Teknologi

Pertamina Perkuat Pasokan LPG di MotoGP Mandalika 2026

Bayangkan Anda sedang menikmati liburan panjang di Lombok, tiba-tiba kompor di warung makan favorit Anda kehabisan gas di tengah lonjakan pengunjung. Itulah tantangan logistik yang harus diantisipasi ...

Pertamina Perkuat Pasokan LPG di MotoGP Mandalika 2026

Bayangkan Anda sedang menikmati liburan panjang di Lombok, tiba-tiba kompor di warung makan favorit Anda kehabisan gas di tengah lonjakan pengunjung. Itulah tantangan logistik yang harus diantisipasi ketika ratusan ribu orang berkumpul dalam satu kawasan. Inilah mengapa penguatan pasokan LPG (Liquefied Petroleum Gas atau gas minyak cair) di ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar urusan dapur.

PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, memastikan ketersediaan LPG selama perhelatan balap motor internasional di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 ini diprediksi menarik lebih dari 100.000 penonton per hari. Lonjakan populasi ini otomatis mendorong kebutuhan energi, termasuk untuk sektor kuliner, penginapan, dan fasilitas umum.

Mengapa Pasokan Energi Selama MotoGP Menjadi Ujian Logistik

Ibarat seperti mengisi air ke dalam gelas yang tiba-tiba berubah ukuran, distribusi energi ke kawasan wisata yang sebelumnya tenang menjadi tiga kali lipat dalam hitungan hari. Pertamina tidak hanya berfokus pada bahan bakar kendaraan seperti Pertalite atau Pertamax, tetapi juga memastikan LPG untuk kebutuhan memasak tetap stabil.

Menurut data internal Pertamina Patra Niaga, konsumsi LPG di kawasan Lombok selama periode MotoGP 2025 lalu meningkat sekitar 35 persen dibandingkan hari biasa. Angka tersebut diperkirakan naik kembali pada 2026 seiring bertambahnya jumlah tim, media, dan wisatawan mancanegara. Pengembangan infrastruktur penyimpanan di Agen LPG dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) menjadi kunci utama.

“Kami memetakan setiap titik konsumsi, mulai dari hotel, restoran, hingga food truck di area sirkuit. Stok pengaman kami siapkan minimal 20 persen di atas proyeksi kebutuhan,” ujar seorang pejabat Pertamina Patra Niaga dalam keterangan resmi yang dikutip dari kanal berita perusahaan.

Strategi ini mencerminkan implementasi prinsip supply chain resilience atau ketahanan rantai pasok, sebuah pendekatan yang lazim di industri energi global. Algoritma peramalan permintaan (demand forecasting) berbasis machine learning digunakan untuk memprediksi lonjakan konsumsi per jam, sehingga armada distribusi bisa dikerahkan tepat waktu.

Ekosistem Energi Terintegrasi: Bukan Sekadar LPG

Perlu dipahami bahwa LPG hanyalah salah satu simpul dari ekosistem energi yang lebih besar. Selama MotoGP, Pertamina juga menyediakan bahan bakar khusus untuk tim balap, genset penyiaran, dan kendaraan operasional. Namun, LPG tetap memegang peran strategis karena menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

Dari sisi teknologi, Pertamina mengandalkan sistem monitoring digital berbasis Internet of Things (IoT) atau internet untuk segala, yang memungkinkan pemantauan stok tangki LPG secara real-time. Sensor pada tangki SPBE mengirimkan data ke dashboard pusat kendali, sehingga operator bisa merespons kekurangan stok dalam hitungan menit, bukan jam.

AspekKondisi NormalSelama MotoGP 2026
Konsumsi LPG harian± 1.200 tabung± 2.000 tabung
Stok pengaman10 persen20–25 persen
Armada distribusi12 truk18 truk
Waktu respons4 jam1,5 jam

Perbandingan di atas menunjukkan bahwa efisiensi operasional bukan hanya soal menambah pasokan, melainkan mengubah cara kerja seluruh platform logistik. Disrupsi kecil dalam satu simpul, misalnya keterlambatan kapal pengangkut, bisa berdampak besar jika tidak diantisipasi.

Dampak Jangka Panjang bagi Masyarakat Lombok

Investasi energi untuk ajang internasional sering kali meninggalkan warisan infrastruktur. Penambahan kapasitas SPBE, pelatihan operator lokal, dan digitalisasi sistem distribusi akan tetap bermanfaat setelah balapan usai. Penelitian dari berbagai lembaga ekonomi menunjukkan bahwa kawasan yang menjadi tuan rumah event global cenderung mengalami peningkatan kapabilitas logistik jangka panjang.

Bagi pembaca awam, intinya sederhana: saat menonton balapan atau berwisata kuliner di Mandalika tahun depan, nyala api di kompor pedagang tidak akan mati karena kehabisan gas. Di balik itu, ada perhitungan algoritma, armada truk, dan ribuan tabung yang bergerak senyap. Teknologi tidak selalu hadir dalam bentuk gadget, kadang ia hadir sebagai kepastian pasokan energi yang membuat hidup tetap berjalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User