Moana Live-Action Hancur di Rotten Tomatoes, Disebut Mirip Buatan AI

Adaptasi live-action Moana yang dirilis pada tahun 2026 langsung menjadi bulan-bulanan para kritikus film. Alih-alih menuai pujian seperti versi animasinya, film garapan Disney ini justru terpuruk den...

Adaptasi live-action Moana yang dirilis pada tahun 2026 langsung menjadi bulan-bulanan para kritikus film. Alih-alih menuai pujian seperti versi animasinya, film garapan Disney ini justru terpuruk dengan perolehan skor hanya 36% di Rotten Tomatoes. Angka tersebut menandakan bahwa sebagian besar ulasan bernada negatif, menyorot bagaimana produksi mahal ini gagal menangkap kembali roh petualangan yang membuat film orisinalnya begitu dicintai.

Tak sekadar mendapat kritik biasa, beberapa pengamat bahkan melontarkan perbandingan yang cukup pedas: visual film ini disebut mirip dengan konten buatan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence). Istilah ini mengacu pada gambar atau video yang dihasilkan oleh algoritma generatif, yang sering kali tampak mengilap namun hampa jiwa. Tudingan itu muncul karena penampakan karakter dan lingkungan di film terasa terlalu mulus, kaku, dan kehilangan sentuhan organik yang biasa dihadirkan oleh para animator handal. Dalam banyak adegan, lautan—yang di versi 2016 hidup sebagai karakter tersendiri—kini hanya menjadi hamparan air digital yang dingin.

Mengapa Adaptasi Ini Mengecewakan?

Kekecewaan terbesar terletak pada hilangnya pesona yang menjadi kekuatan utama film animasi Moana (2016). Versi aslinya berhasil memadukan visual memukau, musik dari Lin-Manuel Miranda yang jenius, dan akting suara penuh penghayatan dari Auli'i Cravalho. Sementara itu, versi live-action justru terasa seperti upaya mekanis untuk menduplikasi momen-momen ikonik tanpa memahami esensi emosionalnya. Kritikus dari berbagai media besar menyebut eksekusinya "datar" dan "tidak memiliki hati".

Salah satu sorotan tajam diarahkan pada desain karakter Maui yang diperankan oleh aktor ternama. Tato animasi yang bergerak di tubuh Maui—salah satu pencapaian teknis paling memukau di film pertama—kini terlihat seperti filter digital murahan. Hal ini memicu perbandingan dengan seni yang dihasilkan oleh AI generatif, di mana detail sering kali tampak mewah pada pandangan pertama, tetapi rontok saat diperhatikan lebih saksama. Penonton yang berharap merasakan kehangatan Polinesia seperti di film aslinya, justru disuguhi tontonan yang terasa steril.

Perbandingan dengan Versi Animasi 2016

Tidak bisa dihindari, setiap adaptasi live-action Disney akan selalu dibandingkan dengan pendahulunya. Untuk Moana, perbandingan itu terasa sangat timpang. Film animasi rilisan tahun 2016 tidak hanya sukses secara komersial dengan pendapatan global lebih dari 640 juta dolar AS, tetapi juga meraih dua nominasi Academy Awards. Lagu "How Far I'll Go" menjadi anthem bagi jutaan anak dan dewasa. Keaslian budaya Polinesia yang dikonsultasikan dengan para ahli juga menuai pujian.

Sebaliknya, versi 2026—meski dibintangi oleh para aktor berbakat—gagal membawa elemen-elemen itu ke ranah live-action. Musik yang diaransemen ulang terasa kehilangan greget, sementara penampilan para pemain tidak mampu mengimbangi dinamika suara pengisi karakter asli. Alhasil, film ini tidak lebih dari sekadar fotokopi mahal yang pucat, sebuah jukstaposisi yang kontras dengan pesan film tentang menemukan jati diri. Inilah mengapa skor 36% di Rotten Tomatoes menjadi simbol betapa rendahnya penerimaan terhadap proyek yang digadang-gadang sebagai blockbuster.

Respons Publik dan Masa Depan Adaptasi Disney

Di media sosial, reaksi warganet jauh lebih keras. Tagar sempat viral dengan meme yang menyandingkan cuplikan film dengan gambar yang dibuat oleh AI populer, menunjukkan betapa miripnya keduanya. Banyak yang mempertanyakan arah strategi Disney dalam memproduksi ulang film-film klasik mereka. Pola yang terus berulang—mengambil animasi sukses, menuangkannya ke dalam format live-action, dan berharap nostalgia bekerja—mulai menunjukkan kelelahan.

Data menunjukkan bahwa tren adaptasi live-action Disney mulai kehilangan daya magisnya. Setelah kesuksesan The Lion King (2019) yang meraup 1,6 miliar dolar AS, film-film seperti Pinocchio dan Peter Pan & Wendy justru mendapat sambutan dingin. Moana versi 2026 seolah menegaskan bahwa teknologi visual yang semakin canggih tidak bisa menggantikan kekuatan cerita dan arah artistik yang tulus.

Meski demikian, pihak Disney belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik pedas ini. Analis industri memperkirakan bahwa kegagalan ini dapat mendorong evaluasi internal, terutama dalam memilih properti intelektual mana yang benar-benar pantas diadaptasi. Untuk para penggemar, harapan kini tertuju pada sekuel animasi Moana 2 yang dijadwalkan hadir di akhir tahun yang sama, berharap waralaba ini kembali ke akar yang membuatnya begitu istimewa—jauh dari sentuhan dingin algoritma dan lebih dekat ke detak jantung penceritaan manusia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User