Rutin Ziarah Gunung Kawi, Pendiri Rokok Jadi Miliarder
MALANG — Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, bukan sekadar destinasi wisata religi. Ratusan peziarah mendaki bukit setinggi 2.651 meter di atas pe
MALANG — Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, bukan sekadar destinasi wisata religi. Ratusan peziarah mendaki bukit setinggi 2.651 meter di atas permukaan laut ini untuk memohon kelancaran rezeki dan usaha. Dari ribuan penziarah itu, satu nama yang konsisten puluhan tahun merapat ke tempat ini adalah Haji Sutrisno, pendiri PT Nusantara Smokers, salah satu raksasa rokok Indonesia yang kini bernilai triliunan rupiah.
Bagi Haji Sutrisno—begitu ia akrab disapa—Gunung Kawi adalah "kunci spiritual" yang membuka pintu sukses. Pria kelahiran Malang pada 1952 ini memulai ritus ziarahnya sejak 1975, saat usahanya masih berupa kios rokok asongan di Pasar Besar Malang. "Waktu itu saya jualan rokok keliling, modal cekak, bahkan sering utang beras untuk makan. Setelah ikut tirakatan di Pesarean Gunung Kawi, semua berubah," tuturnya dalam wawancara khusus pekan lalu.
Panggilan Mbah Djugo: Awal Perjalanan Spiritual
Gunung Kawi diyakini sebagai tempat peristirahatan spiritual Eyang Djugo, abdi Dalem Keraton Mataram yang pamornya melegenda di kalangan pebisnis Tionghoa-Indonesia. Sutrisno muda mendengar bisikan dari sesama pedagang bahwa "Mbah Djugo" kerap memberi petunjuk melalui mimpi. Pada Juli 1975, ia pun nekat mendaki bersama dua rekannya, hanya bermodal nasi bungkus dan tekad.
"Saya nggak bawa apa-apa selain keyakinan. Di puncak, saya menangis, berdoa semalaman, dan pulang dengan perasaan ringan. Sebulan kemudian, tiba-tiba ada pengusaha dari Surabaya yang menawari kerja sama distribusi rokok kretek," kenangnya.
Ritual Ziarah yang Berlanjut Puluhan Tahun
Sejak saat itu, Sutrisno menetapkan komitmen: setiap bulan sekali ia wajib naik ke Gunung Kawi, tepat di malam Jumat Legi sesuai penanggalan Jawa. Ritual dilakukan dengan tirakat—tidak makan dan minum selama 12 jam—di depan makam Eyang Djugo, dilanjutkan sedekah kepada warga sekitar. Ia yakin bahwa energi leluhur yang kuat membuat insting bisnisnya tajam. "Banyak yang mengejek, bilang saya klenik. Tapi buktinya, setiap kali saya lengah, perusahaan sempat goyah, dan setelah saya kembali ziarah, masalah selesai," ungkap Sutrisno.
Lompatan Bisnis: Dari Asongan ke Kerajaan Kretek
Setelah ritual pertamanya, lompatan bisnis terasa cepat. Pada 1978, Sutrisno membuka bengkel kecil pembuatan rokok di rumah kontrakan sisi rel kereta. Modal pertama dari simpanan hasil kerja sama distribusi. Melalui merek "Cahaya Kawi", rokok kretek racikan tangannya mulai dilirik. Pasar membesar ke luar Malang hingga Surabaya. Tahun 1982, CV sederhana itu berubah menjadi PT Nusantara Smokers dengan pabrik pertama di Kecamatan Lawang.
Karyawan yang semula 12 orang melonjak menjadi 500 pada 1987. Omzet yang hanya Rp 5 juta per bulan pada 1978, menembus Rp 2 miliar per bulan di 1990, berkat ekspansi ke Sumatera dan Kalimantan. Sutrisno tidak pernah berhenti melakukan ziarah. Pada periode 1990-an, ketika gempuran rokok putih multinasional masuk, ia mengaku kembali mendapat "petunjuk" dari kunjungannya: mengambil alih lahan tembakau sendiri di lereng Gunung Semeru dan Bromo. Langkah ini menekan biaya produksi dan mempertahankan kualitas.
Rapor Kekayaan Sang Miliarder Pilgub
Kini, PT Nusantara Smokers mempekerjakan lebih dari 10.000 orang di tiga pabrik—Malang, Kediri, dan Jember—serta memiliki jaringan distribusi di 34 provinsi. Sutrisno belum memegang posisi eksekutif karena telah diwariskan ke anak-anaknya, tetapi tetap sebagai komisaris utama. Forbes Indonesia mencatat kekayaan bersihnya pada 2023 mencapai Rp 6,2 triliun, masuk dalam daftar 50 orang terkaya nasional.
| Tahun | Perkiraan Kekayaan Bersih | Karyawan | Capaian Utama |
|---|---|---|---|
| 1975 | Rp 0 (aset) | 2 (berjualan bersama istri) | Ziarah pertama Gunung Kawi |
| 1982 | Rp 50 juta | 12 | Pendirian PT Nusantara Smokers |
| 1995 | Rp 800 miliar | 5.000 | Ekspor ke Malaysia dan Timor Leste |
| 2010 | Rp 3,5 triliun | 8.500 | Pabrik ketiga di Jember beroperasi |
| 2023 | Rp 6,2 triliun | 10.200 | Masuk daftar Forbes 50 Richest Indonesia |
Bukan Satu-satunya: Jejak Spiritual Pengusaha Lain
Haji Sutrisno bukanlah anomali. Sejarawan ekonomi Universitas Brawijaya, Nur Ahmad, menyebut Gunung Kawi telah lama menjadi magnet bagi wirausaha. "Banyak pengusaha keturunan Tionghoa dan Jawa yang datang. Ini fenomena budaya bisnis: mereka mencari legitimasi spiritual untuk keberanian mengambil risiko," jelas Ahmad. Ia mencatat, selain Sutrisno, pendiri beberapa perusahaan besar di sektor rokok, properti, dan perkebunan memiliki kisah serupa meski enggan dipublikasikan.
Warisan Spiritual dan Masa Depan
Kini di usia 73 tahun, Sutrisno tetap mendaki Gunung Kawi walau sudah menggunakan kursi roda. Ia mewajibkan anak-anaknya untuk ikut setahun sekali pada malam pergantian tahun Jawa. Bagi dia, "spiritualitas bukan untuk meminta uang, tapi untuk diberikan kepekaan membaca zaman." "Rokok ini barang sensitif, aturan cukai berubah setiap tahun. Saya bisa bertahan karena insting, dan insting itu dari sini," kata Sutrisno menunjuk dadanya.
[SOCIAL_TWEET]: Dagangan asongan berubah jadi kerajaan rokok senilai triliunan rupiah—berkat ziarah rutin ke Gunung Kawi. Haji Sutrisno buktikan spiritualitas adalah kunci bisnis. #GunungKawi #MiliarderRokok #CeritaSukses[SOCIAL_TG]: 🌋 Dari Gunung Kawi ke puncak bisnis! Haji Sutrisno raup Rp 6,2 triliun setelah rajin ziarah. Intip cerita lengkapnya di sini... 👇
Comments (0)