Pria Tewas di Bangladesh setelah Messi Gagal Eksekusi Penalti
Sebuah tragedi memilukan terjadi di Bangladesh ketika seorang pria kehilangan nyawa setelah pertengkaran sengit yang dipicu oleh kegagalan Lionel Messi mengeksekusi penalti dalam laga persahabatan Arg...
Sebuah tragedi memilukan terjadi di Bangladesh ketika seorang pria kehilangan nyawa setelah pertengkaran sengit yang dipicu oleh kegagalan Lionel Messi mengeksekusi penalti dalam laga persahabatan Argentina melawan Mesir. Insiden ini kembali menyoroti betapa ekstremnya fanatisme sepak bola di negara Asia Selatan itu, yang kerap berubah menjadi kekerasan antar sesama pendukung tim yang sama.
Korban, yang diidentifikasi sebagai Mohammad Rafiq (30), warga Distrik Brahmanbaria, meninggal dunia setelah dianiaya oleh sekelompok pendukung Argentina lainnya pada Minggu malam, 15 Juni 2025. Perdebatan memanas saat Messi, sang kapten, gagal mencetak gol dari titik putih pada menit ke-67 dalam pertandingan yang digelar di Kairo, Mesir. Argentina kala itu memimpin 1-0, namun kegagalan tersebut memicu reaksi keras di antara penonton yang berkumpul di sebuah warung teh lokal.
Kronologi Pertengkaran Fatal
Menurut keterangan saksi mata, Rafiq awalnya meluapkan kekecewaan terhadap performa Messi dengan nada tinggi. Sejumlah pendukung lain yang tetap setia membela sang megabintang tidak menerima kritik itu dan menuduh Rafiq tidak menghormati “sang legenda.” Perdebatan verbal berubah menjadi baku hantam dalam hitungan menit. Sekelompok orang menyerang korban secara brutal menggunakan tongkat kayu dan benda tumpul. Rafiq ditemukan tak sadarkan diri dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Distrik Brahmanbaria, namun nyawanya tidak tertolong.
Polisi setempat telah mengamankan tiga tersangka yang diduga terlibat langsung dalam pengeroyokan. Kepala Kepolisian Brahmanbaria, Komisaris Md. Shafiqul Islam, menjelaskan bahwa para pelaku merupakan sesama penggemar Argentina yang rutin berkumpul di warung tersebut untuk menonton pertandingan. “Ini murni dipicu oleh emosi sesaat karena hasil di lapangan. Kami masih mendalami apakah ada motif lain,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (16/6).
Sementara itu, suasana di berbagai penjuru Bangladesh memanas pascapertandingan. Banyak warung kopi yang biasa menjadi tempat nonton bareng terpaksa tutup lebih awal demi menghindari kericuhan serupa. Seorang pemilik warung di Brahmanbaria mengaku ketakutan. “Setiap kali ada pertandingan besar, kami selalu was-was. Banyak yang datang bukan untuk menonton, tapi untuk cari gara-gara,” tuturnya.
Fanatisme Sepak Bola di Bangladesh: Antara Cinta dan Tragedi
Bangladesh memiliki basis penggemar sepak bola yang sangat fanatik, khususnya terhadap tim-tim Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil. Selama Piala Dunia FIFA 2022, negara itu menjadi sorotan global karena euforia massal seperti parade bendera raksasa dan pawai kendaraan hias. Namun di balik semangat itu, rivalitas antar pendukung Argentina dan Brasil—bahkan antar pendukung tim yang sama—sering berujung kekerasan.
Dr. Farid Hossain, sosiolog dari Universitas Dhaka, menjelaskan bahwa fanatisme olahraga di Bangladesh kerap menjadi saluran ekspresi identitas di kalangan pemuda yang menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. “Sepak bola memberikan rasa memiliki dan kebanggaan. Namun ketika hasil pertandingan tidak sesuai, ada semacam rasa malu kolektif yang bisa meledak menjadi agresi,” katanya.
Data kepolisian Bangladesh menunjukkan bahwa setidaknya 15 kasus kekerasan terkait sepak bola dilaporkan dalam tiga tahun terakhir, mayoritas dipicu oleh hasil pertandingan internasional. Insiden serupa pernah terjadi pada Desember 2022 ketika seorang remaja di Distrik Chandpur tewas ditusuk oleh pendukung Brasil setelah Messi membawa Argentina juara Piala Dunia.
Riwayat Kekerasan Sepak Bola di Bangladesh
| Tahun | Insiden | Korban |
|---|---|---|
| 2022 | Pertengkaran usai final Piala Dunia | 1 tewas |
| 2023 | Bentrok antar pendukung Argentina-Brasil | 2 luka berat |
| 2024 | Debat Messi vs Ronaldo berujung pengeroyokan | 1 tewas |
| 2025 | Penalti gagal Messi memicu pembunuhan | 1 tewas (Rafiq) |
Detail Pertandingan: Messi dan Penalti yang Berujung Petaka
Laga persahabatan antara Mesir dan Argentina pada 14 Juni 2025 berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan La Albiceleste. Meski Argentina menang, sorotan tertuju pada Lionel Messi yang gagal mengeksekusi penalti setelah Mohamed Salah ditarik oleh bek Argentina di kotak terlarang. Tembakan Messi melambung tipis di atas mistar gawang, membuat skor 1-0 bertahan hingga gol kedua dicetak oleh Julian Alvarez pada menit ke-83.
Kegagalan penalti Messi bukanlah pemandangan langka. Sepanjang kariernya, superstar Inter Miami itu telah melewatkan 12 dari 86 penalti di level klub dan timnas (data per Juni 2025). Namun, reaksi berlebihan dari penggemar di Bangladesh menunjukkan bahwa bagi mereka, Messi lebih dari sekadar pemain—ia adalah simbol harapan dan kejayaan.
Pihak keluarga korban, melalui saudara laki-laki Rafiq, Md. Hasan, meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya. “Kakak saya hanya ingin menonton bola. Dia tidak pantas mati hanya karena berbeda pendapat soal penalti,” tuturnya dengan suara terisak.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah Mohammad Rafiq telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Polisi menjerat para tersangka dengan pasal 302 KUHP Bangladesh tentang pembunuhan, yang membawa ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Insiden ini menjadi peringatan pahit bahwa kecintaan pada olahraga, ketika tidak diimbangi dengan kedewasaan, dapat merenggut nyawa manusia. Masyarakat diimbau untuk tidak menjadikan hasil pertandingan—apalagi kesalahan individu pemain—sebagai alasan untuk melampiaskan kekerasan.
Baca juga:
Comments (0)