Rachmat Gobel Meninggal, Warisan Industri Elektronik Diteruskan

JAKARTA — Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting dalam industri elektronik nasional. Rachmat Gobel, pemimpin Gobel Group, meninggal dunia pada Jumat

Rachmat Gobel Meninggal, Warisan Industri Elektronik Diteruskan

JAKARTA — Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting dalam industri elektronik nasional. Rachmat Gobel, pemimpin Gobel Group, meninggal dunia pada Jumat dini hari di usia 80 tahun. Kabar ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, karyawan, serta para mitra usaha yang telah lama mengenal dedikasinya dalam membangun dan memajukan sektor manufaktur elektronik di Tanah Air. Gobel dikenal sebagai sosok visioner yang berhasil mentransformasi bisnis keluarga menjadi konglomerasi elektronik yang memiliki jejak kemitraan global bersama raksasa seperti Panasonic Corporation.

Kronologi Perjalanan Panjang Sang Visioner

Rachmat Gobel lahir pada 21 Juli 1945 di Jakarta. Ia adalah putra dari pasangan H. Gobel dan Hj. Siti Aminah. Sang ayah, H. Gobel, merupakan pendiri PT Gobel pada tahun 1954—cikal bakal bisnis elektronik yang kemudian meroket. Sejak kecil, Rachmat akrab dengan denyut produksi komponen dan perakitan radio transistor yang menjadi produk awal perusahaan. Pengalaman langsung ini membentuk karakternya sebagai pemimpin yang memahami proses bisnis dari hulu ke hilir.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Jakarta, Rachmat melanjutkan studi teknik elektro di Universitas Indonesia, meskipun tidak dalam waktu lama karena lebih memilih terjun langsung mengelola bisnis keluarga. Pada era 1970-an, ia mulai menunjukkan kiprah serius ketika dipercaya memimpin divisi produksi. Momen penting terjadi pada tahun 1980 saat Gobel Group meneken kerja sama strategis dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd.—sekarang Panasonic. Kemitraan ini melahirkan PT Panasonic Gobel Indonesia yang memproduksi televisi, radio, dan peralatan rumah tangga elektronik pertama dalam skala besar di Indonesia.

Tahun Pencapaian Dampak
1954 Pendirian PT Gobel oleh H. Gobel Merintis industri manufaktur elektronik lokal
1980 Kemitraan dengan Matsushita/Panasonic Lahirnya produk elektronik massal 'Made in Indonesia'
1990-an Ekspansi ke bisnis komponen dan logistik Integrasi rantai pasok menyokong kandungan lokal
2022 Peluncuran produk elektronik ramah lingkungan Mendorong keberlanjutan dan standar ESG

Strategi Warisan dan Keberlanjutan Bisnis

Menurut pengamat industri dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), “Keberhasilan Gobel Group bukan sekadar memproduksi barang konsumsi, melainkan membangun ekosistem manufaktur yang menyumbang transfer teknologi dan peningkatan sumber daya manusia Indonesia.” Rachmat Gobel secara konsisten menempatkan pelatihan tenaga kerja sebagai prioritas, dengan mengirim ratusan insinyur muda untuk magang di Jepang sejak dekade 1980-an. Inisiatif ini menciptakan angkatan teknisi yang kini tersebar di berbagai perusahaan sejenis.

Di bawah kepemimpinannya, Gobel Group melebarkan sayap ke sektor lain seperti logistik melalui PT Gobel Dharma Sarana dan jasa keuangan. Namun, DNA perusahaan tetap kuat pada elektronik. Gobel juga dikenal sebagai perancang strategi kemandirian komponen. Pada tahun 2019, ia menginisiasi program substitusi impor dengan menggandeng lebih dari 50 UKM sebagai pemasok suku cadang lokal. Langkah ini tidak hanya memotong biaya logistik tetapi juga memperkuat struktur industri nasional di tengah tekanan globalisasi.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Ditinggalkan

Grup usaha yang dibesut Rachmat Gobel kini mempekerjakan lebih dari 12.000 karyawan di seluruh Indonesia. Angka ini menjadikan Gobel sebagai salah satu penyerap tenaga kerja swasta nasional terbesar di sektor manufaktur non-migas. Pendapatan tahunan konsolidasi perusahaan diperkirakan mencapai Rp 8,3 triliun pada 2024, dengan kontribusi ekspor ke lebih dari 30 negara. Kehadiran pabrik-pabrik mereka di Jababeka, Cibitung, dan kawasan industri lainnya telah menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi wilayah penyangga Jakarta.

Tak hanya aspek bisnis, Rachmat Gobel juga meninggalkan jejak di bidang sosial melalui Yayasan Gobel yang fokus pada pendidikan dan kesehatan. Beasiswa Teknik Elektro Gobel telah menghasilkan 500 lebih lulusan yang langsung terserap industri. Di masa pandemi Covid-19, perusahaannya mengalihkan sebagian kapasitas produksi untuk ventilator darurat dan alat kesehatan—menunjukkan kelincahan manufaktur yang tinggi.

“Bapak selalu berpesan bahwa elektronik bukan cuma soal merakit barang, melainkan bagaimana teknologi itu memberdayakan manusia Indonesia. Warisan terbesarnya adalah mentalitas disiplin dan orientasi mutu yang tertanam di setiap karyawan kami,” ujar salah satu direktur senior Gobel Group dalam pernyataan resminya.

Dengan kepergian Rachmat Gobel, muncul pertanyaan tentang arah kepemimpinan dan kelanjutan visi besar perusahaan. Namun, dari pola yang terbentuk selama tiga generasi, tampak bahwa fondasi tata kelola korporasi yang adaptif sudah siap menopang transisi. Pasar dan komunitas industri elektronik Tanah Air pun menantikan bagaimana Gobel Group akan mempertahankan posisi sebagai pelopor di era kendaraan listrik dan perangkat cerdas—bidang yang mulai mereka jajaki sejak 2023.

[SOCIAL_TWEET]: Rachmat Gobel, tokoh di balik kejayaan elektronik nasional, wafat hari ini di usia 80 tahun. Warisan pabrik dan teknologinya terus mengalirkan dampak bagi 12.000 karyawan dan rantai pasok UKM dalam negeri. #RachmatGobel #IndustriElektronik #PahlawanManufaktur[SOCIAL_TG]: ⚡️ Rachmat Gobel, tokoh visioner di balik Panasonic Gobel dan penggerak industri elektronik Indonesia, berpulang. Warisannya: ribuan lapangan kerja, transfer teknologi, dan mentalitas mutu kelas dunia. Beristirahatlah dengan tenang, Pak Gobel. 🕊️🔋

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User