Teknologi

PBB Peringatkan Dampak Lingkungan Data Center AI di Jabodetabek

Bayangkan sebuah kota yang tidak pernah tidur, bukan karena penduduknya begadang, melainkan karena ribuan server di dalam gedung-gedung besar terus menyala 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Itulah gamba...

PBB Peringatkan Dampak Lingkungan Data Center AI di Jabodetabek

Bayangkan sebuah kota yang tidak pernah tidur, bukan karena penduduknya begadang, melainkan karena ribuan server di dalam gedung-gedung besar terus menyala 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Itulah gambaran sederhana dari pusat data alias data center yang kini tumbuh subur di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja melempar peringatan serius: pertumbuhan pusat data untuk kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) berpotensi menimbulkan polemik lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Mengapa ini penting bagi Anda? Karena konsumsi listrik dan air yang massive dari fasilitas ini bisa berdampak langsung pada tarif energi, ketersediaan air bersih, dan kualitas udara di sekitar tempat tinggal Anda.

Ledakan Pusat Data AI dan Jejak Karbonnya

Di balik kemudahan layanan digital—mulai dari asisten virtual hingga rekomendasi film—ada infrastruktur raksasa yang bekerja keras. Pusat data AI membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar ketimbang pusat data konvensional. Ibarat seperti mesin mobil balap yang harus terus digeber di lintasan, server AI tidak pernah berhenti memproses algoritma pembelajaran mesin (machine learning) dan model bahasa besar. Akibatnya, kebutuhan listrik melonjak drastis. Menurut data dari Badan Energi Internasional (IEA/International Energy Agency), konsumsi listrik pusat data global diproyeksikan mencapai 945 terawatt-jam (TWh) pada 2030, setara dengan konsumsi listrik seluruh Jepang. Di kawasan Jabodetabek, pembangunan pusat data terus menggeliat, didorong oleh permintaan layanan cloud dan AI dari perusahaan teknologi global maupun lokal. Namun, pasokan listrik di kawasan ini sebagian masih berasal dari pembangkit batu bara, yang berarti setiap tambahan megawatt (MW) listrik untuk pusat data turut menyumbang emisi karbon.

Krisis Air dan Panas: Efek Samping yang Sering Terlupakan

Selain listrik, pusat data AI juga haus air. Sistem pendingin server memerlukan air dalam jumlah besar untuk mencegah perangkat elektronik kepanasan—mirip seperti radiator mobil yang harus terus dialiri cairan pendingin. Sebuah studi dari Universitas California, Riverside, mengungkapkan bahwa pusat data kelas menengah bisa menghabiskan hingga 1,2 juta liter air per hari, setara dengan kebutuhan air harian sekitar 8.000 rumah tangga. Di wilayah Jabodetabek yang sudah menghadapi tekanan air tanah dan banjir tahunan, kehadiran banyak pusat data berpotensi memperparah krisis air. Belum lagi panas buangan (waste heat) yang dilepaskan ke lingkungan sekitar, menciptakan pulau panas mikro (micro heat island) yang membuat suhu udara di sekitar fasilitas naik beberapa derajat Celsius. PBB menekankan bahwa tanpa regulasi ketat, ekspansi pusat data AI dapat mengalahkan upaya pengurangan emisi yang telah disepakati dalam Perjanjian Paris.

Regulasi dan Solusi Teknologi Hijau

Lantas, apa solusinya? PBB mendorong tiga langkah utama. Pertama, transparansi data: operator pusat data wajib melaporkan konsumsi energi, air, dan emisi karbon secara berkala kepada pemerintah daerah. Kedua, adopsi teknologi pendingin hemat energi, seperti pendingin cairan langsung (direct-to-chip liquid cooling) yang mampu memangkas penggunaan air hingga 90 persen dibandingkan sistem konvensional. Ketiga, transisi ke energi terbarukan, misalnya panel surya atap atau kontrak pembelian listrik hijau. Beberapa perusahaan teknologi global sudah mulai berinvestasi dalam pusat data ramah lingkungan, tetapi skalanya masih kecil dibandingkan pertumbuhan permintaan AI. Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika tengah menyusun standar pusat data hijau, namun implementasinya masih menunggu payung hukum yang lebih kuat. Tanpa intervensi cepat, kawasan Jabodetabek bisa menjadi contoh nyata bagaimana inovasi teknologi tanpa perencanaan lingkungan yang matang justru menciptakan disrupsi ekologis.

"Pusat data adalah tulang punggung ekonomi digital, tetapi kita tidak bisa menutup mata pada jejak lingkungannya. Diperlukan kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan AI tumbuh secara berkelanjutan," ujar seorang pejabat lingkungan PBB dalam laporan terbarunya.

Bagi pembaca di Jabodetabek, peringatan ini bukan sekadar wacana internasional. Ini adalah panggilan untuk lebih kritis terhadap pembangunan infrastruktur digital di sekitar kita. Menuntut transparansi dan mendukung kebijakan energi bersih adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar. Bagaimanapun, teknologi seharusnya menjadi solusi, bukan sumber masalah baru bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User