Ketika milisi Houthi kembali meluncurkan drone dan rudal ke arah kota-kota perbatasan, ada pertanyaan yang semakin sering muncul di Riyadh: sampai kapan Arab Saudi harus menanggung risiko ini sendirian? Kekecewaan terhadap negara-negara Barat mulai muncul ke permukaan. Ini bukan sekadar keretakan diplomasi biasa. Ini menyangkut keamanan energi global, stabilitas Selat Bab el-Mandeb, dan pada akhirnya harga bensin yang Anda bayar di pompa bensin.
Ibarat seperti seseorang yang membayar asuransi mahal bertahun-tahun, lalu saat rumahnya hampir terbakar, perusahaan asuransi itu hanya mengirim pesan berisi imbauan supaya tenang tanpa mengirim pemadam kebakaran. Itulah gambaran yang kini dirasakan sebagian pejabat Saudi terhadap sikap Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa.
Serangan Houthi yang Tak Kunjung Reda
Milisi Houthi, kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar Yaman, terus meningkatkan kapabilitas militernya. Mereka mengoperasikan drone berbiaya rendah, rudal balistik jarak menengah, hingga perangkat laut tak berawak yang menargetkan kapal kargo di jalur pelayaran internasional. Jalur ini, Bab el-Mandeb, adalah salah satu koridor perdagangan paling vital di dunia. Sekitar 12% perdagangan global dan hampir 30% lalu lintas kontainer melewati perairan tersebut.
Menurut sejumlah laporan, eskalasi serangan sepanjang tahun ini telah memaksa perusahaan pelayaran besar mengalihkan rute memutar ke Tanjung Harapan. Konsekuensinya jelas: waktu pengiriman bertambah 10-14 hari dan biaya logistik naik hingga dua kali lipat. Efek domino inilah yang kemudian mendorong kenaikan inflasi di banyak negara, termasuk Indonesia, karena barang impor dari Eropa dan Timur Tengah menjadi lebih mahal.
Arab Saudi sebagai negara tetangga langsung menanggung dampak keamanan. Bandara internasionalnya beberapa kali menjadi sasaran, fasilitas minyaknya pernah diserang, dan warga sipil di wilayah selatan hidup dalam bayang-bayang sirene peringatan.
Dukungan Barat yang Dianggap Setengah Hati
Selama bertahun-tahun, Riyadh memandang Washington dan ibu kota Eropa sebagai mitra strategis. Namun dalam konflik melawan Houthi, Saudi merasa dukungan itu bersifat selektif. Bantuan intelijen dan logistik ada, tetapi tidak dalam skala yang diharapkan. Persenjataan canggih yang sempat dijanjikan kerap tertahan oleh proses politik di kongres dan parlemen negara-negara Barat.
"Ada kesan bahwa kepentingan keamanan Saudi hanya dijadikan alat tawar-menawar politik domestik di negara-negara Barat," kata seorang analis pertahanan Timur Tengah yang tidak ingin disebutkan namanya.
Menariknya, ketegangan ini tidak muncul di ruang hampa. Normalisasi hubungan Saudi dengan Iran pada 2023 lewat mediasi Tiongkok menunjukkan Riyadh mulai mencari opsi di luar kerangka aliansi tradisionalnya. Langkah itu menjadi sinyal bahwa pengembangan arsitektur keamanan kawasan tidak lagi bisa bergantung pada satu blok saja.
Dari sisi teknologi, Houthi terbukti adaptif. Mereka memanfaatkan komponen komersial yang mudah didapat untuk merakit drone dan rudal. Ini menciptakan tantangan baru: sistem pertahanan udara mahal seperti Patriot, yang harganya mencapai USD 4 juta per unit rudal, harus dihadapkan pada serangan drone seharga USD 2.000-20.000 per unit. Rasio biaya ini adalah mimpi buruk bagi negara mana pun.
Implikasi bagi Ekosistem Keamanan Global
Kekecewaan Saudi terhadap Barat berpotensi mengubah lanskap geopolitik dalam beberapa tahun ke depan. Beberapa dampak yang mungkin terjadi:
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Aliansi militer | Saudi lebih agresif menjajaki kerja sama dengan Tiongkok dan Rusia |
| Pasar senjata | Diversifikasi pembelian alutsista dari pemasok non-Barat |
| Harga minyak | Ketidakpastian pasokan memicu volatilitas harga global |
| Logistik dunia | Biaya pelayaran dan asuransi kargo terus melonjak |
Bagi Indonesia sendiri, situasi ini bukan berita jauh. Sebagai negara importir minyak dan barang manufaktur, gejolak di Timur Tengah langsung terasa pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Setiap eskalasi di Yaman hampir selalu diikuti kenaikan harga minyak mentah dunia, yang kemudian memicu kenaikan biaya transportasi dan harga pangan.
Pertanyaan besarnya: apakah negara-negara Barat akan serius merespons kekecewaan ini, atau membiarkan sekutu lamanya mencari kawan baru? Yang jelas, dalam ekosistem keamanan global yang semakin terfragmentasi, kesetiaan tidak lagi gratis. Dan Riyadh, dengan seluruh kekuatan ekonominya, sedang menghitung ulang harga dari sebuah aliansi.
Comments (0)