, paparan berita negatif dan kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial memicu produksi kortisol, yakni hormon stres. Muncul pula fenomena FOMO (Fear of Missing Out/ketakutan tertinggal informasi) yang membuat pengguna cemas jika tidak terus memeriksa ponsel. Di sisi lain, cahaya biru dari layar pada malam hari mengganggu produksi melatonin, hormon pengatur tidur, sehingga kualitas istirahat menurun dan emosi makin tidak stabil keesokan harinya.
Data Penggunaan Internet: Seberapa Parah Kondisi Kita?
Berbagai laporan industri menunjukkan rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari untuk online, melampaui rata-rata global yang berkisar enam jam lebih. Artinya, hampir sepertiga waktu terjaga kita dihabiskan di depan layar. Berikut gambaran umum jenis aktivitas digital dan potensi dampaknya berdasarkan karakteristik penggunaannya:
| Aktivitas Digital | Karakteristik | Potensi Dampak |
|---|---|---|
| Doomscrolling berita | Pasif, tanpa tujuan | Kecemasan, suasana hati negatif |
| Media sosial | Perbandingan sosial | Minder, stres, FOMO |
| Streaming video berulang | Hiburan tanpa batas | Kurang tidur, kelelahan mental |
| Kerja dan belajar online | Produktif, terstruktur | Relatif netral jika dibatasi |
Perlu dicatat, penelitian ini menegaskan bahwa bukan internetnya yang menjadi sumber masalah, melainkan cara dan durasi penggunaannya. Penggunaan yang produktif dan terarah menunjukkan dampak yang jauh lebih kecil dibandingkan konsumsi konten tanpa henti.
'Internet ibarat pisau: sangat berguna di dapur, tetapi berbahaya jika digunakan tanpa kendali. Kuncinya ada pada kesadaran pengguna untuk mengatur batas,' ujar salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.
Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Para ahli menyarankan beberapa langkah implementasi sederhana. Pertama, terapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik. Kedua, matikan notifikasi yang tidak penting agar algoritma platform tidak mengendalikan perhatian Anda. Ketiga, tetapkan jam bebas layar, terutama satu jam sebelum tidur, agar kualitas istirahat tetap terjaga.
Sejumlah platform dan sistem operasi ponsel kini juga menyediakan fitur kesehatan digital, atau yang dikenal dengan istilah digital wellbeing. Fitur ini memantau screen time (durasi total penggunaan layar harian) dan dapat membatasi akses ke aplikasi tertentu. Inovasi semacam ini menunjukkan industri teknologi mulai menyadari tanggung jawabnya dalam ekosistem kesehatan mental pengguna.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tuan. Dengan pengelolaan yang bijak dan batasan yang jelas, kita tetap bisa menikmati efisiensi dunia digital tanpa harus membayarnya dengan suasana hati yang buruk dan stres berkepanjangan.
Comments (0)