Ketika asap tebal menutupi matahari di siang bolong, warga Palangka Raya dan sekitarnya tahu satu hal pasti: musim kebakaran telah tiba. Fenomena ini bukan sekadar berita musiman, melainkan siklus bencana yang berulang hampir setiap tahun dengan intensitas berbeda-beda. Bagi masyarakat, dampaknya terasa langsung—aktivitas luar ruangan dibatasi, penerbangan tertunda, dan siswa sekolah dipaksa belajar di dalam ruangan karena kualitas udara memburuk drastis.
Pertanyaannya, mengapa wilayah ini begitu rentan terhadap api dibandingkan daerah lain di Indonesia? Jawabannya tidak sederhana. Penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa kombinasi kondisi geografis, dinamika iklim global, dan aktivitas manusia menciptakan resep sempurna bagi bencana yang kembali melanda pulau terbesar di negeri ini.
Lahan Gambut: Spons Raksasa yang Berubah Menjadi Bara
Rahasia utama kerentanan Kalimantan terletak di bawah permukaan tanahnya. Pulau ini menyimpan jutaan hektare lahan gambut, yaitu jenis tanah organik yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan mati selama ribuan tahun. Ibarat seperti spons raksasa, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar saat basah. Namun ketika kemarau datang, spons itu mengering dan justru bertransformasi menjadi bahan bakar yang sangat mudah menyala.
Yang membuatnya semakin berbahaya, kebakaran gambut tidak berhenti di permukaan. Api menjalar ke dalam tanah hingga kedalaman beberapa meter dan bisa membara berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa terlihat dari udara. Para peneliti mencatat bahwa hutan gambut menyimpan cadangan karbon puluhan kali lipat dibandingkan hutan tanah mineral biasa. Ketika terbakar, volume emisi yang dilepas masuk kategori terbesar secara global.
El Niño: Mesin Pengering dari Samudra Pasifik
Faktor kedua berasal dari ribuan kilometer jauhnya. El Niño, yaitu fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur yang mengubah pola cuaca dunia, terbukti berkorelasi kuat dengan keparahan kebakaran di Indonesia. Saat El Niño menguat, curah hujan di Kalimantan anjlok dan musim kemarau berlangsung jauh lebih panjang dari biasanya.
Data historis memperlihatkan pola ini dengan gamblang. Peristiwa kebakaran besar 1997-1998, 2015, dan 2019 semuanya bertepatan dengan periode El Niño. Dalam kondisi normal, hujan tetap turun sesekali meski kemarau berjalan. Namun pada tahun El Niño kuat, deretan bulan tanpa hujan signifikan membuat lahan terdegradasi semakin rapuh terhadap percikan api sekecil apa pun.
Aktivitas Manusia: Percikan yang Memicu Ledakan
Gambut kering dan cuaca ekstrem saja belum cukup menyalakan bencana. Di sinilah faktor manusia berperan sebagai pemicu utama. Pembukaan lahan dengan cara dibakar masih dipilih sebagian pelaku perkebunan dan pertanian karena dianggap termurah dan tercepat. Satu kali pembakaran sanggup membersihkan lahan luas tanpa memerlukan alat berat maupun tenaga kerja dalam jumlah besar.
Peneliti juga menyoroti warisan kanal drainase yang digali sejak era transmigrasi dan ekspansi perkebunan skala besar. Kanal itu mengeringkan gambut yang seharusnya tetap lembap, sehingga tingkat kerawanan api melonjak pesat. Data pemantauan hotspot, yakni lokasi terdeteksi api melalui citra satelit, kerap menunjukkan konsentrasi kebakaran persis di kawasan konsesi dan lahan terdegradasi, bukan di hutan primer yang masih utuh.
Dampak yang Melampaui Batas Wilayah
Bencana ini tidak berhenti di garis batas provinsi, apalagi negara. Studi internasional pernah memperkirakan kabut asap tahun 2015 berkontribusi terhadap puluhan ribu kematian dini di Asia Tenggara akibat gangguan pernapasan dan jantung. Di dalam negeri, kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) melonjak setiap kali kadar PM2.5 (particulate matter/partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer yang mampu menembus hingga kantong paru) melewati ambang aman.
Ekonomi pun merasakan pukulan telak. Lembaga keuangan global menaksir kerugian akibat kebakaran 2019 mencapai miliaran dolar AS, mencakup kerusakan ekosistem, gangguan logistik, penurunan produktivitas, hingga biaya layanan kesehatan. Sektor pariwisata dan perdagangan lintas negara ikut tersendat ketika bandara ditutup dan pelayaran terhambat oleh visibilitas nyaris nol.
Pencegahan Jauh Lebih Murah daripada Memadamkan
Para ahli sepakat strategi penanggulangan harus bergeser dari pemadaman reaktif menuju pencegahan proaktif. Langkah yang terbukti efektif antara lain rewetting atau pembasahan kembali gambut melalui sumur bor dan bendungan kanal, restorasi vegetasi asli, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran lahan.
Teknologi turut mengambil peran strategis. Sistem deteksi dini berbasis satelit dan machine learning (pembelajaran mesin/algoritma komputer yang belajar dari pola data) kini mampu memproyeksikan risiko kebakaran berminggu-minggu sebelum terjadi, memberi waktu bagi petugas lapangan untuk bergerak lebih cepat. Namun teknologi hanya seefektif dukungan kebijakan dan pendanaan jangka panjang yang menyertainya.
Selama siklus pengeringan gambut dan pembakaran lahan belum diputus, prediksi para peneliti cukup lugas: asap akan kembali menyelimuti Kalimantan di kemarau mendatang. Persoalannya bukan lagi apakah bencana ini berulang, melainkan seberapa serius semua pihak menyiapkan solusi sebelum api menyala kembali.
Comments (0)