Teknologi

Pejabat Militer Rusia: Israel Bisa Berhenti Eksis Jika Perang Memburuk

Moskow kembali mencuri perhatian dunia lewat sebuah peringatan yang dikemas dengan bahasa paling keras dalam beberapa bulan terakhir. Seorang pejabat tinggi militer Rusia menegaskan bahwa Israel berpo...

Pejabat Militer Rusia: Israel Bisa Berhenti Eksis Jika Perang Memburuk

Moskow kembali mencuri perhatian dunia lewat sebuah peringatan yang dikemas dengan bahasa paling keras dalam beberapa bulan terakhir. Seorang pejabat tinggi militer Rusia menegaskan bahwa Israel berpotensi kehilangan statusnya sebagai entitas negara apabila konflik di Timur Tengah terus merambat naik tanpa ada titik rem.

Pesan tersebut bukan sekadar retorika kosong. Ia lahir dari situasi lapangan yang semakin panas: pertukaran serangan langsung antara Israel dan Iran telah terjadi lebih dari satu kali sepanjang 2024, operasi militer di Lebanon masih berjalan, sementara kelompok bersenjata pro-Tehran di Irak, Yaman, dan Suriah turut membesarkan api. Bagi Moskow, kawasan yang selama ini menjadi arena pengaruhnya kini berada di ambang perang terbuka berskala jauh lebih besar daripada perang Israel-Hamas.

Akar Eskalasi yang Tak Kunjung Padam

Titik nyalanya dapat ditelusuri ke serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Jalur Gaza. Namun garis konflik kemudian menjalar ke mana-mana: front utara dengan Hizbullah di Lebanon, serangan Houthi terhadap jalur pelayaran Laut Merah, hingga konfrontasi terbuka dengan Iran sendiri. Pada April 2024, Iran untuk pertama kalinya menembakkan ratusan drone dan rudal langsung ke wilayah Israel; aksi balasan pun menyusul, dan siklus itu terulang kembali pada Oktober 2024 dengan intensitas yang jauh lebih dahsyat.

Dalam kerangka itulah peringatan dari pejabat Rusia perlu dibaca. Menurutnya, kombinasi banyaknya lawan, luasnya medan tempur, dan keterlibatan aktor besar seperti Iran menciptakan skenario di mana ketahanan Israel sebagai negara benar-benar diuji—bukan sekadar keselamatan warganya.

Bacaan Politik di Balik Ucapan Moskow

Analis keamanan menilai pernyataan semacam ini sarat muatan politik. Pertama, ia menegaskan kehadiran Rusia sebagai pemain yang ingin tetap diperhitungkan dalam urusan Timur Tengah, terlebih setelah sorotan dunia sempat teralih ke perang Ukraina. Kedua, pesan tersebut berfungsi sebagai alat tekanan halus terhadap Israel sekaligus sinyal solidaritas kepada Iran, mitra strategis Moskow yang kerja sama militernya semakin erat sejak 2022.

Yang menarik, hubungan Rusia dan Israel tidak serta-merta putus. Tel Aviv selama ini memilih sikap hati-hati terhadap konflik Ukraina, sementara Moskow masih memelihara saluran komunikasi soal stabilitas di Suriah. Artinya, ucapan sang pejabat lebih tepat diposisikan sebagai kartu tawar diplomatis, bukan deklarasi permusuhan total.

Skenario Buruk yang Ditakutkan Dunia

Jika dibongkar lebih jauh, kekhawatiran soal 'negara berhenti eksis' merujuk pada kemungkinan perang multi-front yang berkepanjangan. Bayangkan Israel harus menghadapi Hizbullah di utara, kelompok bersenjata di Suriah dan Irak di timur, Houthi di selatan, plus ancaman rudal balistik Iran—semuanya secara bersamaan dan berminggu-minggu. Ekonomi akan tertekan, stok amunisi menipis, dan ketergantungan pada pasokan persenjataan Amerika Serikat semakin membesar.

Namun banyak pengamat menahan diri untuk tidak menelan peringatan itu mentah-mentah. Superioritas udara, sistem pertahanan anti-rudal canggih, dan payung aliansi Barat membuat skenario runtuhnya Israel dinilai sangat jauh dari kenyataan hari ini. Risiko yang lebih realistis justru meliputi korban sipil yang membeludak, krisis kemanusiaan yang melebar lintas negara, serta gonjang-ganjing ekonomi global lewat harga energi dan gangguan jalur pelayaran strategis.

Ruang Diplomasi yang Semakin Sempit

Di atas kertas, pintu perdamaian belum tertutup rapat. Negosiasi tidak langsung mengenai gencatan senjata di Gaza masih digarap melalui mediasi Qatar dan Mesir. Dewan Keamanan PBB terus menggelar pertemuan darurat, sementara sejumlah negara besar menyerukan deeskalasi sebelum satu insiden tunggal memicu efek domino yang tak terkendali.

Peringatan ala Moskow sendiri bisa dimaknai dua arah: sebagai upaya mendinginkan suasana dengan menyoroti harga mahal perang panjang, atau sebaliknya, menambah bahan bakar polarisasi di kawasan. Di tengah ketidakpastian itu, satu hal pasti—mata dunia terus tertuju pada setiap langkah di Timur Tengah, sebab konsekuensi dari satu kesalahan perhitungan berpotensi melampaui batas-batas kawasannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User