Prabowo Targetkan Bensin dari Jagung dan Sorgum dalam Empat Tahun

Indonesia bersiap memasuki era baru kedaulatan energi. Presiden Prabowo Subianto melontarkan target ambisius yang dapat mengubah lanskap konsumsi bahan bakar minyak nasional: dalam kurun empat tahun k...

Prabowo Targetkan Bensin dari Jagung dan Sorgum dalam Empat Tahun

Indonesia bersiap memasuki era baru kedaulatan energi. Presiden Prabowo Subianto melontarkan target ambisius yang dapat mengubah lanskap konsumsi bahan bakar minyak nasional: dalam kurun empat tahun ke depan, bensin yang mengalir ke tangki kendaraan akan diproduksi dari lahan pertanian, bukan dari kilang minyak bumi. Dua komoditas utama yang menjadi tumpuan adalah jagung dan sorgum. Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari strategi besar melepaskan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang selama ini membebani neraca perdagangan. Ibarat mesin yang selama ini menenggak energi impor, negeri ini akan mulai mengisi tangkinya sendiri dari hasil bumi yang ditanam petani lokal.

Peta Jalan Menuju Bensin Nabati

Target empat tahun tersebut bukan angka yang diambil begitu saja. Pemerintah diperkirakan akan merancang peta jalan bertahap, dimulai dari perluasan lahan tanam, pembangunan fasilitas pengolahan, hingga distribusi ke pasar. Jagung dan sorgum dipilih karena keduanya memiliki kandungan pati dan gula tinggi yang dapat difermentasi menjadi bioetanol—sejenis alkohol yang bisa dicampur atau bahkan menggantikan bensin sepenuhnya. Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman dengan bioetanol melalui program campuran E5 (5% etanol pada bensin) yang sempat diuji coba, namun kali ini skalanya akan jauh lebih masif. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi jagung nasional mencapai 22,3 juta ton pada 2025, sementara sorgum masih di kisaran 115 ribu ton—menandakan perlunya percepatan budidaya sorgum secara signifikan. Untuk mencapai target, dibutuhkan setidaknya 500 ribu hektare tambahan lahan sorgum jika ingin menggantikan 10% konsumsi bensin nasional.

Teknologi di Balik Konversi: Dari Biji ke Bahan Bakar

Proses mengubah jagung atau sorgum menjadi bensin melibatkan serangkaian teknologi biokimia yang sudah matang, namun perlu adaptasi lokal. Pertama, biji-bijian tersebut dihancurkan dan diolah melalui proses hidrolisis enzimatis untuk memecah pati menjadi gula sederhana. Tahap berikutnya adalah fermentasi menggunakan ragi spesifik yang mengubah gula menjadi etanol. Cairan etanol kadar rendah kemudian melalui distilasi bertingkat hingga mencapai kemurnian 99,5% sehingga layak dicampur dengan bensin. Untuk dapat digunakan langsung tanpa pencampuran, sejumlah produsen otomotif mengembangkan mesin flex-fuel yang mampu menyesuaikan rasio kompresi secara otomatis. Brasil, yang sukses menjadikan tebu sebagai sumber etanol, memerlukan waktu hampir satu dekade untuk membangun ekosistem serupa. Indonesia menargetkan separuh dari waktu itu, sehingga membutuhkan transfer teknologi agresif dan investasi pada biorefinery (fasilitas pengolahan biomassa) yang tersebar di sentra produksi jagung seperti Sulawesi Selatan, Lampung, dan Nusa Tenggara.

Perbandingan Bioetanol Jagung vs Bensin Konvensional

Dari sisi performa, bioetanol memiliki karakteristik berbeda yang penting dipahami konsumen. Berikut perbandingan singkat antara bensin fosil dan bioetanol dari jagung berdasarkan data teknis industri:

ParameterBensin RON 92Bioetanol Jagung (E100)
RON (Research Octane Number)92109
Emisi CO2 per liter2,3 kg1,5 kg (siklus hidup)
Kandungan Energi34 MJ/liter21 MJ/liter
Harga Pokok Produksi (estimasi)Rp8.500/literRp11.200/liter (tanpa subsidi)

Data di atas menunjukkan keunggulan etanol pada nilai oktan yang lebih tinggi dan emisi karbon lebih rendah, namun kelemahannya terletak pada kandungan energi yang hanya sekitar 62% dari bensin. Artinya, konsumen mungkin akan merasakan penurunan jarak tempuh per liter jika menggunakan etanol murni. Oleh karena itu, strategi awal kemungkinan besar berfokus pada campuran E20 (20% etanol) yang tidak memerlukan modifikasi mesin kendaraan konvensional, sebagaimana diterapkan di Thailand dan India. Untuk menjaga harga tetap terjangkau, pemerintah kemungkinan akan menyiapkan skema subsidi selisih harga yang bersumber dari penghematan devisa impor minyak mentah.

Tantangan dan Peluang di Lapangan

Ambisi ini tidak lepas dari sejumlah tantangan struktural. Pertama, produktivitas lahan dan alih fungsi lahan pangan. Jagung selama ini menjadi bahan pangan dan pakan ternak, sehingga pengalihan ke sektor energi berpotensi memicu kenaikan harga pangan jika tidak diimbangi dengan perluasan areal tanam baru berbasis lahan marginal. Kedua, infrastruktur logistik: bioetanol bersifat korosif dan menyerap air, sehingga tidak dapat disalurkan lewat pipa bensin yang ada—diperlukan tangki khusus dan rantai distribusi terpisah. Ketiga, standardisasi mesin kendaraan: industri otomotif perlu diajak berkolaborasi untuk memastikan garansi kendaraan tetap berlaku pada campuran bahan bakar baru. Namun, peluangnya juga besar. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki potensi panen sepanjang tahun. Sorgum, khususnya, sangat tahan kering dan cocok dikembangkan di lahan suboptimal Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku, membuka lapangan kerja pedesaan sekaligus mengurangi ketergantungan impor BBM (Bahan Bakar Minyak) yang tahun lalu mencapai US$14,2 miliar. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi pemasok bioetanol regional sekaligus mengurangi emisi sektor transportasi yang menyumbang 27% total gas rumah kaca nasional.

Target empat tahun ini adalah loncatan besar yang akan diuji oleh kemampuan eksekusi di lapangan. Dari laboratorium hingga pom bensin, dari petani hingga pabrikan otomotif, semua pihak harus bergerak dalam orkestrasi yang rapi. Bensin dari jagung dan sorgum bukan lagi mimpi masa depan—ia sedang ditanam, butir demi butir, di tanah Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User