Bisnis

RI Mulai Berani Bikin Roket Canggih Sendiri, 3 Tahun Lagi Uji Terbang

BRIN mengembangkan roket dua tingkat untuk uji terbang 2029, didukung Program Riset Invitasi Strategis.]]>

RI Mulai Berani Bikin Roket Canggih Sendiri, 3 Tahun Lagi Uji Terbang

RI Mulai Berani Bikin Roket Canggih Sendiri, 3 Tahun Lagi Uji Terbang

Indonesia secara resmi memasuki era baru dalam industri dirgantara domestik dengan mengumumkan rencana pengembangan roket canggih buatan sendiri. Program ambisius ini ditandai dengan jadwal uji terbang yang direncanakan akan dilaksanakan dalam tiga tahun ke depan. Pengumuman ini menandai tonggak sejarah penting bagi negara yang sebelumnya bergantung pada impor teknologi luar negeri untuk kebutuhan sektor dirgantara dan antariksa.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan bahwa pengembangan roket ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun industri dirgantara yang mandiri. "Kita tidak bisa lagi bergantung pada teknologi asing, terutama untuk sektor strategis seperti dirgantara. Dengan memiliki teknologi roket sendiri, Indonesia akan memiliki kedaulatan teknologi yang lebih kuat," ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Program Pengembangan Roket Nasional

Program pengembangan roket nasional ini diberi nama "Garuda" yang merupakan akronim dari "Gagasan Roket Untuk Riset Antariksa dan Aplikasi". Roket ini dirancang untuk mampu mengangkut muatan hingga 500 kilogram ke ketinggian 500 kilometer. Desain roket ini mengusung teknologi canggih termasuk sistem propulasi cair yang lebih efisien dibandingkan generasi sebelumnya.

Dalam tahap awal, pengembangan roket ini akan difokuskan pada dua komponen utama, yakni mesin roket dan sistem avionik. Tim peneliti dari BRIN bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) untuk mengembangkan teknisi-teknisi muda yang berkompeten dalam bidang ini.

"Kami telah melatih puluhan teknisi selama dua tahun terakhir. Mereka telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menguasai teknologi roket. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, kami yakin dalam tiga tahun ke depan kita dapat melakukan uji terbang pertama," jelas Kepala Divisi Pengembangan Sistem Propulsi BRIN, Dr. Andi Pangeran.

Tantangan dan Peluang

Mengembangkan roket canggih buatan sendiri tidaklah mudah. Indonesia menghadapi berbagai tantangan teknis dan non-teknis dalam mewujudkan program ini. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya alam bahan bakar roket yang memenuhi standar internasional. Selain itu, Indonesia juga perlu membangun infrastruktur pendukung yang memadai seperti fasilitas uji coba dan integrasi sistem.

Namun, di tengah berbagai tantangan ini, terdapat peluang besar yang bisa dimanfaatkan. Industri dirgantara global terus tumbuh dengan prediksi nilai pasar mencapai triliun dolar dalam dekade mendatang. Dengan memiliki teknologi roket sendiri, Indonesia berpotensi masuk ke dalam pasar yang sebelumnya didominasi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China.

"Kita tidak perlu bersaing langsung dengan negara-negara tersebut di segmen pasar yang sudah padat. Kita bisa fokus pada niche market seperti peluncuhan satelit mikro dan kecil untuk negara-negara berkembang. Potensi ini sangat besar dan bisa menjadi sumber devisa bagi negara," ungkap se analis industri dirgantara, Ahmad Fauzi.

Jejak Sejarah Industri Dirgawati Indonesia

Jejak Indonesia di bidang dirgantara telah dimulai sejak era 1970-an dengan program satelita komunikasi Palapa. Namun, pengembangan teknologi roket sendiri baru benar-benar diakselerasi dalam dekade terakhir melalui program Roket Sonda R-1H dan R-2. Program-program ini telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi roket meskipun masih pada skala terbatas.

Dalam pidato perdananya sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan dukungan penuhnya terhadap pengembangan industri dirgantara nasional. "BUMN akan menjadi motor penggerak dalam mewujudkan visi ini. Beberapa BUMN strategis seperti PT Dirgantara Indonesia (DI) dan PT PAL Indonesia akan terlibat langsung dalam program ini," jelasnya.

Visi 2045: Indonesia sebagai Kekuatan Dirgantara

Pengembangan roket canggih ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai kekuatan dirgantara pada 2045. Dalam jangka panjang, Indonesia berencana untuk membangun pangkalan peluncuran roket di beberapa lokasi strategis di Indonesia, termasuk di Pulau Papua dan Kepulauan Riau. Lokasi-lokasi ini dipilih karena posisinya yang lebih dekat dengan khatulistiwa, sehingga memudahkan peluncuhan satelit.

Untuk memastikan kelancaran program ini, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 triliun untuk lima tahun ke depan. Anggaran ini akan digunakan untuk pengembangan teknologi, pembangunan infrastruktur, dan pelatihan sumber daya manusia. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi melalui program kemitraan.

Dengan semua persiapan yang telah dilakukan, Indonesia semakin dekat untuk mewujudkan mimpanya menjadi negara dengan teknologi roket canggih buatan sendiri. Uji terbang dalam tiga tahun ke depan akan menjadi bukti nyata bahwa Indonesia telah siang melangkah maju dalam menguasai teknologi dirgantara. Keberhasilan program ini tidak hanya akan meningkatkan kedaulatan teknologi Indonesia, tetapi juga membuka peluang baru bagi industri dirgantara nasional untuk bersaing di panggung internasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User