Ro Khanna: Militer Israel Berbohong Soal Penahanan Saya di Tepi Barat

Seorang anggota Kongres Amerika Serikat, Ro Khanna, melontarkan tuduhan serius terhadap militer Israel setelah ia bersama rombongannya ditahan oleh pemukim bersenjata dan tentara Israel di Tepi Barat....

Seorang anggota Kongres Amerika Serikat, Ro Khanna, melontarkan tuduhan serius terhadap militer Israel setelah ia bersama rombongannya ditahan oleh pemukim bersenjata dan tentara Israel di Tepi Barat. Insiden yang terjadi baru-baru ini memicu kemarahan Washington karena Khanna menilai keterangan resmi yang dikeluarkan pihak Israel sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Detik-detik Penahanan di Tengah Ketegangan

Khanna, yang mewakili daerah pemilihan di California, tengah melakukan kunjungan kemanusiaan untuk meninjau kondisi warga Palestina ketika ia dicegat oleh sekelompok pemukim bersenjata. Menurut saksi mata, situasi mendadak memanas saat pemukim tersebut mengklaim bahwa rombongan memasuki lahan yang mereka kuasai. Dalam hitungan menit, tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tiba di lokasi dan turut menahan Khanna beserta stafnya. Sang anggota parlemen mengaku bahwa ia sempat memperkenalkan diri sebagai pejabat AS dan menunjukkan dokumen resmi, namun para tentara tetap memaksanya untuk mengikuti prosedur penahanan yang menurutnya tidak diperlukan.

Tuduhan Kebohongan dan Pembelokan Fakta

Setelah insiden itu, Khanna memberikan pernyataan kepada media yang dengan tegas menuding bahwa militer Israel berbohong mengenai kronologi kejadian. Ia menyebut laporan yang dirilis pihak militer—yang menyatakan bahwa insiden tersebut murni kesalahpahaman dan Khanna tidak pernah ditahan secara paksa—sebagai “manipulasi informasi.” “Mereka mencoba membangun narasi yang berbeda dari apa yang benar-benar terjadi di lapangan,” ungkap Khanna dalam wawancara telepon. Ia menegaskan bahwa dirinya ditahan dengan senjata terhunus dan dilarang bergerak selama lebih dari dua jam. Anggota Kongres itu pun mendesak dilakukannya investigasi independen untuk mengungkap pelanggaran yang ia alami.

Pernyataan Khanna sontak menuai respons dari sejumlah koleganya di Kongres. Beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat menyuarakan solidaritas dan meminta klarifikasi dari Kementerian Luar Negeri Israel. Sementara itu, pihak oposisi di Partai Republik menanggapinya dengan berhati-hati, menekankan bahwa hubungan AS-Israel tetap penting tanpa mengesampingkan hak perlindungan warga negara AS di luar negeri. Gedung Putih sendiri melalui juru bicaranya mengatakan bahwa mereka tengah menghubungi pemerintah Israel untuk mendapatkan penjelasan menyeluruh.

Implikasi terhadap Hubungan Bilateral dan Hukum Internasional

Insiden ini semakin meruncingkan hubungan antara Washington dan Tel Aviv yang sudah diwarnai perbedaan pandangan terkait pemukiman ilegal di Tepi Barat. Di tengah meningkatnya kritik global terhadap tindakan Israel di wilayah pendudukan, penahanan seorang anggota Kongres AS dapat menjadi pukulan diplomatik. Sejumlah analis politik melihat bahwa tuduhan kebohongan yang dilontarkan Khanna berpotensi menggerogoti kredibilitas militer Israel di mata publik Amerika. “Jika terbukti bahwa ada upaya menutupi kebenaran, ini bukan sekadar insiden personal melainkan pelanggaran serius atas norma diplomatik dan hak asasi manusia,” kata seorang pengamat hubungan internasional.

Penahanan pejabat asing oleh Israel bukanlah yang pertama kali terjadi, namun kasus kali ini tergolong langka karena langsung melibatkan legislator AS yang secara terbuka menantang narasi resmi. Pada tahun 2022, beberapa diplomat Eropa juga sempat mengalami penundaan dan intimidasi saat berkunjung ke komunitas Palestina. Namun, pengakuan Khanna yang lugas dan tanpa basa-basi mempertegas pola bahwa aparat keamanan Israel kerap bertindak di luar batas ketika berhadapan dengan warga internasional yang dianggap menyelidiki praktik pendudukan.

Khanna menekankan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam. Ia berencana mengangkat kasus ini dalam sidang Komite Luar Negeri DPR AS serta mendorong Kongres untuk meninjau kembali bantuan militer kepada unit-unit tertentu di Israel yang diduga sering melakukan pelanggaran. Langkah tersebut, bila diwujudkan, dapat mengubah dinamika dukungan AS yang selama ini nyaris tanpa syarat. “Saya tidak meminta permusuhan, saya hanya meminta kejujuran dan akuntabilitas,” tegas Khanna di hadapan pendukungnya di San Jose.

Wilayah Tepi Barat telah menjadi salah satu titik paling genting dalam konflik Israel-Palestina. Meningkatnya jumlah pemukim bersenjata yang sering kali dilindungi tentara menciptakan ketidakpastian hukum bagi siapa pun yang melintas. Organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah berulang kali mendokumentasikan insiden di mana aparat keamanan Israel memutarbalikkan fakta untuk melindungi pemukim. Kasus Ro Khanna menambah daftar panjang testimoni yang menunjukkan bahwa akuntabilitas lembaga keamanan Israel masih jauh dari memadai.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan Khanna. Namun juru bicara IDF mengulangi pernyataan bahwa semua pihak diperlakukan sesuai prosedur operasi standar. Sementara itu, Khanna berjanji akan terus memantau perkembangan dan memastikan pengalamannya tidak terulang pada warga negara AS lainnya yang mengunjungi kawasan tersebut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User