Bisnis

Pakar Psikologi Ungkap Peran Mindfulness Saat Mengonsumsi Berita Buruk

Arus informasi digital yang bergerak tanpa henti kerap membanjiri ruang publik dengan kabar bencana, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi. Pap

Pakar Psikologi Ungkap Peran Mindfulness Saat Mengonsumsi Berita Buruk

Arus informasi digital yang bergerak tanpa henti kerap membanjiri ruang publik dengan kabar bencana, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi. Paparan konstan terhadap narasi negatif atau yang kerap disebut doomscrolling terbukti memicu peningkatan kecemasan dan kelelahan mental. Menanggapi fenomena tersebut, sejumlah pakar kesehatan mental menegaskan pentingnya penerapan teknik mindfulness sebagai instrumen navigasi psikologis dalam menyikapi arus berita buruk.

Muncul perdebatan di tengah masyarakat mengenai esensi pendekatan ini: apakah mindfulness bertujuan untuk menghindari kenyataan pahit atau justru melatih individu untuk menghadapinya dengan lebih tangguh. Praktisi psikologi menggarisbawahi bahwa kesadaran penuh bukan bentuk penyangkalan realitas, melainkan mekanisme regulasi emosi yang terukur.

"Mindfulness bukanlah tameng untuk bersikap apatis terhadap krisis di sekitar kita. Pendekatan ini adalah sarana melatih kesadaran agar kita tidak terhanyut ke dalam kepanikan irasional saat membaca kabar buruk," ujar praktisi psikologi klinis.

1. Tahap Identifikasi: Mengenali Sinyal Stres Tubuh

Langkah awal penerapan kesadaran penuh dimulai dari pemantauan respons fisik dan mental sesaat setelah membaca informasi negatif. Ketika menerima kabar yang mengejutkan, sistem saraf manusia secara alami mengaktifkan respons fight or flight yang ditandai dengan detak jantung yang meningkat dan ketegangan otot.

Pada fase ini, individu diajak untuk mengamati sensasi fisik tanpa langsung bereaksi secara impulsif. Alih-alih langsung membagikan informasi yang memicu kepanikan di media sosial, jeda sejenak diperlukan untuk menstabilkan pernapasan dan memulihkan kejernihan berpikir.

2. Tahap Pemrosesan: Menerima Realitas Tanpa Menghakimi

Proses selanjutnya berfokus pada diferensiasi antara fakta dan asumsi emosional. Menghadapi berita buruk secara mindful berarti menerima kehadiran fakta objektif tanpa menambah beban interpretasi yang berlebihan atau spekulasi yang belum terverifikasi.

  • Memisahkan Fakta dan Opini: Memverifikasi validitas sumber informasi sebelum memprosesnya sebagai kebenaran mutlak.
  • Menyadari Batas Kendali: Membedakan peristiwa yang berada di luar kendali pribadi dengan tindakan nyata yang bisa dilakukan secara mandiri.
  • Mengelola Emosi Negatif: Memberi ruang pada rasa sedih atau khawatir secara wajar tanpa membiarkannya mendominasi produktivitas harian.

3. Tahap Tindakan: Menetapkan Batasan Konsumsi Digital

Tahap akhir dari penerapan mindfulness adalah menetapkan batasan konsumsi informasi harian secara terstruktur. Hal ini berbeda dengan sikap acuh tak acuh; pembatasan ini bertujuan menjaga kapasitas kognitif tetap optimal agar individu tetap dapat berfungsi efektif di kehidupan nyata.

  1. Menjadwalkan Waktu Membaca Berita: Mengalokasikan waktu tertentu, misalnya 15 hingga 30 menit per hari, serta menghindari konsumsi gawai menjelang waktu tidur.
  2. Melakukan Kurasi Sumber Informasi: Mengikuti kanal berita kredibel dan membisukan (mute) akun-akun penyebar sensasi berlebihan.
  3. Mengalihkan Fokus ke Aksi Konkret: Menyalurkan kepedulian sosial melalui tindakan nyata, seperti donasi atau edukasi komunitas, ketimbang sekadar larut dalam kecemasan daring.

Dengan menerapkan prinsip kesadaran penuh, publik diharapkan mampu tetap terinformasi mengenai isu-isu krusial global maupun nasional tanpa mengorbankan stabilitas kesehatan mental.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User