Serangan Houthi di Yaman Tengah, Apa Bedanya dengan Militer Yaman?
Mengapa konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia ini penting untuk Anda pahami? Jawabannya sederhana: stabilitas Yaman berpengaruh langsung pada jalur pelayaran Laut Merah, salah satu arte...
Mengapa konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia ini penting untuk Anda pahami? Jawabannya sederhana: stabilitas Yaman berpengaruh langsung pada jalur pelayaran Laut Merah, salah satu arteri perdagangan dunia yang ikut menentukan harga minyak, biaya logistik, hingga ongkos barang-barang yang kita beli sehari-hari. Ketika ketegangan di sana memanas, efeknya bisa terasa sampai ke dompet konsumen di Asia Tenggara.
Kabar terbaru dari kawasan itu datang pada Kamis (6/8) malam. Pasukan Houthi dilaporkan menyerang sebuah kamp militer di wilayah Yaman bagian tengah. Serangan tersebut menewaskan 30 personel pasukan pemerintah Yaman dan melukai 11 warga sipil. Peristiwa ini kembali menyorot pertanyaan yang kerap membingungkan pembaca awam: jika sama-sama berada di satu negara, apa sebenarnya perbedaan antara pasukan Houthi dan militer Yaman?
Dua Kekuatan Bersenjata dalam Satu Negara
Ibarat seperti satu rumah besar yang dihuni dua keluarga yang saling berseteru, Yaman saat ini memiliki dua kekuatan bersenjata yang sama-sama mengklaim legitimasi. Di satu sisi ada militer Yaman, yakni angkatan bersenjata resmi yang setia kepada pemerintah yang diakui masyarakat internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di sisi lain ada pasukan Houthi, gerakan bersenjata yang berakar dari komunitas Syiah Zaidi di Provinsi Saada, Yaman utara.
Houthi sebenarnya bukan nama resmi. Gerakan ini menamai dirinya Ansar Allah, yang berarti 'Pembela Tuhan'. Sebutan Houthi diambil dari nama pendirinya, Hussein Badreddin al-Houthi, yang tewas pada 2004 dalam pemberontakan melawan pemerintah. Dari gerakan lokal di pegunungan utara, kelompok ini bertransformasi menjadi kekuatan besar yang mampu menguasai ibu kota Sanaa pada September 2014 dan memaksa presiden yang berkuasa saat itu melarikan diri dari kota tersebut.
Akar Konflik dan Dukungan Asing
Eskalasi terbesar terjadi pada Maret 2015, ketika koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk memulihkan pemerintahan yang diakui internasional. Sejak itu, Yaman terjebak dalam perang berkepanjangan yang menewaskan ratusan ribu orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia menurut PBB.
Perbedaan mendasar kedua pihak bisa dilihat dari tiga hal. Pertama, legitimasi: militer Yaman diakui dunia, sedangkan Houthi dipandang sebagai pemberontak oleh sebagian besar komunitas internasional, meski menguasai wilayah berpenduduk padat termasuk Sanaa. Kedua, basis dukungan: pemerintah Yaman disokong koalisi Arab Saudi dan sekutunya, sementara Houthi kerap dituding menerima pasokan senjata serta pelatihan dari Iran, tuduhan yang dibantah Teheran. Ketiga, wilayah kendali: Houthi menguasai sebagian besar Yaman utara dan barat, sementara pasukan pemerintah bertahan di wilayah tengah dan selatan.
Peran Teknologi dalam Perang Asimetris
Dari sisi teknologi, konflik ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi militer mengubah peta kekuatan. Houthi, yang secara tradisional bukan angkatan perang konvensional, kini rutin menggunakan drone (pesawat tanpa awak) dan rudal balistik untuk menyerang target yang berjarak ratusan kilometer. Teknologi ini membuat kelompok non-negara mampu melakukan disrupsi terhadap keamanan kawasan, termasuk mengganggu pelayaran komersial di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb sejak akhir 2023.
Implementasi algoritma navigasi dan sistem kendali jarak jauh pada drone-drone tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang semula dikembangkan untuk keperluan sipil bisa diadopsi menjadi alat perang. Ibarat seperti pisau dapur yang bisa dipakai memasak atau melukai, teknologi pada dasarnya netral; pihak yang menggunakannyalah yang menentukan dampak akhirnya. Pengembangan senjata semacam ini juga memperlihatkan bagaimana efisiensi biaya produksi drone membuat perang modern semakin sulit diprediksi.
Dampak bagi Kawasan dan Dunia
Serangan terbaru di Yaman tengah ini menegaskan bahwa gencatan senjata yang rapuh belum berarti perdamaian. Bagi dunia, termasuk Indonesia, eskalasi di Yaman berarti risiko nyata pada jalur logistik global. Sekitar 12 persen perdagangan dunia melintasi Laut Merah. Ketika kapal-kapal memutar haluan ke Tanjung Harapan demi keamanan, biaya pengiriman membengkak dan harga komoditas ikut terdorong naik.
Perkembangan situasi di Yaman akan terus dipantau, sebab perbedaan antara pasukan Houthi dan militer Yaman bukan sekadar soal nama atau seragam, melainkan cerminan perebutan legitimasi, wilayah, dan pengaruh kekuatan regional yang hingga kini belum menemukan titik temu.
Comments (0)