Teknologi

Mengapa Bogor Tetap Basah Saat El Nino Mengeringkan Daerah Lain

Bayangkan dua kota di Jawa yang hanya berjarak sekitar 700 kilometer. Satu diguyur hujan hampir setiap sore, sementara satu lagi retak-retak menunggu tetes air yang tak kunjung datang. Fenomena inilah...

Mengapa Bogor Tetap Basah Saat El Nino Mengeringkan Daerah Lain

Bayangkan dua kota di Jawa yang hanya berjarak sekitar 700 kilometer. Satu diguyur hujan hampir setiap sore, sementara satu lagi retak-retak menunggu tetes air yang tak kunjung datang. Fenomena inilah yang terjadi ketika El Nino 2026-2027 melanda Indonesia: Bogor masih kerap hujan, sedangkan Lamongan dilaporkan mengalami kekeringan parah. Mengapa bisa demikian? Jawabannya bukan sekadar soal cuaca, melainkan perpaduan topografi, angin monsun, dan dinamika atmosfer lokal yang membuat dampak El Nino tidak pernah merata.

Apa Itu El Nino dan Mengapa Dampaknya Tidak Seragam?

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola sirkulasi atmosfer global. Dalam bahasa sederhana, El Nino ibarat seseorang yang memutar keran air panas di salah satu ujung kolam raksasa; panas itu mengubah arah arus angin dan uap air, sehingga hujan berpindah tempat. Di Indonesia, El Nino umumnya memicu kondisi lebih kering karena massa udara basah bergeser menjauh dari wilayah kita.

Namun, menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, efek El Nino 2026-2027 sangat bervariasi antarwilayah. Ada daerah yang tetap diguyur hujan, ada pula yang mengalami kekeringan ekstrem. Variasi ini terjadi karena El Nino hanyalah satu dari banyak faktor yang mengendalikan cuaca. Faktor lokal seperti bentuk permukaan bumi, arah angin musiman, dan kelembapan udara setempat bisa memperkuat atau justru meredam dampaknya.

Peran Topografi: Mengapa Bogor Menjadi "Payung Hujan" Alami?

Bogor terletak di cekungan yang dikelilingi pegunungan, termasuk Gunung Salak dan Gunung Gede-Pangrango. Formasi geografis ini menciptakan apa yang oleh para ahli meteorologi disebut efek orografis, yaitu proses pengangkatan massa udara ketika menabrak lereng gunung. Udara lembap dari dataran rendah dipaksa naik, mendingin, lalu mengembun menjadi awan hujan. Proses ini berlangsung hampir sepanjang tahun, bahkan ketika pasokan uap air dari laut berkurang akibat El Nino.

Selain itu, kawasan Bogor masih menyimpan tutupan vegetasi yang lebat. Hutan-hutan di sekitarnya berperan sebagai penjaga siklus air lokal melalui evapotranspirasi, yaitu penguapan air dari tanah dan tumbuhan. Uap air yang dihasilkan kembali memperkaya atmosfer setempat dan memicu hujan konvektif pada sore hari. Kombinasi topografi dan vegetasi inilah yang menjadikan Bogor relatif imun terhadap kekeringan El Nino.

Lamongan dan Wilayah Lain: Ketika El Nino Benar-Benar Terasa

Sebaliknya, Lamongan di Jawa Timur berada di dataran rendah dengan sedikit penghalang geografis. Wilayah ini lebih bergantung pada pasokan uap air dari angin monsun dan laut sekitarnya. Ketika El Nino menggeser pusat konveksi atmosfer menjauh dari Indonesia, pasokan uap air itu melemah drastis. Akibatnya, curah hujan turun jauh di bawah normal, sumur-sumur mengering, dan lahan pertanian mengalami gagal tanam.

Data historis menunjukkan pola serupa pada El Nino 2015 dan 2019. Saat itu, sebagian besar Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan bagian selatan Sumatra mengalami defisit hujan hingga 60 persen. Sementara itu, kawasan puncak Bogor dan sebagian Sumatra Barat tetap mencatat curah hujan harian yang signifikan. Perbedaan ini menegaskan bahwa El Nino bukan sekadar peristiwa global, melainkan interaksi kompleks antara skala besar dan skala lokal.

Implikasi bagi Pertanian, Air Bersih, dan Kebijakan Iklim

Bagi masyarakat awam, temuan ini memiliki arti praktis. Petani di daerah rawan kering seperti Lamongan perlu mulai mengadopsi varietas tanaman tahan kekeringan dan sistem irigasi hemat air. Pemerintah daerah juga dituntut menyusun peta kerentanan El Nino yang lebih detail, bukan hanya berdasarkan prakiraan nasional. Di sisi lain, daerah seperti Bogor tetap harus waspada terhadap risiko kebalikannya: hujan ekstrem yang dapat memicu banjir dan tanah longsor.

Erma Yulihastin menekankan pentingnya pendekatan berbasis data lokal. Model iklim global memang mampu memprediksi El Nino berbulan-bulan sebelumnya, tetapi resolusi spasialnya sering terlalu kasar untuk menggambarkan kondisi satu kabupaten. Di sinilah pengembangan model downscaling dan pemantauan radar cuaca menjadi krusial. Dengan teknologi ini, informasi iklim bisa lebih tepat sasaran dan membantu petani, pengelola air, serta pemerintah mengambil keputusan.

Kesimpulan: Satu Fenomena, Banyak Wajah

El Nino 2026-2027 kembali mengingatkan kita bahwa iklim tidak bekerja dengan pola seragam. Bogor tetap hujan karena dikaruniai topografi dan vegetasi yang mendukung pembentukan awan lokal. Lamongan kering karena posisinya lebih bergantung pada pasokan uap air dari laut yang melemah. Memahami perbedaan ini bukan hanya soal akademis, tetapi menjadi dasar bagi strategi adaptasi yang lebih adil dan efektif. Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah memprediksi El Nino, melainkan menerjemahkan prediksi itu menjadi tindakan nyata di lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User