Teknologi

Prabowo Bercanda Minta Kartu Anggota NU dari Gus Yahya di Muktamar

Sebuah lelucon singkat di atas panggung sidang organisasi Islam terbesar di Indonesia ternyata menyimpan pesan yang jauh dari sepele. Ketika Presiden Prabowo Subianto menyambangi Muktamar ke-31 Nahdla...

Prabowo Bercanda Minta Kartu Anggota NU dari Gus Yahya di Muktamar

Sebuah lelucon singkat di atas panggung sidang organisasi Islam terbesar di Indonesia ternyata menyimpan pesan yang jauh dari sepele. Ketika Presiden Prabowo Subianto menyambangi Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama, ia sempat bercanda meminta dibuatkan kartu tanda anggota langsung dari ketua umum organisasi tersebut. Momen layak dicermati bukan karena kelucuannya semata, melainkan karena canda semacam ini kerap menjadi barometer hangatnya hubungan antara kekuasaan dan basis sosial keagamaan yang sangat besar di negeri ini.

Ibarat seperti tetangga baru yang datang ke peringatan hari jadi ikatan warga kompleks lalu bercanda minta stiker keanggotaan, gestur itu membawa dua arti sekaligus: penghormatan atas besarnya pengaruh tuan rumah, sekaligus keinginan untuk diterima masuk ke dalam lingkaran tersebut.

Adegan Canda di Tengah Forum Ulama

Dalam sambutannya di hadapan ribuan kader dan ulama, Kepala Negara menyapa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya, dengan gaya khasnya yang santai. Ia menyatakan ingin mendaftar sebagai warga nahdliyin dan meminta kartu keanggotaannya segera disiapkan. Ruangan pecah oleh tawa, disusul tepuk tangan dari para pengasuh pesantren dan pengurus wilayah yang hadir, sebelum suasana kembali formal ketika sambutan beralih ke agenda pembangunan nasional.

Bobot canda tersebut baru terasa jika melihat skala organisasi yang menjadi tuan rumah. Nahdlatul Ulama berdiri sejak 31 Januari 1926 di Surabaya dan kini kerap disebut sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan warga mengaku nahdliyin. Sebagian pengkaji bahkan menyebut jumlah pengikutnya mencapai puluhan juta jiwa, menjadikannya salah satu organisasi massa terbesar di dunia. Jejaringnya membentang di ribuan pesantren, madrasah, kampus, hingga lembaga kesejahteraan yang menjangkau pelosok desa. Dengan kapasitas seperti itu, setiap gestur tokoh negara di forum organisasi ini selalu dibaca publik lebih dari sekadar protokoler.

Gus Yahya: Tokoh di Balik Kartu yang Diminta

Gus Yahya merupakan figur generasi muda kebangsaan yang menjabat sebagai ketua umum sejak akhir 2021 dan kembali dipercaya memimpin organisasi pada muktamar terbaru. Latar belakangnya panjang: putra pesantren, penggerak lembaga penelitian dan pengembangan, hingga pernah duduk di lingkaran penasihat kepresidenan. Di bawah kepemimpinannya, PBNU menekankan wajah Islam Indonesia yang moderat, ramah terhadap kebangsaan, dan aktif menjalin diplomasi antarumat beragama di tingkat global.

Hubungan pribadi antara Presiden dan ketua umum PBNU sendiri bukan hal baru. Keduanya sempat berada di satu koalisi pendukung pada kontestasi politik nasional, sehingga canda permintaan kartu anggota itu terasa seperti kelanjutan keakraban yang sudah terbangun, bukan basa-basi protokoler semata.

Di Balik Tawa: Sinyal Politik yang Terbaca

Praktisi komunikasi politik lazim menilai humor di forum formal sebagai instrumen pesan. Permintaan kartu anggota dari Presiden dapat dibaca publik sebagai bentuk kedekatan pemerintah dengan organisasi massa berbasis pesantren, yang secara historis menjadi salah satu penentu arus dukungan di banyak daerah, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, dan wilayah timur Indonesia. Bagi pemerintah, kedekatan ini berarti jalur komunikasi langsung ke jutaan keluarga santri. Bagi ormas, kehadiran kepala negara memperkuat posisi tawar dalam agenda pendidikan, kesejahteraan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Sejarah mencatat pola serupa hampir terjadi pada setiap kepala negara: kunjungan ke muktamar selalu menjadi ajang membangun keakraban, dari era orde lama hingga kini. Yang membedakan hanyalah gaya penyampaiannya, dan canda Prabowo kali ini dinilai banyak kalangan berhasil menciptakan suasana akrab tanpa meninggalkan kesan seremonial yang kaku. Bagi pemerintah yang tengah mendorong program pangan dan swasembada, jejaring pesantren juga dipandang sebagai mitra strategis implementasi kebijakan hingga tingkat desa.

Kartu Anggota: Lebih dari Sekadar Plastik

Secara kelembagaan, kartu tanda anggota (KTA) diterbitkan bagi warga yang terdaftar melalui jam'iyah, yakni struktur keanggotaan resmi di tingkat desa atau kelurahan hingga pengurus cabang. Kartu tersebut menjadi tanda sah keanggotaan sekaligus akses terhadap berbagai program organisasi, mulai pendataan jamaah, layanan sosial, hingga keterlibatan dalam kegiatan keagamaan rutin.

Artinya, canda Presiden sesungguhnya menyentuh mekanisme riil sebuah organisasi raksasa. Jika dituruti sungguh-sungguh, proses pendaftarannya tetap harus melewati jalur resmi, lengkap dengan syarat dan pengajuan di tingkat lokal. Justru di situlah letak menariknya: lelucon di atas panggung membuka percakapan publik tentang bagaimana warga negara mana pun, termasuk pejabat tertinggi sekalipun, pada akhirnya berdiri sama tinggi di hadapan aturan organisasi masyarakat.

Apa pun bacaan politik yang berkembang setelahnya, satu hal jelas tergambar dari panggung muktamar tersebut: ruang tawa antara pemimpin negara dan pemimpin ormas tetap menjadi jembatan efektif menjaga harmoni hubungan kekuasaan dengan ekosistem sosial keagamaan terbesar di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User