PM Starmer Pertimbangkan Hari Libur Nasional Jika Inggris Juara Piala Dunia
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberi sinyal bahwa pemerintahannya akan menetapkan satu hari libur tambahan apabila tim nasional sepak bola Inggris berhasil menjuarai Piala Dunia 2026. Wacana y...
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberi sinyal bahwa pemerintahannya akan menetapkan satu hari libur tambahan apabila tim nasional sepak bola Inggris berhasil menjuarai Piala Dunia 2026. Wacana yang dilemparkan dalam bincang-bincang eksklusif itu langsung menghidupkan kembali asa puluhan juta penggemar The Three Lions yang sudah hampir enam dekade merindukan piala paling bergengsi di jagat sepak bola.
Pernyataan tersebut bukan sekadar guyonan politis. Starmer mengisyaratkan opsi hari libur bank (bank holiday) yang bersifat khusus dan satu kali—bukan tambahan libur permanen—akan dikaji secara serius oleh kabinetnya. "Kemenangan seperti itu tentu layak dirayakan secara nasional. Kami akan membahas kemungkinan menjadikannya hari libur bank agar semua orang bisa ikut merasakan momen bersejarah," ujar Starmer, menegaskan bahwa partai dan koalisi yang ia pimpin siap merealisasikan janji tersebut andai skenario impian benar-benar terwujud.
Konteks Piala Dunia 2026: Panggung Raksasa di Tiga Negara
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi pertama yang digelar di tiga negara tuan rumah sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen empat tahunan ini dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di 16 kota, menghadirkan 48 tim nasional—ekspansi terbesar dalam sejarah turnamen. Bagi Inggris, waktu kick-off mayoritas pertandingan diperkirakan terjadi pada malam atau dini hari waktu London, sebuah tantangan logistik yang justru membuat ide libur nasional semakin relevan: publik bisa begadang menyaksikan laga krusial tanpa khawatir masuk kerja keesokan harinya.
Inggris sendiri akan memulai kampanye kualifikasi di bawah asuhan pelatih Thomas Tuchel, juru taktik asal Jerman yang dikontrak Federasi Sepak Bola Inggris (FA) pada awal 2025. Dengan materi pemain seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, dan Declan Rice yang berada di puncak usia emas, skuad ini dianggap sebagai salah satu favorit kuat untuk akhirnya mengakhiri "penantian 60 tahun"—terakhir kali Inggris mengangkat trofi mayor adalah Piala Dunia 1966 di kandang sendiri.
Jejak Janji Serupa di Masa Lalu
Ide menjadikan kesuksesan olahraga sebagai hari libur nasional bukanlah hal baru di Inggris. Menjelang final Euro 2020 (yang tertunda dan digelar pada Juli 2021), pemerintah Boris Johnson sempat menerima petisi publik bertanda tangan lebih dari 350.000 orang yang mendesak penetapan bank holiday seandainya Inggris mengalahkan Italia. Debat di parlemen bahkan nyaris mencapai tahap pemungutan suara sebelum kekalahan dramatis di Stadion Wembley lewat adu penalti memupuskan rencana itu.
Kini Starmer menghidupkan kembali wacana serupa dalam konteks politik yang berbeda. Pemerintahan Partai Buruh yang mulai menjabat pada pertengahan 2024 tengah berupaya membangun citra optimistis dan dekat dengan rakyat. Janji libur nasional—walaupun bersyarat—dapat dibaca sebagai representasi narasi "perayaan kebersamaan" yang ingin ditanamkan pemerintahan baru ini. Seorang analis politik dari lembaga riset Britannia Insights menilai, "Ini adalah langkah minim risiko secara elektoral sekaligus mahal secara ekonomi. Namun jika itu terjadi, tidak ada partai yang ingin terlihat sebagai penghalang pesta rakyat."
Dampak Ekonomi: Untung atau Rugi?
Menetapkan satu hari libur bank tambahan bukan perkara sepele bagi perekonomian nasional. Data dari Konfederasi Industri Britania (CBI) dan kajian independen lainnya secara konsisten menunjukkan bahwa satu bank holiday bisa memangkas produk domestik bruto (PDB) hingga £2,5 miliar (sekitar Rp50 triliun) karena terhentinya aktivitas produksi, konstruksi, dan keuangan. Namun di sisi lain, sektor ritel, perhotelan, dan hiburan kerap mencatat lonjakan pendapatan saat libur panjang, sebagian di antaranya mengimbangi kerugian dari sektor manufaktur.
