Saham Defensif Jadi Andalan Investor Saat Pasar Bearish Melanda
Jakarta, Terdepan.id — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tekanan jual yang semakin dalam sepanjang kuartal III 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari 12% secara year-t
Jakarta, Terdepan.id — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tekanan jual yang semakin dalam sepanjang kuartal III 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari 12% secara year-to-date. Dalam kondisi pasar bearish yang dipicu oleh kekhawatiran resesi global dan pelemahan daya beli domestik, investor mulai beralih ke saham defensif sebagai strategi mitigasi risiko. Data BEI menunjukkan bahwa sepanjang Juli-September 2026, sektor kesehatan dan konsumen primer—yang masuk kategori defensif—mencatatkan return rata-rata positif 3,8%, berbanding terbalik dengan sektor siklikal yang anjlok hingga 18%.
Karakteristik dan Kinerja Saham Defensif
Saham defensif adalah emiten dari sektor yang permintaannya relatif stabil terlepas dari siklus ekonomi, seperti barang konsumsi primer, farmasi, utilitas, dan telekomunikasi. Berdasarkan riset dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, indeks sektor konsumen primer (IDX-CYC) hanya terkoreksi 1,2% dalam tiga bulan terakhir, jauh lebih rendah ketimbang sektor properti yang ambles 14,5%. Analis mencatat bahwa saham-saham seperti Unilever Indonesia (UNVR) dan Kalbe Farma (KLBF) mencatat laba bersih yang tetap tumbuh tipis meskipun tekanan konsumsi meningkat. Hal ini menjadikan saham defensif sebagai bantalan portofolio yang efektif saat volatilitas tinggi.
Strategi Alokasi di Tengah Ketidakpastian
Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih, mengatakan bahwa investor institusi telah meningkatkan porsi saham defensif hingga 45% dari total portofolio saham mereka pada September 2026. “Alokasi pada sektor defensif mampu menurunkan Value at Risk (VaR) portofolio hingga 30% dalam simulasi skenario bearish,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/9). Sementara itu, platform investasi Bareksa mencatat peningkatan transaksi reksa dana saham bertema defensif sebesar 40% dalam dua bulan terakhir. Namun, analis mengingatkan bahwa saham defensif tetap memiliki risiko, terutama jika valuasi sudah terlalu mahal akibat permintaan yang tinggi. Investor disarankan untuk memilih emiten dengan fundamental kuat dan dividend yield di atas rata-rata.
Prospek ke Depan
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 hanya mencapai 4,8%, lebih rendah dari target 5,2%, yang mengindikasikan resesi masih mengintai di awal 2027. Dalam skenario tersebut, saham defensif diproyeksikan tetap outperformed dibandingkan sektor siklikal dalam jangka pendek. Manajer investasi PT Trimegah Asset Management merekomendasikan alokasi minimum 30% pada saham defensif hingga IHSG menunjukkan sinyal reversal yang jelas. Pasar akan terus memantau rilis data neraca perdagangan dan inflasi akhir bulan ini sebagai indikator kapan momentum bearish mulai mereda.
Comments (0)