67,6 Persen Balita Masih Diberi Kental Manis, Alarm Kesehatan Berbunyi

Angka yang Mengkhawatirkan di Tengah RegulasiSebuah temuan terbaru memperlihatkan bahwa hampir tujuh dari sepuluh balita di Indonesia masih mengonsumsi susu kental manis sebagai asupan harian. Persent...

Angka yang Mengkhawatirkan di Tengah Regulasi

Sebuah temuan terbaru memperlihatkan bahwa hampir tujuh dari sepuluh balita di Indonesia masih mengonsumsi susu kental manis sebagai asupan harian. Persentasenya mencapai 67,6 persen, menunjukkan betapa kebiasaan yang keliru ini belum banyak berubah meskipun aturan tegas sudah diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak beberapa tahun lalu. Angka ini bukan sekadar statistik kering; ia adalah potret risiko kesehatan yang mengintai jutaan anak pada masa emas pertumbuhan mereka.

Fenomena ini menjadi tamparan bagi upaya perbaikan gizi nasional. Ketika pemerintah gencar menekan angka stunting dan malnutrisi, realitas di tingkat rumah tangga berkata lain. Banyak orangtua masih menganggap susu kental manis setara dengan susu pertumbuhan, padahal secara kandungan gizi keduanya sangat berbeda. Kondisi ini mendorong lembaga seperti Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) untuk kembali mengingatkan bahwa pengawasan ketat dan edukasi publik harus menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.

Akar Masalah: Persepsi Publik yang Keliru

Ibarat mengisi tangki kendaraan dengan cairan yang salah, memberikan susu kental manis sebagai susu untuk balita adalah tindakan yang bisa merusak mesin pertumbuhan anak. Produk ini sejatinya dirancang sebagai pelengkap hidangan, bukan untuk memenuhi kebutuhan protein, kalsium, dan zat gizi mikro yang diperlukan oleh anak di bawah lima tahun. Kandungan gulanya bisa mencapai lebih dari 50 gram per 100 mililiter, jauh melampaui batas aman konsumsi gula harian balita. Sementara itu, protein dan nutrisi esensialnya sangat minim.

Kesalahpahaman ini tidak terjadi begitu saja. Iklan dan kemasan produk selama bertahun-tahun mencitrakan susu kental manis sebagai minuman bernutrisi untuk keluarga, termasuk anak-anak. Bahkan setelah BPOM merevisi aturan pelabelan melalui Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 yang melarang pencantuman gambar bayi dan anak pada label serta mewajibkan peringatan “tidak cocok untuk bayi”, residu persepsi lama masih melekat kuat. Distribusi yang luas dan harga yang lebih terjangkau dibanding susu formula juga membuat produk ini menjadi pilihan instan bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Risiko di Balik Setiap Sendok Kental Manis

Konsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu pada balita membawa konsekuensi kesehatan yang serius. Kelebihan asupan gula sejak dini berkontribusi pada lonjakan kasus obesitas, diabetes tipe 2, dan kerusakan gigi pada anak. Namun, dampak yang lebih dalam adalah kekurangan gizi mikro yang justru terjadi di tengah kelebihan kalori kosong. Anak-anak ini berisiko mengalami stunting atau gagal tumbuh, anemia, dan gangguan perkembangan kognitif, karena tubuh mereka tidak memperoleh blok pembangun yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.

Para peneliti gizi telah memperingatkan bahwa keadaan ini dapat memperparah beban ganda malnutrisi di Indonesia. Di satu sisi, masih ada anak yang kurus dan pendek akibat kurang gizi; di sisi lain, muncul generasi yang kegemukan namun sebenarnya miskin zat gizi. Pola pemberian kental manis yang salah ini menjadi salah satu jembatan menuju situasi paradoks tersebut. Oleh karena itu, persoalannya bukan semata soal tradisi atau selera, melainkan ancaman bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Regulasi Sudah Ada, Pengawasan Masih Terseok

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. BPOM telah mengeluarkan pedoman pelabelan yang jelas, dan Kementerian Kesehatan aktif mempromosikan pemberian ASI eksklusif serta makanan pendamping yang benar. Namun, celah implementasi masih terbuka lebar. Di lapangan, banyak ditemukan susu kental manis yang dijual tanpa peringatan yang cukup mencolok, atau justru masih ditampilkan di rak-rak yang berdekatan dengan susu pertumbuhan. Pengawasan distribusi dan penjualan ritel menjadi titik lemah yang perlu diperkuat.

CISDI menekankan bahwa aturan tanpa pengawasan ketat hanya akan menjadi macan kertas. Diperlukan inspeksi rutin, penegakan sanksi bagi produsen yang melanggar, serta keterlibatan dinas kesehatan daerah untuk memantau praktik di masyarakat. Tanpa langkah ini, pesan yang sampai ke orangtua akan tetap kabur dan kebiasaan lama terus berulang.

Membangun Komunikasi Publik yang Berkelanjutan

Mengubah perilaku jutaan orangtua bukan perkara satu kampanye singkat. Dibutuhkan strategi komunikasi publik yang berkelanjutan, mudah dipahami, dan menyasar emosi serta logika secara bersamaan. Narasi yang dibangun harus mampu mendobrak mitos bahwa susu kental manis adalah “susu murah bergizi” dan menggantinya dengan pemahaman tentang bahaya nyata yang mengancam anak mereka. Media sosial, puskesmas, posyandu, hingga tokoh masyarakat harus menjadi garda depan penyebar informasi yang benar.

CISDI mendorong agar pemerintah melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem edukasi ini. Organisasi masyarakat, influencer parenting, kader kesehatan, dan guru PAUD bisa menjadi perpanjangan tangan yang efektif. Setiap interaksi dengan orangtua adalah kesempatan untuk menanamkan pemahaman bahwa susu kental manis bukan pilihan untuk balita. Selain itu, materi komunikasi harus dibuat dalam berbagai bahasa daerah dan media visual yang menarik, sehingga tidak ada lagi keluarga yang tertinggal informasi.

Melindungi Generasi dari Kesalahan Kolektif

Data 67,6 persen ini adalah alarm yang tidak boleh diabaikan, karena menyangkut hak anak untuk tumbuh sehat. Jika dibiarkan, Indonesia akan menuai konsekuensi jangka panjang berupa meningkatnya beban penyakit tidak menular dan rendahnya produktivitas generasi mendatang. Semua pemangku kepentingan—pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat—harus bersinergi menghentikan laju kesalahan kolektif ini. Langkah korektif harus dimulai dari sekarang: memperketat pengawasan, memperluas edukasi, dan memastikan setiap anak mendapatkan asupan yang benar-benar bergizi, bukan sekadar kenyang yang menipu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User