Profesor Iris Rengganis Ingatkan Vaksin Influenza Cegah Komplikasi Berat

Jakarta, Terdepan.id – Di tengah transisi musim yang kerap memicu lonjakan penyakit pernapasan, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universi

Profesor Iris Rengganis Ingatkan Vaksin Influenza Cegah Komplikasi Berat

Jakarta, Terdepan.id – Di tengah transisi musim yang kerap memicu lonjakan penyakit pernapasan, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Dr dr Iris Rengganis SpPD-KAI, kembali menekankan urgensi vaksinasi influenza tahunan. Dalam sebuah seminar kesehatan bertajuk “Perlindungan Optimal di Musim Pancaroba” yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/4/2025), pakar alergi imunologi klinis ini membeberkan data terbaru dan meluruskan sejumlah miskonsepsi seputar imunisasi flu. “Influenza bukan sekadar pilek berat. Virus ini bisa memicu pneumonia, serangan asma akut, bahkan gagal jantung pada populasi rentan. Satu suntikan tahunan mampu menurunkan risiko rawat inap hingga 40–60 persen,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta yang terdiri dari kalangan medis, komunitas lansia, dan awak media.

Beban Kesehatan yang Sering Diremehkan

Prof. Iris, yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi Alergi Imunologi Klinis Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM, memaparkan bahwa estimasi kasus influenza di Indonesia mencapai 4–6 juta episode per tahun, meskipun angka pencatatan resmi masih minim. Merujuk pada pemodelan global dari World Health Organization (WHO), negara beriklim tropis dengan dua puncak musim hujan seperti Indonesia justru menghadapi risiko transmisi sepanjang tahun. “Kita tidak mengenal satu musim flu tunggal. Sirkulasi virus terjadi terus-menerus, terutama di lingkungan padat seperti perkantoran, sekolah, dan transportasi publik,” tegasnya. Biaya ekonomi dari influenza juga tidak kecil; rata-rata pasien dewasa kehilangan 3–5 hari kerja per episode, belum termasuk biaya pengobatan simtomatik yang bisa mencapai jutaan rupiah jika terjadi komplikasi.

Strategi Vaksinasi: Mengapa Harus Setiap Tahun?

Prof. Iris menjelaskan bahwa rekomendasi vaksinasi ulangan setiap tahun didasari oleh dua alasan utama: penurunan titer antibodi dan laju mutasi virus yang tinggi. “Strain influenza yang dominan bisa berbeda dari musim ke musim. Vaksin diformulasikan ulang setiap tahun berdasarkan surveilans global yang dikoordinasikan WHO,” jelasnya. Ia mencontohkan, vaksin kuadrivalen yang tersedia di tanah air saat ini melindungi dari empat galur—dua tipe A (biasanya H1N1 dan H3N2) dan dua tipe B. Efektivitasnya berkisar antara 50–70 persen pada musim dengan kecocokan strain yang baik, namun jika pun tidak sepenuhnya mencegah infeksi, vaksinasi secara signifikan mengurangi keparahan gejala dan lama perawatan di rumah sakit.

“Pasien dengan komorbid diabetes atau penyakit jantung yang divaksinasi berpeluang 30 persen lebih rendah mengalami serangan jantung akut dalam tiga bulan pasca-infeksi flu,” tegas Prof. Iris, mengutip studi di jurnal Circulation (2024).

Target Populasi Prioritas dan Keamanan

Dalam pemaparannya, Prof. Iris merinci kelompok yang paling diuntungkan dari vaksinasi influenza: 1) lanjut usia di atas 60 tahun, 2) anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, 3) ibu hamil pada trimester berapa pun, 4) penderita penyakit kronis (diabetes, PPOK, gagal ginjal, HIV/AIDS), dan 5) tenaga kesehatan. Menariknya, vaksinasi pada ibu hamil tidak hanya melindungi sang ibu, melainkan juga mentransfer antibodi ke janin sehingga bayi mendapat perlindungan selama enam bulan pertama kehidupan. “Vaksin influenza adalah salah satu imunisasi paling aman. Efek samping umum hanya nyeri lokal di tempat suntikan atau demam ringan yang hilang dalam 24 jam. Reaksi anafilaksis sangat jarang, kurang dari 1 per 1 juta dosis,” paparnya.

Menjawab Mitos: Vaksin Tidak Menyebabkan Flu

Prof. Iris menyisihkan waktu khusus untuk membantah mitos yang kerap beredar. “Banyak yang takut divaksin karena mengira akan langsung sakit flu. Itu mustahil karena vaksin yang tersedia di Indonesia adalah virus inaktif—bukan virus hidup yang dilemahkan. Gejala ringan setelah vaksinasi menandakan sistem imun sedang bekerja membentuk antibodi, bukan infeksi flu sejati,” tandasnya. Ia juga menekankan bahwa vaksinasi tidak melemahkan imunitas alami, melainkan melatihnya agar spesifik dan cepat mengenali virus liar. Untuk penderita alergi telur ringan, ia memastikan bahwa vaksin berbasis sel atau produksi teknologi rekombinan sudah tersedia dan aman.

Menutup sesi, Prof. Iris optimistis cakupan vaksinasi influenza nasional yang saat ini masih di bawah 5 persen dari total populasi dapat ditingkatkan melalui edukasi berkelanjutan dan kebijakan harga yang lebih terjangkau oleh pemerintah. “Ini soal investasi kesehatan jangka panjang. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk vaksinasi bisa menghemat biaya pengobatan hingga tujuh kali lipat.”

[SOCIAL_TWEET]: Pakar Imunologi UI, Prof. Iris Rengganis: Vaksin flu kurangi risiko rawat inap 40-60%. Jangan anggap remeh influenza, lindungi diri dengan vaksinasi tahunan. Cek siapa saja yang wajib vaksin! #VaksinInfluenza #CatatanSehat #Pancaroba2025[SOCIAL_TG]: 🩺 Prof. Iris Rengganis ingatkan pentingnya vaksin influenza tahunan. Lansia, anak, dan penderita komorbid wajib vaksin! Cek faktanya di sini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User