Konfederasi Pengusaha Perhotelan Inggris bahkan menyambut positif sinyal yang dilempar Starmer. "Jika Inggris juara, jutaan orang akan turun ke pub, restoran, dan pusat perbelanjaan. Hari libur akan memaksimalkan dampak ekonomi dari euforia publik," kata juru bicara asosiasi tersebut. Pemerintah diperkirakan akan melakukan penghitungan matang antara potensi hilangnya produktivitas dan suntikan konsumsi masyarakat sebelum menjadikan libur tersebut bersifat wajib atau sekadar anjuran bagi sektor swasta.
Respons Publik dan Survei Opini
Begitu pernyataan Starmer mencuat di media, tagar #BankHolidayIfEnglandWin langsung merajai linimasa media sosial X (dulu Twitter). Survei kilat yang dilakukan lembaga YouGov pada hari yang sama menunjukkan 68 persen responden mendukung penetapan hari libur nasional jika Inggris benar-benar juara, sementara 19 persen menolak, dan sisanya tidak menyatakan pendapat. Dukungan tertinggi datang dari kelompok usia 18-34 tahun, segmen yang selama ini dianggap sulit dijangkau oleh kampanye politik konvensional.
Sejarawan olahraga dari Universitas De Montfort, Prof. Neil Carter, berpendapat bahwa fenomena ini memperlihatkan betapa sepak bola telah menjadi "agama sipil" di Inggris modern. "Janji libur nasional bukan lagi soal kebijakan fiskal atau kalender kerja. Ia adalah simbol bahwa negara sedang memberikan izin resmi kepada warganya untuk bersukacita," tulisnya dalam kolom opini di harian nasional.
Jalan Panjang Menuju Piala Dunia 2026
Meskipun wacana libur nasional mengundang antusiasme, perjalanan Inggris untuk sekadar mencapai final di New York MetLife Stadium pada 19 Juli 2026 masih sangat panjang. Inggris harus melewati babak kualifikasi UEFA yang dimulai pada musim semi 2025, diikuti putaran final dengan format 12 grup berisi empat tim—dengan dua tim teratas dan delapan peringkat ketiga terbaik melaju ke 32 besar. Kemudian akan ada babak gugur berlapis, dari 32 besar, 16 besar, perempat final, semi final, hingga final yang menuntut total delapan pertandingan dalam sebulan.
Faktor kelelahan fisik dan cedera pemain, terutama bagi skuad yang mayoritas merumput di Liga Primer Inggris yang dikenal paling menguras tenaga, selalu menjadi variabel penentu. Selain itu, ancaman tim-tim seperti Prancis, Brasil, Argentina, Spanyol, dan tuan rumah Amerika Serikat yang terus berkembang, membuat kalkulasi optimisme harus dibarengi kesadaran realitas. Namun tak sedikit pengamat yang menilai bahwa momentum Piala Dunia 2026 adalah "jendela emas" terbaik Inggris dalam satu dekade terakhir.
Apa Makna Simboliknya?
Di luar hitung-hitungan skor dan neraca ekonomi, janji libur nasional ini menggarisbawahi satu hal: kepercayaan diri kolektif bangsa Inggris sedang bangkit kembali setelah bertahun-tahun diwarnai ketidakpastian pascareferendum Brexit dan pandemi. Bahwa seorang perdana menteri rela mengeluarkan pernyataan yang berpotensi dikritik para ekonom konservatif—hanya demi sepak bola—menunjukkan betapa besar daya rekat olahraga ini dalam proyek kebangsaan Inggris abad ke-21.
Seperti yang sering didaraskan suporter di tribun Wembley, "It's coming home"—sebuah lirik yang awalnya lahir dari ironi, kini mungkin benar-benar bisa pulang. Dan jika malam bersejarah itu tiba dua musim panas dari sekarang, rakyat Inggris boleh berharap pagi setelahnya tak perlu terburu-buru ke kantor.
Baca juga:
Comments (0)