Stock Split Dorong Lonjakan Transaksi Investor Ritel di BEI
Jakarta – Aksi korporasi pemecahan saham atau stock split kembali menjadi katalis peningkatan partisipasi investor ritel di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena ini makin terlihat seiring derasnya emi
Jakarta – Aksi korporasi pemecahan saham atau stock split kembali menjadi katalis peningkatan partisipasi investor ritel di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena ini makin terlihat seiring derasnya emiten yang memecah nilai nominal sahamnya guna memperluas basis kepemilikan dan mendongkrak likuiditas.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per semester I 2026, total investor pasar modal Indonesia menembus 13,8 juta single investor identification (SID). Dari jumlah tersebut, 97% di antaranya adalah investor ritel. Pencapaian ini tak lepas dari dorongan aksi korporasi seperti stock split yang membuat harga saham unggulan menjadi lebih terjangkau.
Peningkatan Transaksi Pasca Stock Split
Data perdagangan BEI menunjukkan bahwa emiten yang melakukan stock split dengan rasio di atas 1:5 mengalami kenaikan volume transaksi rata-rata sebesar 62% dalam tiga bulan pasca pelaksanaan. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), misalnya, mencatat lonjakan frekuensi transaksi harian sebesar 78% setelah melakukan stock split 1:10 pada awal 2026. Saham yang sebelumnya diperdagangkan di kisaran Rp28.000 per lembar, setelah pemecahan turun menjadi Rp2.800, sehingga menarik minat investor dengan modal terbatas.
“Stock split adalah instrumen efektif untuk mendemokratisasi kepemilikan saham. Investor ritel yang sebelumnya terhalang harga tinggi kini dapat masuk dengan modal lebih kecil,” ujar Kepala Divisi Pengembangan Investor BEI, saat ditemui di gedung BEI, Kamis (10/6).
Risiko dan Perspektif Fundamental
Meskipun meningkatkan likuiditas, analis mengingatkan agar investor ritel tidak semata-mata berburu saham hasil stock split tanpa mempertimbangkan fundamental perusahaan. Data dari Lembaga Studi Pasar Modal (LSPM) menunjukkan bahwa 40% saham pasca stock split justru mengalami koreksi harga dalam empat bulan pertama setelah periode lonjakan awal. Hal ini menunjukkan bahwa ekspektasi jangka pendek kerap tidak sejalan dengan kinerja fundamental emiten.
“Stock split adalah aksi korporasi kosmetik yang tidak mengubah nilai intrinsik perusahaan. Investor harus tetap berpatokan pada kinerja keuangan dan prospek bisnis, bukan sekadar harga nominal yang terlihat murah,” jelas Andika Pratama, analis senior LSPM.
Regulator Dorong Literasi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sepanjang 2025–2026 telah terjadi 34 aksi stock split di BEI, meningkat 21% dibanding periode dua tahun sebelumnya. Menyikapi tren ini, OJK memperkuat program edukasi bagi investor pemula melalui modul literasi digital yang mencakup risiko psikologis “money illusion”—kecenderungan investor menganggap saham murah selalu menguntungkan.
Dengan semakin masifnya aksi stock split, partisipasi investor ritel diproyeksikan terus bertumbuh. Namun, selektivitas berbasis data fundamental tetap menjadi tameng utama dalam meraih keuntungan jangka panjang.
Comments (0)