Pejabat RI dan Tokoh NU Ziarah Makam Ayatollah Khamenei
Delegasi Republik Indonesia melakukan ziarah ke makam mendiang Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kompleks suci Haram Imam Reza, Mashhad, pada Rabu (22/5). Kunjungan yang s...
Delegasi Republik Indonesia melakukan ziarah ke makam mendiang Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kompleks suci Haram Imam Reza, Mashhad, pada Rabu (22/5). Kunjungan yang sarat makna spiritual dan diplomatik ini dipimpin oleh tiga figur kunci: Menteri Luar Negeri Sugiono, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani, dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Kehadiran tokoh nasional dari tiga ranah berbeda—eksekutif, legislatif, dan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia—menunjukkan luasnya dimensi hubungan bilateral yang tidak hanya bertumpu pada kerja sama politik-ekonomi, tetapi juga pertalian peradaban Islam yang mendalam. Di bawah kubah emas dan mozaik biru khas arsitektur Safawi, mereka memanjatkan doa dan menaburkan bunga di pusara pemimpin yang telah membentuk geopolitik Timur Tengah selama lebih dari tiga dekade.
Mengenang Pemimpin Spiritual Iran
Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat pada 2025, mewariskan jejak teologis dan politis yang kompleks. Sebagai murid langsung Imam Khomeini, ia melanjutkan tongkat estafet Wilayatul Faqih—konsep kepemimpinan ulama dalam doktrin Syiah Dua Belas—yang menjadikannya otoritas tertinggi negara sekaligus penentu arah kebijakan luar negeri poros perlawanan. Ibarat mata rantai yang menghubungkan masa revolusi dengan era modern, Khamenei tidak hanya menjaga stabilitas internal di tengah sanksi, tetapi juga mengonsolidasikan jaringan aliansi strategis dari Lebanon hingga Yaman.
Makamnya yang terletak di kompleks Haram Imam Reza, makam Imam Syiah kedelapan, menjadi simbol persatuan spiritual. Bagi delegasi Indonesia, ziarah ini bukan sekadar protokoler kenegaraan; ia merepresentasikan penghormatan terhadap akar intelektual Islam yang turut memengaruhi dinamika pemikiran di Nusantara melalui jaringan pesantren dan ulama Timur Tengah.
Delegasi Lintas Unsur: Isyarat Persatuan Nasional
Komposisi tim ziarah sengaja dirancang untuk mencerminkan wajah Indonesia yang beragam namun padu. Menlu Sugiono hadir membawa mandat diplomasi resmi, menegaskan bahwa hubungan Jakarta-Teheran tidak akan terganggu oleh dinamika transisi kepemimpinan di Iran. Dalam pertemuan-pertemuan terpisah dengan mitranya, ia membahas kelanjutan kerja sama di sektor energi, perdagangan non-migas, dan farmasi yang telah terjalin erat meski tekanan geopolitik global terus menguat.
Sementara itu, Ahmad Muzani menyampaikan simpati parlemen Indonesia dan menekankan pentingnya forum-forforum bilateral antar-legislatif untuk memperkuat saling pengertian di tengah perbedaan mazhab mayoritas. Kunjungannya menandai babak baru diplomasi people-to-people yang mencakup program pertukaran akademisi dan jurnalis. Adapun Gus Yahya merepresentasikan umat Islam Indonesia, khususnya tradisi Sunni Nusantara yang terbiasa hidup berdampingan dengan kelompok Syiah secara damai. Kehadirannya menegaskan bahwa perbedaan teologis tidak menjadi penghalang untuk hormat menghormati antartokoh agama.
Makna Strategis Hubungan Indonesia-Iran
Hubungan kedua negara telah berlangsung sejak 1950 dan mengalami pendalaman signifikan di era Presiden KH. Abdurrahman Wahid yang gencar mempromosikan poros Jakarta-Teheran. Kini, nilai perdagangan bilateral menyentuh angka US$1,2 miliar pada 2023, dengan ekspor utama Indonesia mencakup minyak sawit, kertas, dan produk kimia. Namun yang lebih fundamental adalah investasi kebudayaan: ratusan mahasiswa Indonesia belajar di Qom dan Mashhad setiap tahun, sementara film-film Iran rutin menghiasi festival-festival lokal.
Ziarah ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai jembatan peradaban. Di saat Timur Tengah terus bergolak, Jakarta memainkan peran unik sebagai mediator kultural yang bisa berbicara kepada semua pihak. Deklarasi para pemimpin yang berdiri di samping makam Khamenei bukanlah isyarat berpihak, melainkan pesan bahwa Indonesia menolak sektarianisme dan mengedepankan dialog sebagai jalan keluar dari kebuntuan politik kawasan.
Mashhad: Kota Suci yang Menyimpan Sejarah
Mashhad bukan sekadar kota terbesar kedua Iran; ia adalah magnet spiritual bagi lebih dari 30 juta peziarah per tahun. Kompleks Haram Imam Reza, tempat makam Khamenei kini bersemayam, merupakan situs Islam terbesar di dunia berdasarkan luas area. Arsitekturnya menakjubkan: perpaduan antara kaligrafi Persia, ubin tujuh warna al-haramain, dan menara-menara yang menjulang bak menara doa. Seluruh ruang ini seolah menjadi saksi betapa sejarah, seni, dan spiritualitas mampu menyatu dalam harmoni.
Bagi delegasi Indonesia, pengalaman berjalan di serambi ghadir yang dipenuhi aroma kayu cendana menyisakan refleksi mendalam. Di sinilah, di antara ribuan peziarah berpakaian chador dan sorban hitam, perbedaan kebangsaan dan mazhab luruh dalam tafakur kosmopolitan. Persis seperti semangat yang diusung para pendiri bangsa Indonesia—takwa dalam keberagaman, hormat dalam perbedaan.
Rangkaian ziarah ditutup dengan penandatanganan batu prasasti peringatan atas nama rakyat Indonesia dan doa bersama yang dipimpin oleh pemimpin setempat. Delegasi dijadwalkan melanjutkan lawatan ke Teheran untuk bertemu Presiden baru Iran dan menandatangani nota kesepahaman kerja sama sains dan teknologi. Namun jejak langkah di Mashhad pagi itu akan tetap tinggal—sebagai bisikan lembut bahwa diplomasi sejati adalah yang dimulai dari hati.
Baca juga:
Comments (0)