Kota Gaza kembali tenggelam dalam kesedihan mendalam ketika ratusan warga memadati halaman pemakaman untuk mengantar perjalanan terakhir 50 jenazah korban serangan Israel. Yang membuat momen ini semakin menyayat hati, jajaran jasad yang dimakamkan bukanlah korban yang baru saja meninggal. Mereka adalah para korban yang jenazahnya baru berhasil dievakuasi dari bawah timbunan reruntuhan bangunan yang hancur, setelah sekian lama terkubur tanpa tanda makam.
Sebanyak 50 jenazah itu dibaringkan berjajar sebelum dikuburkan dalam satu prosesi pemakaman massal di Gaza City, Palestina. Warga yang hadir antre memberikan penghormatan terakhir sambil membisikkan doa. Tangis pecah di beberapa titik ketika kerabat akhirnya bisa menyentuh wajah orang-orang yang mereka cari selama berbulan-bulan.
Jenazah Ditemukan dari Balik Timbunan Puing
Proses penemuan jenazah-jenazah itu tidak sederhana. Tim pencari dan penyelamat setempat harus bekerja berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, di lokasi-lokasi yang dulunya permukiman padat namun kini berubah menjadi lahan puing. Alat berat seperti ekskavator sangat terbatas karena blokade mempersulit masuknya peralatan dan suku cadang, sehingga sebagian besar penggalian tetap dilakukan secara manual menggunakan sekop, cangkul, dan tangan kosong.
Kondisi lapangan turut memperlambat pekerjaan. Pasokan listrik yang nyaris mati total membuat lampu sorot sulit didapat, sementara jaringan komunikasi yang sering terputus menyulitkan koordinasi antartim. Setiap kali galian menemukan jasad, petugas akan menghentikan pekerjaan sesaat untuk memindahkan jenazah dengan cara yang dihormati, sebelum melanjutkan pencarian korban lain yang masih tertutup beton.
Beban Kemanusiaan yang Terus Membengkak
Pemakaman massal semacam ini bukan pemandangan baru di Jalur Gaza sejak eskalasi konflik pecah pada Oktober 2023. Menurut catatan Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban jiwa telah melampaui puluhan ribu orang, dengan proporsi besar diduga perempuan dan anak-anak. Ribuan lainnya masih tercatat hilang, diduga terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang runtuh akibat serangan udara dan tembakan artileri.
Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional berulang kali menyebut situasi di Gaza sebagai salah satu krisis kemanusiaan paling parah dalam dekade terakhir. Sistem kesehatan berada di ambang kolaps. Banyak rumah sakit kehabisan bahan bakar generator, obat-obatan, serta kapasitas tempat tidur, sementara tenaga medis bekerja dalam kelelahan ekstrem dan pasokan yang terus menipis.
Kendala Identifikasi Para Korban
Mengidentifikasi jenazah yang baru ditemukan dari reruntuhan menghadapi tantangan berlapis. Sebagian jasad tidak lagi dalam kondisi utuh sehingga pengenalan wajah tidak mungkin dilakukan. Dokumen identitas biasanya musnah bersama bangunan yang runtuh, dan fasilitas laboratorium untuk uji DNA sangat terbatas di wilayah yang telah lama terblokade.
Akibatnya, banyak keluarga harus mengenali orang-orang mereka sendiri melalui barang pribadi, potongan pakaian, atau ciri fisik tertentu. Di lokasi pemakaman, tampak ibu-ibu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan satu per satu, mencoba memastikan apakah di antaranya ada anak, suami, atau saudara yang selama ini masuk daftar hilang.
Setelah proses identifikasi selesai apa adanya, jenazah-jenazah itu digotong bersama-sama menuju area pemakaman. Shalat jenazah dipimpin seorang ulama setempat, diumumkan melalui pengeras suara agar dapat diikuti seluruh kerumunan. Satu per satu jasad diturunkan ke liang lahat yang digali berdampingan, ditutupi tanah, dan ditandai batu nisan sederhana bertuliskan nama bila keluarganya sempat mengenalinya.
Seruan Gencatan Senjata dan Akses Bantuan
Tragedi ini kembali menyoroti desakan berbagai pihak agar pertempuran dihentikan dan akses bantuan kemanusiaan dibuka lebar. Organisasi-organisasi bantuan menilai evakuasi korban dari reruntuhan akan jauh lebih cepat apabila peralatan berat, bahan bakar, dan logistik darurat dapat masuk tanpa hambatan. Mereka juga menekankan pentingnya koridor aman bagi warga sipil maupun petugas penyelamat.
Di tengah upaya diplomasi internasional yang belum menghasilkan gencatan senjata permanen, warga Gaza meneruskan hidup di antara kehancuran. Bagi keluarga yang pada hari itu akhirnya mendapatkan kepastian atas nasib orang-orangnya, pemakaman massal 50 jenazah tersebut sekaligus menjadi penutup pencarian yang panjang sekaligus luka yang tak mudah hilang.
Comments (0)