Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Polisi Kerahkan Gegana dan Densus

Suasana pagi yang seharusnya dipenuhi tawa dan semangat siswa baru di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendadak berubah mencekam. Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan S...

Suasana pagi yang seharusnya dipenuhi tawa dan semangat siswa baru di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendadak berubah mencekam. Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (15/7/2024), pihak sekolah menerima laporan dugaan ancaman bom yang langsung memicu respons cepat dari aparat keamanan. Tim Gegana Satuan Brimob Polda Metro Jaya serta Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) diterjunkan untuk menyisir seluruh area sekolah guna memastikan tidak ada benda mencurigakan yang membahayakan nyawa. Kejadian ini sontak mengejutkan orang tua murid, guru, dan ratusan peserta didik yang baru pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan sekolah dasar tersebut.

Laporan Awal dan Evakuasi Cepat

Informasi awal yang dihimpun menyebutkan bahwa dugaan teror bom muncul sekitar pukul 07.30 WIB, tepat ketika para siswa baru mulai berdatangan diantar orang tua. Seorang petugas keamanan sekolah menemukan sebuah pesan mencurigakan—baik dalam bentuk tulisan maupun komunikasi lisan—yang mengindikasikan adanya ancaman peledakan. Pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Kepolisian Sektor Jagakarsa, dan dalam waktu singkat, area sekolah disterilkan. Seluruh siswa, guru, dan staf administrasi dievakuasi ke titik kumpul aman yang berjarak sekitar 200 meter dari bangunan utama. Tidak ada korban luka dalam proses evakuasi, namun sejumlah siswa tampak menangis dan cemas, terutama mereka yang baru berusia 6–7 tahun dan belum memahami situasi darurat.

Kapolsek Jagakarsa, Kompol Agus Supriyanto, melalui pesan singkatnya membenarkan adanya operasi penanganan ancaman tersebut. “Kami menerima laporan dari pihak sekolah pukul 07.45 WIB. Tim langsung bergerak ke lokasi, dibackup oleh Gegana dan Densus 88 untuk melakukan sterilisasi menyeluruh. Sampai saat ini, tim masih bekerja dan kami meminta masyarakat tidak berspekulasi,” ujarnya. Hingga berita ini diturunkan, aparat belum merilis detail isi ancaman maupun sumber pastinya, namun sumber kepolisian menyatakan bahwa penyelidikan dilakukan ke berbagai arah, termasuk kemungkinan teror fisik maupun siber.

Peran Tim Gegana dan Densus 88

Kedatangan unit penjinak bom dan antiteror menunjukkan tingkat keseriusan ancaman. Tim Gegana, yang dilengkapi dengan peralatan pendeteksi bahan peledak canggih dan robot penjinak, menyisir setiap sudut kelas, aula, toilet, hingga halaman parkir. Sementara itu, personel Densus 88 mengumpulkan keterangan saksi dan menganalisis pola komunikasi yang mungkin berkaitan dengan ancaman tersebut. Langkah ini merupakan prosedur standar penanganan dugaan teror, mengingat sensitivitas lokasi sebagai fasilitas pendidikan yang menampung anak-anak.

Sejumlah orang tua yang menunggu di luar area pengamanan mengaku khawatir. Santi (34), ibu dari seorang siswa kelas 1, menuturkan, “Anak saya sampai menangis karena dikejutkan oleh suara sirine dan instruksi evakuasi. Saya berharap ini hanya ancaman palsu, tapi tetap saja, keselamatan anak-anak harus diutamakan.” Sementara itu, Ahmad (40), seorang warga sekitar yang biasa berjualan di depan sekolah, melihat puluhan personel bersenjata lengkap memasuki gedung. “Biasanya pagi di sini ramai anak-anak main. Ini malah sepi, polisi banyak. Semoga tidak ada apa-apa,” katanya.

Pernyataan Resmi dan Dampak pada MPLS

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi erat dengan kepolisian dan akan mengevaluasi pelaksanaan MPLS di sekolah tersebut. “Kami mengapresiasi respons cepat aparat. Untuk sementara, aktivitas belajar-mengajar di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi diliburkan hari ini sambil menunggu hasil penyisiran. Kami juga mengimbau seluruh satuan pendidikan di Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan dan melaporkan setiap hal mencurigakan,” ungkapnya dalam konferensi pers virtual.

Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia, Dr. Mira Anggraini, mengingatkan bahwa kejadian semacam ini dapat meninggalkan trauma pada anak, terutama mereka yang belum memiliki pemahaman tentang ancaman bom. “Orang tua dan guru perlu memberikan pendampingan emosional dengan menjelaskan situasi secara sederhana, tanpa menakut-nakuti. Kegiatan pemulihan psikologis pasca-insiden sangat penting agar anak-anak tetap merasa aman di sekolah,” pesannya. Tim konselor dari P2TP2A Jakarta Selatan rencananya akan diterjunkan begitu status keamanan dinyatakan normal.

Dari sisi investigasi, polisi kini memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di gerbang sekolah dan sekitarnya. Jejak digital juga ditelusuri untuk mengidentifikasi pelaku jika ancaman dikirim melalui media elektronik. Hingga pukul 11.00 WIB, penyisiran masih berlangsung dan belum ada benda mencurigakan yang ditemukan. Hasil akhir operasi diperkirakan akan disampaikan melalui rilis resmi Polda Metro Jaya dalam beberapa jam ke depan. Kejadian ini menambah daftar panjang ancaman bom yang menyasar institusi pendidikan di Indonesia, dan kembali membuka diskusi tentang perlunya sistem deteksi dini dan edukasi keamanan bagi warga sekolah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User