Perjalanan Ali Khamenei: Pemimpin Iran dari Masa Revolusi hingga Pemakaman

Tehran, Iran – Dalam suasana berkabung yang mendalam, Iran menggelar pemakaman kenegaraan pada Kamis, 9 Juli, untuk mantan pemimpin tertinggi Ali Hosseini Khamenei. Upacara ini menandai akhir dari e...

Jul 12, 2026 - 15:11
0 0
Perjalanan Ali Khamenei: Pemimpin Iran dari Masa Revolusi hingga Pemakaman

Tehran, Iran – Dalam suasana berkabung yang mendalam, Iran menggelar pemakaman kenegaraan pada Kamis, 9 Juli, untuk mantan pemimpin tertinggi Ali Hosseini Khamenei. Upacara ini menandai akhir dari era empat dekade yang dimulai dengan revolusi dan berakhir dengan warisan kompleks bagi negara itu. Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, adalah figur yang mendominasi politik Timur Tengah dan membentuk identitas Iran modern.

Awal Kehidupan dan Pengaruh Khomeini

Lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Khamenei berasal dari keluarga ulama terkemuka. Ayahnya, Seyed Javad Khamenei, adalah seorang mujtahid yang mendorong pendidikan agama. Khamenei muda menuntut ilmu di seminari di Mashhad, kemudian melanjutkan ke kota suci Qom di bawah bimbingan ayahnya. Pertemuannya dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini terjadi ketika ia masih berusia awal 20-an, saat Khomeini mulai menyebarkan ajaran oposisinya terhadap Shah. Pertemuan ini terjadi di Najaf, Irak, di mana Khomeini sering memberikan ceramah. Khamenei terpikat oleh visi Khomeini tentang pemerintahan Islam, yang kemudian menjadi landasan ideologisnya. Keterlibatan ini membuatnya ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK pada 1960-an dan 1970-an, dan ia menghabiskan beberapa tahun di penjara serta pengasingan internal. Pengalaman ini memperkuat tekadnya dalam perjuangan revolusioner.

Revolusi Islam dan Peran Khamenei

Ketika Revolusi Islam Iran meletus pada 1979, Khamenei adalah salah satu tokoh kunci yang menggerakkan massa. Setelah Shah digulingkan, ia ditunjuk oleh Khomeini untuk memimpin imamat di Teheran dan menjadi anggota Dewan Revolusi. Perannya meluas saat ia menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, mengelola logistik selama konflik awal. Pada tahun 1981, setelah pembunuhan presiden saat itu, Khamenei terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran. Dua masa jabatannya sebagai presiden diwarnai oleh perang Iran-Irak yang berlangsung dari 1980 hingga 1988. Selama periode ini, ia menunjukkan keterampilan manajerial dan kemampuan untuk menjaga persatuan di tengah serangan militer Saddam Hussein. Meskipun perang membawa korban besar, posisinya tetap kuat berkat dukungan dari faksi konservatif dan militer.

Kepemimpinan Tertinggi dan Transformasi Iran

Pasca kematian Khomeini pada 3 Juni 1989, Dewan Ahli segera menunjuk Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Penunjukan ini memerlukan adaptasi karena konstitusi semula mensyaratkan pemimpin tertinggi adalah seorang marja'. Khamenei, yang saat itu belum mencapai status tersebut, diberikan otoritas melalui revisi konstitusi. Sebagai pemimpin tertinggi, ia mengambil alih komando angkatan bersenjata, menunjuk kepala peradilan, dan menentukan arah kebijakan luar negeri. Selama tiga dekade, ia mengawasi perkembangan program nuklir Iran yang kontroversial, yang memicu ketegangan dengan Amerika Serikat dan PBB. Di bawah kepemimpinannya, Iran juga memperdalam aliansi dengan Suriah, Hizbullah, dan kelompok-kelompok lain di kawasan, yang ia sebut sebagai "poros perlawanan." Domestik, ia sering menekankan ekonomi resistensi untuk melawan sanksi, tetapi kebijakan ini tidak selalu berhasil meredam ketidakpuasan rakyat yang meletus dalam protes besar-besaran pada 2009 dan 2019.

Wafat dan Pemakaman Ikonis

Khamenei meninggal dunia pada awal Juli 2023 setelah beberapa tahun menghadapi masalah kesehatan yang berspekulasi, termasuk kemungkinan penyakit kronis. Pemakamannya pada 9 Juli adalah peristiwa besar: jalanan Teheran dipenuhi bendera hitam dan poster dirinya. Ribuan pelayat, termasuk pejabat tinggi dari berbagai negara, hadir untuk memberikan penghormatan. Jenazahnya disemayamkan di dekat makam Khomeini, menandai penutupan babak sejarah yang mendefinisikan Iran. Pemakaman ini juga mengundang reaksi beragam dari komunitas internasional, dengan beberapa negara mengirimkan belasungkawa sementara yang lain mengkritik warisannya yang otoriter.

Warisan dan Jalan ke Depan

Dengan wafatnya Khamenei, Iran berada di persimpangan jalan. Dewan Ahli akan memilih pemimpin tertinggi baru, yang diharapkan akan membentuk arah negara di tengah tekanan domestik dan internasional yang meningkat. Warisan Khamenei adalah campuran ketahanan dan isolasi. Ia berhasil mempertahankan kemerdekaan Iran dari intervensi asing, tetapi dengan biaya ekonomi dan kebebasan sipil yang tinggi. Dalam konteks regional, pengaruhnya terasa dari Lebanon hingga Yaman melalui proksinya. Namun, di dalam negeri, generasi muda yang semakin terhubung dengan dunia luar mungkin mendorong perubahan. Apakah perubahan itu akan terjadi secara damai atau melalui ketegangan, masih menjadi pertanyaan. Satu hal yang pasti, Ali Khamenei telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan pada peta politik Timur Tengah, dan pemakamannya adalah momen reflektif bagi Iran dan dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User