Pasar Modal Syariah Tumbuh Dua Digit, Likuiditas dan Literasi Masih Jadi Tantangan
Jakarta — Pasar modal syariah Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang semester pertama 2026. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menguat 12,4% year-to-date, melampaui pertumbuhan Inde
Jakarta — Pasar modal syariah Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang semester pertama 2026. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menguat 12,4% year-to-date, melampaui pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan yang tercatat 8,7% pada periode yang sama. Kapitalisasi pasar saham syariah kini mencapai Rp6.827 triliun, berkontribusi sekitar 54% dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Pertumbuhan Didorong Sektor Unggulan
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Mei 2026, jumlah saham yang tercatat dalam Daftar Efek Syariah mencapai 647 emiten, naik dari 612 emiten pada akhir 2025. Pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor energi terbarukan, teknologi, dan konsumsi halal. PT Bank Syariah Indonesia Tbk dan PT Telkom Indonesia Tbk menjadi kontributor utama dengan bobot gabungan mencapai 18% dari total kapitalisasi ISSI.
Dari sisi instrumen, nilai outstanding sukuk korporasi hingga Juni 2026 tercatat sebesar Rp198,4 triliun atau tumbuh 9,3% secara tahunan. Sementara itu, sukuk negara mencapai Rp1.542 triliun, mendominasi 63% dari total obligasi pemerintah yang beredar.
Tantangan Likuiditas dan Kedalaman Pasar
Meski tumbuh agresif, pasar modal syariah menghadapi persoalan struktural. Rata-rata volume transaksi harian saham syariah masih 32% lebih rendah dibandingkan saham konvensional, menurut catatan BEI. Konsentrasi pada 20 saham teratas juga masih tinggi, mencakup 71% dari total transaksi harian. Analis dari Mandiri Sekuritas menilai kesenjangan ini mencerminkan terbatasnya partisipasi investor institusi besar pada instrumen syariah.
Kepala Divisi Pasar Modal Syariah OJK, dalam keterangan tertulis pekan lalu, mengakui bahwa pengembangan market maker khusus syariah menjadi prioritas untuk memperbaiki kedalaman pasar. "Kami mendorong partisipasi dana pensiun syariah dan reksa dana indeks syariah sebagai anchor investor," ujarnya.
Literasi dan Inklusi Masih Rendah
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 menunjukkan indeks literasi pasar modal syariah berada di angka 8,7%, jauh di bawah literasi pasar modal konvensional sebesar 12,3%. Gap ini dinilai menjadi penghambat utama perluasan basis investor ritel. Saat ini total investor syariah tercatat 6,9 juta Single Investor Identification, atau 34% dari total investor pasar modal.
Roadmap Pasar Modal Syariah 2025-2029 yang diluncurkan OJK menargetkan peningkatan literasi menjadi 18% dan pertumbuhan investor syariah hingga 15 juta SID pada 2029. Strategi yang ditempuh mencakup digitalisasi produk, kolaborasi dengan fintech syariah, serta integrasi kurikulum investasi syariah di perguruan tinggi.
Dengan fundamental pertumbuhan yang solid dan dukungan regulasi yang konsisten, pasar modal syariah Indonesia diproyeksikan tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi syariah nasional. Namun, keberhasilan mengatasi kesenjangan literasi dan likuiditas akan menentukan apakah momentum pertumbuhan ini berkelanjutan atau sekadar lonjakan temporer.
Comments (0)