Pria Dipenjara 3,5 Tahun usai Merusak Takhta Bersejarah Nguyen
Pengadilan Vietnam menjatuhkan vonis 3,5 tahun penjara kepada seorang pria yang terbukti merusak salah satu harta nasional paling berharga: takhta Dinasti Nguyen. Aksi vandalisme yang terjadi di Kota ...
Pengadilan Vietnam menjatuhkan vonis 3,5 tahun penjara kepada seorang pria yang terbukti merusak salah satu harta nasional paling berharga: takhta Dinasti Nguyen. Aksi vandalisme yang terjadi di Kota Hue ini mengejutkan para ahli warisan budaya dan memicu perdebatan tentang perlindungan situs bersejarah di negara tersebut.
Menurut keterangan pengadilan, terdakwa Nguyen Van A (nama dirahasiakan) dengan sengaja menaiki dan menggoreskan benda tajam pada bagian sandaran takhta yang terbuat dari kayu jati berlapis emas. Insiden terjadi pada bulan Desember tahun lalu di dalam Istana Thai Hoa, kompleks Warisan Dunia UNESCO yang menjadi magnet wisatawan. Petugas keamanan yang melihat aksi tersebut segera mengamankan pelaku, namun kerusakan yang ditimbulkan telah menggores lapisan emas dan mengakibatkan retakan pada ukiran naga yang menghiasi takhta.
Kronologi Perusakan di Tengah Situs Warisan Dunia
Berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan saksi, pelaku memasuki area Istana Thai Hoa pada jam kunjungan biasa. Ia sempat berputar-putar di antara artefak bersejarah sebelum tiba-tiba melompati pembatas pengaman dan menaiki takhta. Dengan menggunakan gunting yang dibawa dari rumah, ia menggoreskan simbol-simbol tak dikenal ke permukaan takhta. Rekaman menunjukkan pelaku tampak tenang dan terencana, sehingga jaksa mendakwanya dengan pasal perusakan barang budaya bernilai tinggi, bukan sekadar kelalaian.
Saksi mata mengatakan, pengunjung lain berteriak dan mencoba menghentikan, namun petugas keamanan yang tiba beberapa menit kemudian berhasil melumpuhkan pelaku. Takhta yang telah berusia lebih dari dua abad itu segera dievakuasi untuk proses konservasi darurat.
Takhta Dinasti Nguyen: Simbol Kekuasaan yang Terabadikan
Takhta yang menjadi sasaran perusakan ini merupakan salah satu dari sedikit benda peninggalan Dinasti Nguyen (1802–1945) yang tersisa secara utuh. Terletak di Aula Utama Istana Thai Hoa, takhta ini digunakan untuk upacara penobatan 13 kaisar Nguyen, termasuk Kaisar Gia Long, pendiri dinasti, dan Kaisar Bao Dai, raja terakhir Vietnam. Setiap detail ukirannya—mulai dari naga berwujud lima cakar hingga motif awan dan ombak—melambangkan kekuasaan kaisar sebagai ‘putra langit’.
Menurut catatan Pusat Konservasi Monumen Hue, takhta ini terbuat dari kayu jati emas, dilapisi pernis murni dan dihiasi dengan lembaran emas 24 karat. Proses pembuatannya melibatkan puluhan pengrajin istana pada awal abad ke-19. Saat ini, takhta tersebut termasuk dalam daftar Harta Nasional Vietnam yang dilindungi undang-undang ketat. Nilainya tidak dapat dihitung secara materi karena menjadi “jiwa dari warisan budaya Hue”.
Proses Hukum dan Argumen Pemberatan
Sidang yang berlangsung di Pengadilan Rakyat Provinsi Thua Thien-Hue menghadirkan suasana duka dari para pemerhati budaya. Jaksa penuntut menekankan bahwa perusakan ini bukan hanya tindak kriminal biasa, melainkan “serangan terhadap identitas nasional”. Mereka merujuk pada Pasal 177 KUHP Vietnam tentang perusakan benda bersejarah dan budaya, yang memungkinkan hukuman hingga tujuh tahun penjara. Dalam tuntutannya, jaksa meminta hukuman empat tahun, sementara pengacara terdakwa meminta keringanan dengan alasan kliennya mengalami gangguan jiwa ringan setelah kehilangan pekerjaan.
Majelis hakim menolak pembelaan tersebut setelah menerima hasil psikiatri yang menyatakan terdakwa sehat secara mental pada saat kejadian. Hakim ketua menyatakan, “Kerusakan yang ditimbulkan bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki sepenuhnya, bahkan dengan teknologi restorasi mutakhir.” Vonis 3,5 tahun dinilai setimpal, meskipun lebih rendah dari tuntutan, dengan pertimbangan pelaku mengaku bersalah dan belum pernah dihukum sebelumnya.
Reaksi Publik dan Upaya Perbaikan
Putusan ini disambut dengan campuran lega dan kecewa. Sebagian masyarakat menganggap hukuman tersebut terlalu ringan untuk tindakan yang “melukai sejarah bangsa,” sementara yang lain menyoroti pentingnya perbaikan sistem keamanan di situs-situs warisan. Dr. Le Thanh Hai, arkeolog dari Universitas Kebudayaan Hanoi, mengatakan kepada pers, “Insiden ini adalah tamparan bagi kita semua. Takhta tersebut selamat dari perang dan bencana alam, namun kini harus menerima luka dari seseorang yang tidak memahami nilai luhur di hadapannya.”
Pihak Pusat Konservasi Monumen Hue segera membentuk tim restorasi yang terdiri dari ahli warisan dan pengrajin tradisional. Mereka memperkirakan proses pemulihan dapat memakan waktu hingga delapan bulan dengan biaya mencapai miliaran dong. Sementara itu, pemerintah setempat mengumumkan peningkatan anggaran untuk sistem kamera pengawas, penambahan personel keamanan, serta pembatasan jarak pengunjung di area artefak penting. Mulai tahun ini, pengunjung Istana Thai Hoa hanya diizinkan melihat takhta dari jarak minimal tiga meter dengan pagar kaca pelindung.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa perlindungan harta nasional memerlukan sinergi antara teknologi, regulasi, dan kesadaran masyarakat. Warisan budaya bukan sekadar benda mati; ia adalah jendela yang menghubungkan generasi kini dengan akar peradaban. Vonis 3,5 tahun penjara ini diharapkan menjadi efek jera bagi siapa pun yang berani mengancam kekayaan sejarah suatu bangsa.
Baca juga:
Comments (0)