Teknologi

Peringatan Ilmuwan: Super El Nino 2026 Ancam Kemarau Panjang Indonesia

Bayangkan Anda menyalakan setrika listrik di tengah ruangan tanpa ventilasi selama berbulan-bulan. Panasnya menumpuk, udara menjadi pengap, dan tidak ada hujan yang datang untuk mendinginkan suasana. ...

Peringatan Ilmuwan: Super El Nino 2026 Ancam Kemarau Panjang Indonesia

Bayangkan Anda menyalakan setrika listrik di tengah ruangan tanpa ventilasi selama berbulan-bulan. Panasnya menumpuk, udara menjadi pengap, dan tidak ada hujan yang datang untuk mendinginkan suasana. Itulah gambaran sederhana dari apa yang mungkin dialami Indonesia pada 2026 hingga 2027 mendatang, ketika fenomena iklim yang dijuluki "Super El Nino" diprediksi melanda kawasan Pasifik. Peringatan ini bukan sekadar ramalan musiman biasa — ia menyentuh langsung kehidupan petani, pasokan air rumah tangga, harga pangan di pasar, hingga risiko kebakaran hutan yang mengancam paru-paru jutaan orang.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa El Nino edisi 2026-2027 berpotensi masuk kategori sangat kuat. El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengubah pola sirkulasi atmosfer global. Ibarat seperti memanaskan air di dalam panci raksasa, uap yang naik dari laut hangat tersebut menggeser awan hujan menjauh dari Indonesia, sehingga negeri ini mengalami kekeringan berkepanjangan sementara belahan dunia lain justru kebanjiran.

Mengapa Super El Nino 2026 Berbeda dari Biasanya

Menurut Erma, yang membedakan El Nino kali ini adalah intensitasnya. Ia menyebut potensi kemarau yang lebih panjang dibanding siklus normal, disertai ancaman panas ekstrem di sejumlah wilayah. Dalam kajian iklim, El Nino kuat terakhir yang tercatat terjadi pada 1997-1998 dan 2015-2016. Keduanya meninggalkan jejak serius: gagal panen di berbagai daerah, penurunan debit air waduk, serta kebakaran lahan gambut yang menyelimuti Asia Tenggara dengan kabut asap.

"Kombinasi El Nino kuat dengan pemanasan global menciptakan kondisi yang tidak pernah kita hadapi sebelumnya. Suhu dasar yang sudah lebih tinggi membuat dampak kekeringan terasa jauh lebih menusuk," ujar Erma dalam paparannya.

Artinya, meskipun angka indeks El Nino mungkin mirip dengan tahun-tahun sebelumnya, efek riilnya bisa lebih parah karena bumi secara keseluruhan sudah lebih panas. Ini adalah contoh nyata bagaimana perubahan iklim bertindak sebagai pengganda risiko — memperbesar dampak dari setiap fenomena alam yang terjadi.

Dampak Berantai yang Perlu Diantisipasi

Kemarau panjang bukan hanya soal cuaca panas. Rantai dampaknya menjalar ke banyak sektor. Di bidang pertanian, tanaman padi dan jagung yang bergantung pada irigasi akan mengalami tekanan air. Petani di Jawa, Sumatra bagian selatan, dan Nusa Tenggara menjadi kelompok paling rentan. Jika panen gagal, harga beras dan sayuran bisa melonjak, memicu inflasi pangan yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Di sektor energi, penurunan debit air di waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berpotensi mengurangi pasokan listrik. Sementara itu, kebutuhan listrik justru meningkat karena masyarakat menggunakan pendingin ruangan lebih lama. Kombinasi ini menciptakan tekanan ganda pada jaringan listrik nasional.

Yang tak kalah serius adalah ancaman kebakaran hutan dan lahan. Gambut yang mengering menjadi bahan bakar alami yang sulit dipadamkan. Asapnya tidak mengenal batas administrasi — ia melintasi provinsi bahkan negara, menyebabkan gangguan pernapasan, penutupan sekolah, dan pembatalan penerbangan.

Langkah Mitigasi yang Harus Segera Disiapkan

Menghadapi ancaman ini, para peneliti mendorong pemerintah dan masyarakat untuk tidak menunggu hingga kemarau tiba. Beberapa langkah strategis yang direkomendasikan antara lain:

  • Pengelolaan air terpadu: mengatur jadwal tanam, memperbaiki jaringan irigasi, dan memanen air hujan sejak musim hujan.
  • Peringatan dini berbasis data: memanfaatkan model iklim dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memprediksi titik panas dan kekeringan lebih awal.
  • Diversifikasi pangan: mendorong tanaman yang lebih tahan kekeringan seperti sorgum dan umbi-umbian.
  • Kesiapsiagaan kebakaran: menjaga level air di lahan gambut dan melibatkan masyarakat desa sebagai deteksi dini.

Erma menekankan bahwa informasi iklim harus sampai ke tingkat desa. Tanpa pemahaman yang merata, petani akan terus menanam pada waktu yang salah, dan kerugian pun berulang setiap tahun.

Pelajaran dari Masa Lalu

Indonesia pernah melalui El Nino 2015 yang menyebabkan kekeringan di lebih dari 80 persen wilayah. Saat itu, produksi padi turun signifikan dan pemerintah harus mengimpor beras dalam jumlah besar. Jika prediksi Super El Nino 2026 benar, skenario serupa bisa terulang bahkan dengan intensitas lebih tinggi.

Karena itu, peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan panggilan untuk bersiap. Teknologi monitoring cuaca, sistem peringatan dini, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Alam mungkin tidak bisa dihentikan, tetapi dampaknya bisa diperkecil melalui perencanaan yang matang.

Pada akhirnya, Super El Nino adalah ujian ketahanan iklim. Negara yang mampu membaca sinyal alam lebih awal dan bertindak cepat akan jauh lebih sedikit menanggung kerugian. Pertanyaannya bukan lagi apakah fenomena ini akan datang, melainkan seberapa siap kita menyambutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User